Rabu, Maret 04, 2015

Patung sang Kakek, Andi Abdullah Bau Massepe,

Gubernur Resmikan Monumen Andi Abdullah Bau MassepeRabu,

4 Maret 2015 17:32 WIB Nurhaya Gubernur Resmikan Monumen Andi Abdullah Bau Massepe Monumen Patung Pahlawan Nasional Letnan Jenderal TRI Andi Abdullah Bau Massepe (FOTO/Dok)
"Andi Abdullah Bau Massepe adalah putra terbaik yang dimiliki Sulawesi Selatan yang berjuang di kota ini.


Makassar (ANTARA Sulsel) - Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo meresmikan Monumen Patung Pahlawan Nasional Letnan Jenderal TRI Andi Abdullah Bau Massepe pada rangkaian HUT ke 55 Kota Pare-pare, di Pare-pare, Rabu. "Andi Abdullah Bau Massepe adalah putra terbaik yang dimiliki Sulawesi Selatan yang berjuang di kota ini, Beliau telah mengorbankan jiwa raga, darah dan air mata, serta keluarga demi mewujudkan kemerdekaan bangsa ini, dan hasilnya kita nikmati sekarang," kata gubernur dalam sambutannya di hadapan para tamu undangan yang terdiri dari Muspida, tokoh masyarakat, ormas dan rumpun keluarga besar Andi Abdullah Bau Massepe, yang berjumlah sekitar 300 tamu undangan. Sementara, mewakili pihak keluarga besar Andi Abdullah Bau Massepe, H.A.Pamadengrukka Mappanyompa mengharapkan bahwa adanya patung monumen pahlawan nasional ini bisa menjadi pemahaman sejarah perjuangan bagi generasi muda serta pembelajaranagar kaum muda memiliki semangat juang yang sama seperti para pejuang terdahulu dalam memajukan pembangunan daerah ini kedepannya. "Andi Abdullah Bau Massepe bukanlah milik keluarga besar saja, bukan milik warga kota Parepare, dan juga Sulawesi Selatan saja namun miliki bangsa dan negara Republik Indonesia," ujar Pamadengrukka yang juga mantan Bupati Barru tersebut. Patung Pahlawan Nasional Mahaputra Adipradana Letjen TRI Andi Abdullah Bau Massepe ini, berdiri tegak dan gagah di jantung Kota Pare-pare, tepatnya Jl.Bau Massepe, Kecamatan Bacukiki Barat. Ide pembangunan patung pahlawan nasional A. Abdullah Bau Massepe ini sudah sejak lama diinisiasi oleh Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Pare-pare dan didukung penuh oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LVRI Provinsi Sulsel dan Sulawesi Barat (Sulbar) yakni Almarhum Brigjen TNI (Purn) H.A.Oddang Makka. Pada tahun 2005 bulan November bertepatan dengan hari pahlawan nasional dan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional oleh presiden RI kala itu Susilo Bambang Yudhoyono, beberapa tokoh masyarakat dan pengurus LVRI Kota Pare-pare dan Provinsi Sulselbar mengusulkan kepada pemerintah Walikota Pare-Pare pada masa itu H.Zain Katoe untuk mendirikan monumen patung pahlawan nasional Andi Abdullah Bau Massepe. Para inisiator ini melakukannya dengan tujuan agar generasi muda tidak melupakan sejarah perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang khususnya perjuangan mereka di Sulawesi Selatan. Monumen Patung ini dibuat oleh seniman patung nasional dari Yogkarta kelahiran Makassar, yakni Dicky Tjandra yang. Hadirnya monumen ini diharapkan menjadi ikon baru Kota Pare-pare dengan maksud untuk melestarikan nilai-nilai kejuangan yang telah dirintis oleh para pejuang terdahulu bangsa ini dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Dalam peresmian monumen ini, nampak hadir pada acara tersebut adalah Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, H.M.Roem, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM A.M.Yamin, Ketua DPD LVRI Sulselbar H.Bactiar, Danrem, dan Kapolsek serta jajaran Muspida Kota Pare-pare. Selaku tuan rumah sendiri adalah Wali Kota Pare-pare Taufan Pawe, SH dan Wakil Wali Kota Pare-pare Ir.Faisal A.Sapada,MM. Agus Setiawan Editor: Daniel COPYRIGHT © 2015

Minggu, Januari 11, 2015

Mengajak UMKM menerapan strategi pemasaran berbasis digital

Mengajak UMKM menerapan strategi pemasaran berbasis digital



Berawal dari keprihatinan saya bahwa masih sedikit pelaku UMKM di Sulawesi Selatan dalam menggunakan internet dalam aktifitas pemasaran mereka. Tercetuslah niat saya mengadakan seminar tentang bagaiaman pelau UMKM dapat memanfaatkan internet khususnya social media dalam aktifitas pemasarannya.  Biar lebih sedikit kesannyha serius saya beri nama UMKM Marketing dan Innovation Centre. Mudah-mudahan kelak akan menjadi lembaga yang profesional dengan visi menjadikan pelaku UMKM aware dalam penggunaan social media sebagai salah satu strategi pemasarannya.
Terbiasa sebagai seorang aktifis semasa kuliah di jogja. Terutama di STIE YKPN dan MMUGM saya pun melakukan take action, sehingga terselenggaralah seminar dengan tema Strategi pemasaran UMKM berbasis Internet (social media dan PR aprroach). Pada tanggal 10 Januari 2015, bertempat di Aula Polinas LP3I di Makasasr.
Pesertanya lumayan ada sekitar 100 peserta terdiri dari pelaku UMKM dan beberapa mahasiswa ku padahal saya hanya butuh kurtang lebih 10 hari persiapan mulai ide itu dikembangkan sampai dilaksanakan.
Saya pun di support oleh kepala dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Selatan, Bapak A.M.Yamin. Dimana dua hari sebelum acara pelaksanaan saya audiensi dengan Beliau. Salah satu bentuk dukungan adalah mengirimkan peserta UMKM binaanya untuk ikut semiinar tersebut.

bersama Kepala Dinas Koperasi dan
UMKM Prov Sulsel
Salah satu yang menjadi poin penting dari seminar ini saya menghadirkan pelaku yang berkecimpung didunia social media. Mansur Rahim, seorang penggiat social media dan blogger. Saya meminta untuk berbicara tentang social media khususnya twiteer dan facebook dijadikan senjata ampuh untuk aktifitas pemasaran.
Nah biar tambah keren lagi, saya minta saudara Tedi Hendratno, seorang anak muda yang aktifitas sehariannya adalah Even Organizer dan Public Relation Agency. Ilmu yang diajarkannya adalah bagiamana aktifitas Public Relation itu diterapkan bagi UMKM dengan pemanfaat Social Media.

Bagi pelaku UMKM sebenarnya dua hal tersebut adalah tidak memerlukan banyak biaya. Pemanfaatan social media dan PR adalah aktifitas yang sekarang digunakan perusahan besar dalam promosi produk dan peningkatan strategy Brand, yang istilah orang pemasarn “low cost Hight Impact”.

Salah satu strategi pemasaran adalah pelaku UMKM dapat membuat akun twiter sebagai chanel promosi dan distribusi produknya. Selain itu dengan twiteer juga dapat dimanfaatkan UMKM untuk mengelola relatiionship dengan costumer, dan sarana komunikasi interaktif dengan pasar. Hal itu sangat efektif karena tidak perlu mengeluarkan budget khusus dan besar.

Saya juga ingin berbagi, bila tertarik dengan materi yang saya bawakan dapat menguduhnya disini. Saya menggunakan slide share.

Saya berharap kedepan, banyak pelaku UMKM yang menggunakan social media untuk aktifitas pemasarannya. Saya juga lagi mengembangak riset tentang seberapa besar pelaku UMKM khususnya di Sulawesi Selatan memanfaatkan social media untuk aktifitas pemasarannya. Dan Apakah ini memebri konstribusi yang positif terhadap penjualan (Sales), Brand Awarness, dan loyalitas sotumer mereka.

Sekian dulu. 

Salam marketing. 

Minggu, Juli 06, 2014

Memenangkan pilpres dengan mindshare


Akhirnya kita berada diujung hari sebelum memasuki pemilhan umum president yang akan berlangsung pada tanggal 9 Juli. Kegiatan kampanye telah menyita waktu dan energi berakhir sudah. Para tim sukses dan relawan dari kedua kubu telah bekerja keras semaksimal dan secerdas mungkin agar calon yang mereka dukung dapat dipilih oleh masyarakat dan keluar sebagai president dan wakil presiden ke 7 (tujuh) negara kita. Para relawan ini telah menjadi agen marketer “dadakan” agar Capres dan Cawapres mereka terpilih dan menjadi pemenang dalam suatu “pasar” yang kita namai sebagai pemilu.
Hanya ada dua produk atau kandidat yang akan dipilih oleh konsumen Indonesia pada pemilu kali ini. Mereka adalah nomor urut satu Prabowo-Hatta dan nomor urut dua Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Kedua kandidat merupakan putra terbaik bangsa yang diyakini dapat memajukan Indonesia lebih baik. Mereka adalah pilihan dari partai politik yang ada untuk ditawarkan kepada rakyat Indonesia untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden.
Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa ilmu pemasaran telah banyak diadposi dalam praktek perpolitikan di tanah air. Ini telah berlangsung kurang lebih 10 tahun lalu tatkala negara kita mulai mengenal pemilihan langsung. Perpaduan ilmu marketing dan ilmu politik melahirkan bidang pengetahuan baru namanya marketing politik.  Intinya sebenarnya adalah menerapkan konsep-konsep pemasaran dalam ranah politik.
Al-ries dalam bukunya Positioning: The Battle for Your Mind terbit pada tahun 2000. Salah satu dari hukum tentang pemasaran yang diadopsi dalam praktek perpolitikan adalah bagaimana memenangkan pasar dengan mengubah persepsi konsumen atau pemilih.
Al Ries, mengatakan bahwa pertempuran pemasaran pada intinya adalah di benak (mind) konsumen dengan mempengaruhi persepsi mereka, bukan pada produknya. “Marketing is not a battle of products, it’s a battle of perception”.
Konsumen akan memilih produk kita bila konsumen telah memiliki persepsi dan keyakinan (belief) positif akan produk tersebut dibenak mereka masing-masing. Dengan strategi positioning yang tepat, bahwa produk ini adalah yang terbaik. Didukung dengan program komunikasi pemsaran yang efektif. Walaupun nantinya banyak pilihan produk yang dijumpai konsumen pada rak-rak minimarket, ataupun di gerai-gerai, mereka tidak akan berpaling ke produk pilihannya.
Sejatinya para tim sukses dan relawan kedua pasangan hendaknya telah lebih dahulu mempengaruhi benak pemilih terhadap kandidat jauh hari sebelum pemilu itu berlangsung. Setiap pemilih (masyarakat) seharusnya telah memiliki pilihan capres dan Cawapres sebelum berangkat ke TPU (Tempat Pemilihan Umum) dan melakukan pilihan di kotak suara. Walaupun nantinya pemilu masih mendapatkan serangan fajar atau bentuk politik uang lainnya menjelang pemilihan berlangsung. Bilai tugas ini sukses dilakukan oleh tim sukses dan relawan maka dapat dikatakan aktifitas kampanyer mereka berhasil.
Melansir riset yang dilakukan oleh lembaga riset PolMark Indonesia ( 7 juli 2014) bahwa sejauh mana politik uang bagi masyarakat Indonesia mempengaruhi pilihan mereka akan kandidat presiden. Hasilnya bahwa sebanyak 42,5% pemilih menolak pemberian uang dari kadidat. Lalu 40,6% pemilih mengaku akan menerima uang dari kandidat, tetapi tidak akan memilih yang memberi. Hanya 8,7% pemilih yang mengaku akan menerima uang kandidat dan memilih sang pemberi.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa rakyat telah dewasa dalam berpolitik. Untuk kasus pemelihan presiden tidak bisa lagi dipengaruhi dengan hanya politik uang.
Adanya aktifitas black-campaign dari masing-masing kubu dapat kita pahami sebagai salah satu usaha mengubah persepsi dan pikiran (mind) masyarakat agar memiliki penilaian negatif terhadap calon capres-cawapres tertentu. Namun sangat disayangkan cara-cara yang dilakukan sudah diluar nilai-nilai etis dan tidak terpuji.
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan para tim sukses merebut mind share para pemilih di tanah air, bisa kita lihat berdasarkan survey-survey yang dilakukan beberapa lembaga riset. Walaupun banyak yang tidak mempercayai, dan terlepas dari kepentingan dari lembaga riset tersebut, namun tidak bisa dipungkiri bahwa survey tersebut dapat dijadikan baromoter terhadap kondisi perpolitikan saat ini.
Berdasarkan dari hasil riset kecil-kecilan dan kurang ilmiah ini,  saya menggunakan penelusuran mesin pencari situs google dan berita yang diliris media nasional baik offline dan on-line, saya tetapkan ada sepuluh lembaga survei yang kerap mempublikasikan survei Pilpres, dan mengambil survey dua bulan terakhir dari mereka. Dua bulan terakhir dipilih karena merupakan masa kampanye dan tidak lagi menggunakan survey popularitas sebagaimana sebelum. Kemudian, kita pilih lembaga survey yang melakukan riset dengan skala nasional dan kredibilitasnya masih dapat kita percaya. Selain itu kita melihat juga sejauh mana metode penelitian dan survey yang mereka gunakan yang dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Hasilnya dirangkum sebagai berikut;  Pertama; dari PollMark Indonesia (7/7), Hasil dari riset tersebut mengatakan bahwa 44,6 % pemilih nomor urut dua (2) Jokowi dan JK, dan sebanyak 41 % kepada nomor urut satu (1) pasangan Prabowo Hatta sisanya 14.4 % masih mengambang. Kedua; Publikasi survei SSSG atau Soegeng Sarjadi School of Government (5/6) merilis hasil yang mana Prabowo-Hatta memperoleh 28,35% sedangkan Jokowi-JK sebesar 42,65% dan suara mengambang 29%.  Ketiga; hasil survei Populi Center yang dipublikasikan pada (4/6) menyebutkan Prabowo-Hatta mengumpulkan 36,9% sedangkan Jokowi-JK sebesar 47,5% dan suara yang masih mengambang 14,4%. Ke-empat: Hasil survei ARC (Alvara Research Center) terpublikasi (5/6) menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 29% dan Jokowi-JK mendapatkan 38,8% serta suara mengambang 32,3%. Ke-lima. Lembaga survei PDB (Pusat Data Bersatu) menyebutkan (14/6) Prabowo-Hatta mendapatkan 31,8% dan Jokowi-JK mendapatkan 29,9% sedangkan suara mengambang 17,2% dan suara yang masih rahasia sebesar 19,4%. Ke-enam; Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 38,7% dan Jokowi-JK mendapatkan 45% serta suara mengambangg 14,4% (15/6).
Ketujuh; Cyrus Network menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 41,1% sedangkan Jokowi-JK mendapatkan 53,6% dan suara mengambang 5% (10/6). Ke-delapan: Hasil survei Lembaga Survei Nasional atau LSN (12/6) menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 46,6% dan Jokowi-JK mendapatkan 38,8% sedangkan suara mengambang 14,9%. Kesembilan; Survei Pol Tracking Institute menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 41,1% dan Jokowi-JK mendapatkan 48,05%, sedangkan suara mengambang 10,4% (15.6). Kesepuluh;  survei Indo Barometer menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 36,5% dan Jokowi-JK mendapatkan 49,9%, suara mengambang 11% dan suara yang masih rahasia sebesar 1,5% (17/6).
Dengan demikian dari sepuluh lembaga survei itu hanya LSN (lembaga Surevi Nasional) dan PDB (Pusat Data bersatu)menempatkan Prabowo-Hatta sebagai pemenang, sedangkan delapan lembaga survei lainnya menempatkan Jokowi-JK tetap teratas.
Dari hasil survey ini membuktikan kesuksesan tim sukses dan relawan pasangan nomor urut 2 (dua) berhasil memenangkan mind share dalam pasar politik di Indonesia dengan kerja-kerja kampanye mereka selama ini. Lembaga survey manakah yang benar? Apakah masih dapat berubah? Kita tunggu hasilnya beberapa hari kemudian.
Akhirnya kita berada diujung hari sebelum memasuki pemilhan umum president yang akan berlangsung pada tanggal 9 Juli. Kegiatan kampanye telah menyita waktu dan energi berakhir sudah. Para tim sukses dan relawan dari kedua kubu telah bekerja keras semaksimal dan secerdas mungkin agar calon yang mereka dukung dapat dipilih oleh masyarakat dan keluar sebagai president dan wakil presiden ke 7 (tujuh) negara kita. Para relawan ini telah menjadi agen marketer “dadakan” agar Capres dan Cawapres mereka terpilih dan menjadi pemenang dalam suatu “pasar” yang kita namai sebagai pemilu.
Hanya ada dua produk atau kandidat yang akan dipilih oleh konsumen Indonesia pada pemilu kali ini. Mereka adalah nomor urut satu Prabowo-Hatta dan nomor urut dua Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Kedua kandidat merupakan putra terbaik bangsa yang diyakini dapat memajukan Indonesia lebih baik. Mereka adalah pilihan dari partai politik yang ada untuk ditawarkan kepada rakyat Indonesia untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden.
Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa ilmu pemasaran telah banyak diadposi dalam praktek perpolitikan di tanah air. Ini telah berlangsung kurang lebih 10 tahun lalu tatkala negara kita mulai mengenal pemilihan langsung. Perpaduan ilmu marketing dan ilmu politik melahirkan bidang pengetahuan baru namanya marketing politik.  Intinya sebenarnya adalah menerapkan konsep-konsep pemasaran dalam ranah politik.
Al-ries dalam bukunya Positioning: The Battle for Your Mind terbit pada tahun 2000. Salah satu dari hukum tentang pemasaran yang diadopsi dalam praktek perpolitikan adalah bagaimana memenangkan pasar dengan mengubah persepsi konsumen atau pemilih.
Al Ries, mengatakan bahwa pertempuran pemasaran pada intinya adalah di benak (mind) konsumen dengan mempengaruhi persepsi mereka, bukan pada produknya. “Marketing is not a battle of products, it’s a battle of perception”.
Konsumen akan memilih produk kita bila konsumen telah memiliki persepsi dan keyakinan (belief) positif akan produk tersebut dibenak mereka masing-masing. Dengan strategi positioning yang tepat, bahwa produk ini adalah yang terbaik. Didukung dengan program komunikasi pemsaran yang efektif. Walaupun nantinya banyak pilihan produk yang dijumpai konsumen pada rak-rak minimarket, ataupun di gerai-gerai, mereka tidak akan berpaling ke produk pilihannya.
Sejatinya para tim sukses dan relawan kedua pasangan hendaknya telah lebih dahulu mempengaruhi benak pemilih terhadap kandidat jauh hari sebelum pemilu itu berlangsung. Setiap pemilih (masyarakat) seharusnya telah memiliki pilihan capres dan Cawapres sebelum berangkat ke TPU (Tempat Pemilihan Umum) dan melakukan pilihan di kotak suara. Walaupun nantinya pemilu masih mendapatkan serangan fajar atau bentuk politik uang lainnya menjelang pemilihan berlangsung. Bilai tugas ini sukses dilakukan oleh tim sukses dan relawan maka dapat dikatakan aktifitas kampanyer mereka berhasil.
Melansir riset yang dilakukan oleh lembaga riset PolMark Indonesia ( 7 juli 2014) bahwa sejauh mana politik uang bagi masyarakat Indonesia mempengaruhi pilihan mereka akan kandidat presiden. Hasilnya bahwa sebanyak 42,5% pemilih menolak pemberian uang dari kadidat. Lalu 40,6% pemilih mengaku akan menerima uang dari kandidat, tetapi tidak akan memilih yang memberi. Hanya 8,7% pemilih yang mengaku akan menerima uang kandidat dan memilih sang pemberi.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa rakyat telah dewasa dalam berpolitik. Untuk kasus pemelihan presiden tidak bisa lagi dipengaruhi dengan hanya politik uang.
Adanya aktifitas black-campaign dari masing-masing kubu dapat kita pahami sebagai salah satu usaha mengubah persepsi dan pikiran (mind) masyarakat agar memiliki penilaian negatif terhadap calon capres-cawapres tertentu. Namun sangat disayangkan cara-cara yang dilakukan sudah diluar nilai-nilai etis dan tidak terpuji.
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan para tim sukses merebut mind share para pemilih di tanah air, bisa kita lihat berdasarkan survey-survey yang dilakukan beberapa lembaga riset. Walaupun banyak yang tidak mempercayai, dan terlepas dari kepentingan dari lembaga riset tersebut, namun tidak bisa dipungkiri bahwa survey tersebut dapat dijadikan baromoter terhadap kondisi perpolitikan saat ini.
Berdasarkan dari hasil riset kecil-kecilan dan kurang ilmiah ini,  saya menggunakan penelusuran mesin pencari situs google dan berita yang diliris media nasional baik offline dan on-line, saya tetapkan ada sepuluh lembaga survei yang kerap mempublikasikan survei Pilpres, dan mengambil survey dua bulan terakhir dari mereka. Dua bulan terakhir dipilih karena merupakan masa kampanye dan tidak lagi menggunakan survey popularitas sebagaimana sebelum. Kemudian, kita pilih lembaga survey yang melakukan riset dengan skala nasional dan kredibilitasnya masih dapat kita percaya. Selain itu kita melihat juga sejauh mana metode penelitian dan survey yang mereka gunakan yang dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Hasilnya dirangkum sebagai berikut;  Pertama; dari PollMark Indonesia (7/7), Hasil dari riset tersebut mengatakan bahwa 44,6 % pemilih nomor urut dua (2) Jokowi dan JK, dan sebanyak 41 % kepada nomor urut satu (1) pasangan Prabowo Hatta sisanya 14.4 % masih mengambang. Kedua; Publikasi survei SSSG atau Soegeng Sarjadi School of Government (5/6) merilis hasil yang mana Prabowo-Hatta memperoleh 28,35% sedangkan Jokowi-JK sebesar 42,65% dan suara mengambang 29%.  Ketiga; hasil survei Populi Center yang dipublikasikan pada (4/6) menyebutkan Prabowo-Hatta mengumpulkan 36,9% sedangkan Jokowi-JK sebesar 47,5% dan suara yang masih mengambang 14,4%. Ke-empat: Hasil survei ARC (Alvara Research Center) terpublikasi (5/6) menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 29% dan Jokowi-JK mendapatkan 38,8% serta suara mengambang 32,3%. Ke-lima. Lembaga survei PDB (Pusat Data Bersatu) menyebutkan (14/6) Prabowo-Hatta mendapatkan 31,8% dan Jokowi-JK mendapatkan 29,9% sedangkan suara mengambang 17,2% dan suara yang masih rahasia sebesar 19,4%. Ke-enam; Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 38,7% dan Jokowi-JK mendapatkan 45% serta suara mengambangg 14,4% (15/6).
Ketujuh; Cyrus Network menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 41,1% sedangkan Jokowi-JK mendapatkan 53,6% dan suara mengambang 5% (10/6). Ke-delapan: Hasil survei Lembaga Survei Nasional atau LSN (12/6) menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 46,6% dan Jokowi-JK mendapatkan 38,8% sedangkan suara mengambang 14,9%. Kesembilan; Survei Pol Tracking Institute menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 41,1% dan Jokowi-JK mendapatkan 48,05%, sedangkan suara mengambang 10,4% (15.6). Kesepuluh;  survei Indo Barometer menyebutkan Prabowo-Hatta mendapatkan 36,5% dan Jokowi-JK mendapatkan 49,9%, suara mengambang 11% dan suara yang masih rahasia sebesar 1,5% (17/6).
Dengan demikian dari sepuluh lembaga survei itu hanya LSN (lembaga Surevi Nasional) dan PDB (Pusat Data bersatu)menempatkan Prabowo-Hatta sebagai pemenang, sedangkan delapan lembaga survei lainnya menempatkan Jokowi-JK tetap teratas.
Dari hasil survey ini membuktikan kesuksesan tim sukses dan relawan pasangan nomor urut 2 (dua) berhasil memenangkan mind share dalam pasar politik di Indonesia dengan kerja-kerja kampanye mereka selama ini. Lembaga survey manakah yang benar? Apakah masih dapat berubah? Kita tunggu hasilnya beberapa hari kemudian.
Penulis:
A.M.Nur Bau Massepe
Dosen Tetap Fakultas Ekonomi & Bisnis

Sabtu, Juni 01, 2013

Kerja sebagai sumber kebahagiaan


Tersebutlah 3 orang tukang batu yang bekerja berdampingan membangun sebuah dinding yang sama. Ketika salah satunya ditanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, si tukang batu menjawab, sedang membangun dinding. Yang kedua menjawab, sedang membangun rumah (house). Sementara yang terakhir menyatakan bahwa dia sedang membangun sebuah tempat tinggal (home) agar keluarga muda yang akan menempatinya dapat hidup dengan nyaman dan penuh kebahagiaan.
Jika dilihat dengan kasat mata, tampak bahwa ketiga tukang batu itu sedang mengerjakan pekerjaan yang sama: menata dan melekatkan bata demi bata dengan semen. Tapi, jika kita lihat dari cara mereka memberi makna terhadap apa yang mereka kerjakan, kita akan melihat betapa berbedanya makna yang mereka berikan kepada pekerjaan mereka. Yang pertama tak melihat pekerjaannya kecuali semata-mata sebagai gerakan fisik, yang bisa juga dikerjakan oleh hewan atau robot. Yang kedua sudah menyadarinya sebagai sebuah pekerjaan kreatif. Tapi, makna maksimum telah diberikan oleh tukang batu ketiga ketika dia melihat pekerjaannya sebagai wujud kecintaannya kepada orang lain, yakni dalam bentuk keinginan memberikan tempat tinggal yang nyaman dan membahagiakan bagi calon penghuninya.
Maka kita pun dengan mudah dapat meramalkan, manakah di antara ketiga tukang batu itu yang akan melahirkan performa yang maksimum, baik secara kuantitaif maupun kualitatif?
Tak akan ada yang membantah bahwa hidup di dunia terkait dengan kesejahteraan fisik dan materi, karena memang Tuhan telah merancang manusia sedemikian dengan balutan fisik sedemikian, sehingga dia hanya bisasurvive dengan mengoperasikan aspek fisiknya itu. Tapi, tak sulit juga untuk sepakat bahwa pada puncaknya kebahagiaan bersifat ruhani. Kebahagiaan memang bukan sekadar kenikmatan fisik, melainkan ketenteraman dan kepuasan hati. Karena itu, secara logis bisa dikatakan bahwa kebahagiaan tak mungkin bisa diraih dengan berhenti pada memuasi kebutuhan fisik kita. Mengapa? Karena, lebih banyak kebutuhan ruhani kita yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kebutuhan fisik kita. Bahkan, lebih sering kebutuhan ruhani atau hati kitatak selalu sejalan dengan kebutuhan fisik, malah tak jarang bertentangan. Misal, kebutuhan mencinta. Dalam hal seperti ini, kita justru mendapatkan kebahagiaan (ruhani) dengan memberi kepada orang-orang yang kita cintai, bukan justru menuntut dan mengambil darinya demi kepuasan egoistik kita. Kalau pun ada kaitannya, makanan bagi ruhani atau hati kita adalah makna yang bisa kita saring dari keterpenuhan kebutuhan fisik kita, dan bukan kebutuhan fisik itu sendiri. Memang, baik terkait dengan kebutuhan fisik maupun kebutuhan ruhani, kebahagiaan hidup manusia berkait dengan produksi makna dalam hidupnya, yakni yang positif atau sejalan dengan kebutuhan ruhaninya.
Sebagai suatu ilustrasi, kebutuhan fisik kita menuntut kesuksesan. Yakni keterpenuhan kebutuhan-kebutuhan kita akan kekayaan, popularitas, atau kekuasaan. Tapi, betapa berlimpah contoh yang di dalamnya seseorang justru mengalami kesengsaraan ketika mendapatkan semuanya itu? Penyebabnya tentu saja ketakmampuan unsur-unsur kesuksesan hidup itu untuk dapat menyuplai makna (yang positif) yang merupakan kebutuhan ruhani kita. Maka, betapa banyak contoh orang-orang yang tampak telah memenuhi berbagai kebutuhan kesuksesan ini tapi hidupnya justru berakhir dengan depresi, bahkan bunuh diri?
Dengan demikian, mudah kita simpulkan bahwa kebahagiaan kita terletak dalam keberhasilan kita mendapatkan sebanyak mungkin makna positif dari hidup dan kehidupan kita, dari apa saja yang kita kerjakan. Defisit makna hidup, sebaliknya, merupakan sumber kesengsaraan. Tak terkecuali dalam dunia kerja. Kerja, pada puncaknya, harus menjadi sumber makna hidup. Lebih dari itu, pekerjaan yang bermakna akan juga melahirkan kecintaan serta semangat  (passion) kepada apa saja yang kita kerjakan. Ini saja sudah merupakan suatu sumber kebahagiaan kita. Pada gilirannya, bekerja dengan landasan cinta akan mendorong kita untuk menumpahkan seluruh daya upaya kita, sehingga apa pun yang kita lahirkan dari kerja kita akan melahirkan karya-karya berkualitas. Pada puncaknya, kerja yang penuh makna seperti ini, bukan saja akan menjadi sumber kebahagiaan hidup secara ruhaniah, melainkan juga akan menjadi sumber kesuksesan duniawi.
Pertanyaannya kemudian, kerja seperti apa yang bisa menjadi sumber makna hidup positif? Al-Qur’an mengajarkan:
“Dan tuntutlah (kebahagiaan) hidup akhirat dalam apa-apa yang dikaruniakan Allah kepadamu. Tapi jangan juga lupakan bagianmu dari dunia.”
Melalui ayat ini, secara eksplisit dan implisit Allah memerintahkan agar kita bekerja sebaik-baiknya untuk mengumpulkan karunianya, tapi hendaknya itu semua diarahkan tidak hanya untuk dunia, melainkan untuk akhirat. Artinya, beri surplus makna pada kegiatan bekerja kita. Selain untuk mengambil jatah-adil kita dari kehidupan dunia, kita arahkan semua kesibukan itu untuk akhirat. Dan, pada saat berupaya memenuhi kebutuhan ukhrawi itu, sesungguhnya kita sekaligus sedang berusaha memenuhi kebutuhan ruhani kita –yang, pada saat yang sama, adalah sumber kebahagiaan sejati kita dalam kehidupan di dunia ini.
Allah lebih lanjut mengajarkan tentang bagaimana sebaiknya kita melihat kegiatan bekerja atau berbisnis:
“Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian dari yang telah Kami rezekikan kepada mereka, baik secara sembunyi atau terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (tijarah lan tabur).”
Dari ayat ini, kita bisa merasakan bahwa Allah hendak mengajarkan kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita memberi makna pada kegiatan bisnis dan bekerja. Betapa pun fungsi berdagang dan bekerja adalah untuk mencari harta, tapi semuanya itu hanya akan bermakna (meaningful) jika didasarkan pada pengenalan yang benar akan hakikat hidup, dibubuhi warna pengembangan dan pemeliharaan hubungan spiritual kita dengan Tuhan, dan semangat filantropisme.
Pada analisis lebih lanjut, inilah kiranya yang dituju oleh kelanjutan ayat tersebut :
“ ... yakni, perdagangan yang akan) menyempurnakan bagi mereka pahala mereka dan menambah bagi mereka karunia (fadhl)-Nya. ” (QS 35: 29)
Fadhl dalam peristilahan Al-Qur’an berarti kejayaan, kekuasaan, kepandaian, dan kemakmuran duniawi, sebagaimana tampak jelas dalam konteks kehidupan Nabi Sulaiman yang menyebut dirinya sebagai telah mendapat “karunia Tuhanku”. Pada, saat yang sama, tentu kesemuanya itu memiliki makna spiritual, terkait dengan misi kenabian Sulaiman.
Ditempat yang lain, Allah memfirmankan:
“Wahai orang yang beriman,maukah kutunjukkan kalian pada satu perdagangan   yang dapat menyelamatkan kalian dari kesengsaraan yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu …maka Allah akan mengampuni dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga…Itulah keuntungan (fawz) yang besar.”
Di sini Allah menunjukkan kepada kita makna sejati kegiatan bekerja dan berbisnis, yakni memperoleh keuntungan atau kesuksesan yang besar dan, pada puncaknya, kebebasan dari kesengsaraan. Yakni, dengan cara menjadikan keridhaan Tuhan sebagai tujuan kita, melalui bekerjakeras dan bersungguh-sungguh dalm beramal shalih dengan harta dan jiwa kita di jalan-Nya. Dengan kata lain, dalam rangka menunaikan fungsi kekhalifahan kita untuk menebarkan rahmat bagi sarwa alam semesta. Ya, hanya dengan cara mengaitkan seluruh aktivitas kita dengan Tuhan, maka kegiatan bekerja akan benar-benar menjadi sumber makna positif bagi hati atau ruhani kita. Dan hanya dengan begini bekerja akan dapat menjadi sumber kebahagiaan kita.
sumber: mizan.com (kolom haidar baqir)

Selasa, April 30, 2013

Kunjungan industri ke pabrik Terigu

Add caption
Melakukan perkuliahan diluar rutinitas di kelas sangatlah mengasyikkan. Setidaknya itu yang dilakukan pada kelas pemasaran lanjutan di fakultas ekonomi & bisnis Universitas Hasanuddin pada hari senin tanggaL 29 April 2013. Pada hari itu mereka berkunjung ke salah satu perusahaan pembuat tepung (pabrik tepung) ke empat (4) terbesar didunia. Perusahaan tersebut adalah PT Eastern Pearl Flour Mills (PT EPFM) atau yang dulu dikenal dengan berdikari.
Hadir yang mewakili dari FEB UNHAS adalah Prof.Dr.Rahman Kadir, SE.,Msi selaku dosen pengampuh mata kuliah dan A.M.Nur Bau Massepe, SE.,MM beserta 25 (dua puluh lima) mahasiswa kelas pemasaran lanjutan.
Dalam sambutannya Pak Kiky atau nama lengkapnya Muammar Muhayang selaku GA & Indutrial Relationship Manager PT EPFM, mengatakan sangat senang dengan kunjungan teman-teman dari UNHAS, dan berbagi ilmu pengatahuan khususnya dibidang bisnis dan pemasaran. Lebih lanjut beliau mengemukakan antara seorang akademisi (ilmuan) memiliki perbedaan mendasar dengan praktisi (dirinya-red), perbedaan itu terutama dalam memahami akan suatu konstruk pengetahuan. Bila dikampus kita diajarkan teori-teori yang sudah ada, tetapi begitu di dunia nyata dengan praktek dan pengalaman langsung yang telah dilakukan barulah kita menyadai bahwa ini lah yang dimaksud dengan teori yang ada di kuliah. Adanya pemahaman antara dua pendekatan ini akan menambah pemahaman yang lebih baik akan suatu pengetahuan.
Dalam diskusi ini terkuak bahwa bisnis di industri tepung terigu sangatlah besar. Pada pasar domestic saja masih akan bertumbuh. Ini di tunjang dengan program pemerintah yang menggalakan untuk menganti nasi (beras) dengan makanan selain nasi seperti gandung, jagung dan lainnya sebagai makanan utama.
Dari data yang dipaparkan bahwa permintaan ekspor pun dari tahun makin meningkat, untuk permintaan domestic (Indonesia) produksi tepung terigu tahun ini (2013) mencapai 7 juta ton sementara permintaan tahun ini sebesar 6 juta ton. Belum permintaan ekspor yang tiap tahunnya juga cukup besar.
Pak Kiky juga mengharapkan dari kalangan akademis dapat berkolaborasi dengan pt/epfm untuk join riset dan melakukan penelitian khususnya dalam indutri makan (terigu). Riset-riset yang dibutuhkan khususnya dibidang pemasaran dan bisnis seperti perilaku konsumen dalam komsumsi tepung.
Pada kesempatan kuliah kunjungan industry ini juga mahasiswa semapt juga diajak keliling pabrik. Melihat bagaimana proses pembuatan tepung terigu yang bahan bakunya dari gandum tersebut. Kemudian mengunjungi ruangan panel control dimana ruangan yang mengontrol segala aktifitas proses produksi yang ada dipabrik secara elektronis. (maspepeng)
 
 
 
 
 
 
 
 

 

 
 
 

Rabu, Januari 23, 2013

Private Entrepreneur



Suatu malam di Amsterdam. Angin musim panas menyapu lembut wajah saya. Malam itu Ronie mengajak bercengkerama di kawasan lampu merah Zeedijk. "Kijk" ujar Ronie seraya menunjuk ke jendela rumah bertingkat. Seorang perempuan muda berbusana mencolok duduk di depan jendela dengan gorden dan lampu merah temaram. "Senyumnya menggoda ya?" lanjut Belanda Indo anak bekas Administrateur Pabrik Gula Padokan, Yogykarta itu. "Zij is ... weet je? Tapi, yang sana itu lain, Hans," lanjut Ronie seraya sedikit menengadah menatap wanita setengah baya yang sedang merenda. "Lain?" tanya saya. Teman saya itu tertawa. "Ia wanita baik-baik. Yang membedakan, lampunya yang lebih terang," jelasnya lancar.

Saya teringat kalimat di sebuah buku tentang Amsterdam. Amsterdam`s ladies of the night are "private entrepreneurs", each sitting in the front window of her own little flat. Para wirausahawati Amsterdam itu menjajakan jasa di dua sentra: Zeedijk dan Wallatjes, atau "Tembok-tembok Kecil" -- nama yang berasal dari dua kanal: Oudezijds Voorburgwal dan Oudezijds Achterburgwal.

Para private entrepreneur Amsterdam bisa dibilang menikmati status sosial yang tak membuat kaum lelaki malu mencari angin, bahkan ber-short stay di kawasan operasi mereka. Orang Belanda menganggap mampir ke pelacuran sebagai bentuk normal relaksasi.

"Begitu, Ron?" tanya saya yang dijawab dengan kerlingan mata penuh arti. "Semacam gezeligheid, Hans," lanjutnya. "Kiya-kiya atau istilahmu mat-matan," tuturnya. "Ah, mat-matan saya kan menikmati suara emas Nyi Tjondrolukito seraya nyruput teh panas-manis-kental ramuan Pak Rebo Bugisan," saya mencoba mengajak Ronie ke goede tijd awal 1950-an. "Atau, mengobrol dalam bahasa Jawa di depan Hotel The Americain," sambung Ronie.

Kesibukan dan kerja rutin beberapa tahun terakhir, menyebabkan saya putus hubungan dengan Ronie. Ketika membaca tulisan Kantor Berita DPA seputar profesi di kawasan lampu merah Belanda, saya tiba-tiba teringat lelaki sepantaran saya itu. Jajak pendapat yang baru-baru ini diselenggarakan di Belanda mengungkapkan, 55% dari 2.600 responden pria dewasa menganggap kunjungan ke bordil sangat dapat diterima. Selain itu, 80% responden menganggap prostitusi sebagaimana pekerjaan profesi lain, selama tanpa paksaan.

Hasil jajak pendapat yang dianggap suara rakyat itu, mendorong parlemen Belanda mencabut larangan beroperasinya rumah-rumah pelacuran, dan mengesahkan peraturan penggantinya. Dibutuhkan waktu 25 tahun untuk mencabut larangan aneh itu. Peraturan baru menetapkan, antara lain, pekerja seks harus berumur minimal 18 tahun. Pemilik bordil diancam hukuman penjara 6 tahun, bila mempekerjakan pekerja seks di bawah umur. Begitu juga, konsumen yang melangganinya.

Para mucikari kini kekurangan stok barang dagangan. Mereka lalu menyebar sejumlah pemandu bakat ke Spanyol dan Skandinavia, mengimpor calon wirausahawati. Para heart hunter yang mengunjungi negara-negara Skandinavia kecewa berat, karena sebagian besar cewek yang mereka temui ternyata hanya penjaja jalanan, dan pecandu obat. Mereka juga kaget mendengar harga yang diminta gadis-gadis Denmark. "Sudah tidak kinyis-kinyis, malah pasang harga 120 guilder (sekitar US$ 70). Kelewat mahal buat orang Belanda," keluh sang perekrut seraya mengisyaratkan, sifat kelewat hemat orang Belanda tetap berlaku dalam transaksi esek-esek ini.

Oleh
Supiyo
Majalah SWA

Minggu, Januari 20, 2013

Hantu hantu Manajemen



Di sebuah perusahaan Jepang yang mengundang saya sebagai nara sumber, seorang eksekutif puncaknya sempat berargumen lama tentang sinyalemen yang saya sebut dengan berfikir ala kaca spion. Berjalan ke depan namun senantiasa melihat ke belakang.
Saya bisa memaklumi, kalau banyak rekan dari Jepang yang tidak setuju dengan hal terakhir. Secara lebih khusus, karena mereka sudah memiliki tradisi yang lama dan panjang tentang kegemaran mengutak-atik data yang telah lewat. Jangankan mengambil keputusan, bermain golf saja mereka disertai dengan data-data score cards masa lalu. Dalam bingkai berfikir ala kaca spion ini, satu-satunya cara untuk bisa hidup di hari ini, dan selamat di hari esok adalah dengan jalan mempelajari apa yang sudah lewat.

Ini semua mengingatkan saya, pada keyakinan-keyakinan yang ditanamkan secara berlebihan oleh kaum empiris dalam ilmu pengetahuan. Manajemen, melalui sejumlah tokohnya seperti Taylor yang menciptakan scientific management, juga terkena sindroma kaca spion. Kelompok Aston yang menjadi salah satu cikal bakal pendekatatan kontingensi - yang memiliki banyak sekali penganut sampai sekarang dalam dunia manajemen - juga membangun argumennya di atas kaca spion. Diktum 'structure follows strategy' yang pernah dikemukakan seorang guru besar Harvard, serta memiliki penganut sampai sekarang, juga dibangun di atas tumpukan data masa lalu yang mengagumkan. Administrative Science Quarterly- sebuah jurnal manajemen berpengaruh yang diterbitkan MIT, dan penulisnya kebanyakan bergelar Ph.D sangat kuat diwarnai oleh penelitian-penelitian empiris yang amat mereka banggakan.

Nah, sekarang saya ingin membawa persoalan ini ke dalam pengandaian makan roti. Semua orang saya yakin - termasuk Taylor, kelompok Aston, Alfred Chandler serta pananggung jawab Administrative Science Quarterly - lebih menyukai roti yang fresh from the oven. Tidak ada yang mau memakan roti busuk hasil simpanan bertahun-tahun lalu.

Mirip dengan makan roti, manajemen yang lahir dari kumpulan data masa lalu, tidak membuat kepala manusia menjadi fresh. Tidak tertutup kemungkinan, malah membuat kepala kita menjadi roti busuk yang tidak berguna. Ini bisa terjadi - sebagaimana sudah sering saya tulis - karena semakin sedikit sejarah yang muncul dalam bentuk pengulangan. Sebagaimana sebuah pepatah Cina : 'we can not step into the same river twice'. Sebab, sebagaimana sungai, kehidupan setiap detik berganti.

Sayang seribu sayang, di manapun orang belajar manajemen secara formal, senantiasa dihadapkan pada ribuan kaca spion. Ada kaca spionnya Drucker, Porter, Kotler, Ohmae, Mintzberg dan ribuan kaca spion sejenis. Bila kaca spion ini dibuat di tahun 1990-an masih mending. Tidak sedikit yang lapuk karena ditulis di tahu 50-an.
Tidak heran kalau Robert M.Pirsig - penulis novel Zen and The Art of Motorcycle Maintenance yang disebut Time sebagai unforgetable trip - pernah menulis : 'Isaac Newton ia a very good ghost. One of the best. Your common sense is nothing more than the voices of thousands and thousands of these ghost from the past'.

Dengan demikian, tidak hanya manajemen yang dirasuki 'hantu' masa lalu. Semua sendi-sendi ilmu pengetahuan - meminjam argumen Pirsig - juga dirasuki oleh 'hantu-hantu' terakhir.

Anda tentu saja bertanya, kalau demikian kemana kita harus menoleh ? Terus terang, saya memang bukan pemegang bola kristal yang langsung bisa menunjuk sebuah jurus atau kiat. Di kolom ini, tugas saya lebih dekat dengan upaya menggoyahkan apa yang telah mapan dan membelenggu. Untuk kemudian, kembali ke dunia pengamatan yang segar dan jernih.
Memang, ada banyak cara untuk sampai ke tataran fresh mind. Namun, sangat penting untuk membersihkan fikiran dari 'kotoran-kotoran' masa lalu. Saya memilih untuk menantang dan mempertanyakan semua otoritas masa lalu - termasuk otoritas yang saya pernah buat sendiri.
Seorang peserta seminar dalam topik Crazy Times Call For Crazy People, pernah bertanya ke saya tentang skenario ke depan. Jawaban warasnya, siap-siaplah kita berhadapan dengan perekonomian yang dibangun di atas perusahaan-perusahaan skala menengah. Jawaban 'gila'-nya - dan ini yang lebih saya rekomendasikan - berfikirlah keluar dari segala bentuk skenario. Dalam dunia fresh mind, tidak diperlukan skenario. Apa lagi skenario 'jika-maka'. Yang ada hanyalah melihat tanpa mengkerangkakan. Mengutip sebuah pepatah Zen, sebesar apapun telunjuk yang digunakan untuk menunjuk bulan, tetap tidak akan bisa mewakili wajah bulan yang sebenarnya. Demikian juga dengan skenario.

Meminjam argumen guru meditasi saya di Inggris sana : 'jumping into the unknown, dying from all the pasts and future ideals, live the present just as they are'.

Jadi, diperlukan keberanian untuk melompat ke wilayah fikiran yang tidak diketahui. Mati dari masa lalu dan idealitas masa depan. Serta hidup di masa kini sebagaimana adanya.

Kembali ke pangandaian semula tentang makan roti, inilah yang saya sebut dengan roti manajemen yang fresh from the oven. Bukan roti majajemen busuk yang sudah lama membuat kita terkejut, terkaget dan hidup asing dari masa kini yang senantiasa segar.

Ah, ini hanyalah sekumpulan fikiran yang kerap disebut utopis oleh sejumlah orang - terutama kaum empiris. Mereka yang membenci ketidakjelasan ini, bahkan menyebut saya makar dan provokator. Namun, dibandingkan dimakari dan diprovokator oleh kecenderungan, saya lebih memilih untuk memprovokator dan memakari fikiran-fikiran saya sendiri.

Konosuke Matsushita, Thomas J. Watson, Bill Gates, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Lady Diana, Ibu Theresa, Cory Aquino, Winston Churchill adalah sebagian kecil dari deretan manusia yang menjadi provokator dan tukang makar bagi fikiran-fikirannya sendiri.

Anda juga saya harapkan bisa menjadi provokator dan tukang makar tidak hanya bagi fikiran Anda, tetapi juga bagi fikiran gombal yang menjadi fundamen tulisan ini. Tanpa itu, kita hanya mengulangi sejarah manajemen yang berjalan sudah amat lama dan panjang : memakan roti busuk.

Oleh
Gede Prama

Sabtu, Januari 12, 2013

Pernikahan adalah seperti sekolah cinta

Dikutip dari milis Resonansi

Pernikahan adalah seperti Sekolah Cinta
 
Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab.

Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan,seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuhperhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."

Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia! menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."

Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"

Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskan kepadamu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."

Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanyabertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu".

Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari.

J I K A........

Jika kamu memancing ikan.....
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu.....
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit olehkarena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang... .
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya.....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja......
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat... ..

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh......cukuplah sekadar keperluanmu. ......
Apabila sekali ia retak......tentu sukar untuk kamu menambalnya semula......
Akhirnya ia dibuang..... .
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi.....

Begitu juga jika kamumemiliki seseorang, terimalah seadanya.... .
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa.... .
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. ....akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya.... .

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi.....yang pasti baik untuk dirimu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain....
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya.
kamu akan menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan....yang membawa kebaikan kepada dirimu.
Menyayangimu. Mengasihimu.
Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya; apabila dia menjadi milik orang lain kamu juga akan menyesal.




Minggu, Desember 23, 2012

Strategi Akuisisi Dan Rekstrukturisasi: Suatu Penilaian Terhadap New Market Entry


A.   Pendahuluan:

Pembahasan masalah akuisisi dan aliansi dari tahun ketahun makin menjadi tren bisnis. Hal yang ditekankan dalam jurnal penelitian ini berkaitan dengan chapter yang dibahas adalah perlunya memperhatikan unsur pengetahuan (knowledge based) bagi perusahaan yang akan mengakuisisi maupun yang akan diakusisi. Perangkat pengetahuan itu secara nyata melekat pada perusahaan (khususnya perusahaan yang akan diakuisisi). Dalam jurnal yang dibahas sedikit lebih maju, menyadari adanya seperangkat pengetahuan knowledge intensity  (merupakan gabungan dari pengetahuan modal manusia terhadap lingkungannya) khususnya ,mengenal karakteristik pasar yang ada. Perusahaan yang mengakuisisi akan memperoleh keuntungan terhadap perusahaan yang diakusisinya yaitu seperangkat pengetahuan tentang pasar (khususnya keberadaan pasar yang baru). Menurut penulis (walaupuan dalam jurnal ini sendiri tidak menyebutkan tentang knowledeg management); Ini sejalan dengan konsep knowledge management (manajemen berbasis pengetahuan) yang kini menjadi paradigma baru dalam bidang manajemen. Dimana pengelolaan pengetahuan dalam organisasi telah menjadi perhatian utama bagi manajemen dalam meningkatkan daya saing. Bahwa keunggulan perusahaan tidak lagi selamanya berbasis sumber daya finansial, bangunan, tanah, teknologi, posisi pasar dan asset-asset tangibel lainnya, tetapi faktor penting adalah intangible dalam hal ini adalah asset pengetahuan. Konsep knowledge management merupakan seperankat konsep dimana mengatur tentang bagaimana mengelola aset intelektual dan informasi lainnya sehingga mampu memberikan keunggulan bersaing bagi perusahaan.


B.   LATAR BELAKANG

Pada pembahasan makalah ini mengacu pada sebuah jurnal yang berjudul Judul Jurnal: “Assessing knowledge through Acquition and Alliances an Empirical Examination of New Market Entry” Journal of Management Issues, Vol XX Number 1 spring 2008 51-67 Pengarang: Annette L.Ranft (Assistance Professor of Management Florida State University) dan Sarah J Marsh (Associate Professor and Chair of Management dari Northen Illionois Univerisity)

Init dari penelitian ini adalah menyoroti kasus-kasus akuisisi dan aliansi yang dimulai  awal tahun 1990an menjadi aktivitas yang sangat tinggi kejadiannya sampai saat ini. Motivasi utama dilakukannya akuisisi dan aliansi adalah kebutuhan untuk mengakses pengetahuan yang menjadi resep utama dalam berkompetisi dan pertumbuhan bisnis. (Grant and Banden-Fuller 2004, Ranft and Lord, 2002, Simonin 1999).

Dua perusahaan yang bergerak dibidang teknologi dan informasi yakni Microsoft dan Cisco merupakan contoh perusahaan yang sangat giat melakukakan kedua aktifitas tersebut dengan maksud mempercepat pengembangan produk baru dan penguasaan pasar.

Dalam jurnal ini membahas suatu studi perbadingan secara langsung akuisisi dan aliansi jika sebuah perusahaan memasuki pasar yang sangat beragam derajat knowledge-intensity (pengetahuan yang berintensitas).  Studi ini menyelidiki (1) bagiamana tingkat knowledge-based  dan keahlian yang menjadi syarat untuk sebuah pasar baru yang mempengaruhi peramalam pasar atas kinerja perusahaan. (2) kinerja relative dari akuisisi dan aliansi yang berarti memasuki pasar dengan berbagai ragam kondisi dari knowledge-intensity. Suatu pasar baru menggambarkan suatu area yang terbuka luas untuk mengembangkan studi terhadap sumber-sumber knowledge-based, ketika suatu perusahaan memasuki pasar baru peranan knowledge-based sangat signifikan berpengaruh dalam terhadap itu.(Marsh and Ranft 1999).

 
Konsep dasar

Knowledge-based (basis pengetahuan) telah bertumbuh seiring munculnya padangan resources based (basis sumber daya) yang diperkuat dengan sebuah pemikiran bahwa sumber daya dari suatu perusahaan tidak hanya terdiri dari modal fisik dan keuangan saja, tetapi juga modal sumber daya manusia dan pengetahuan ini dikembangkan oleh  (penroses tahun 1959).

Kemudian ditahun awal 1990-an mulai banyak peneliti dan ahli manajemen intens memunculkan paradigma knowledge-based, yang intinya mereka menyadari peranan pengetahuan (knowledge) dalam sebuah manajemen perusahaan.

Knowledge-based dipahami sebagai sebuah kumpulan pengetahun yang dimiliki perusahaan  yang bersifat tacit knowledge (pengetahuan yang tersembunyi, yang tidak disadari oleh si pemilik-penulis) dikemukan oleh Chowdhury, 2005, nonaka 1994, winter 1985. Sifatnya sebaga pengetahun tacit maka sangat sulit untuk di jelaskan dan kemukakan dengan tersurat hanya tersirat. Sifatnya juga susah di transfer karena berkembang melalui pengalaman.

Hal penting lainnya adalah setiap pasar memiliki beragam intensitas akan pengetahuan (yang berbeda-beda). Setiap level pada pasar yang berbeda memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda yang dihadapi oleh perusahaan. Manajer harus memahami hambatan/gangguan pada pasar baru yang berdasarkan struktur sosial, sumber-sumber knowledeg based nya. Pengetahuan yang sifatnya tacit dnilai sangat sukar untuk ditransfer. (Coff, 1999, 2002,Inkpen and Dinur 1998, Simonin 1999).

Pada integrasi pasar baru (new market) mempersyaratkan sumber-sumber daya yang berbasis pengetahuan, kemampuan manajemen yang akan memciptakan suatu nilai baru yang mengintegrasikan antara asset fisik dan sumber-sumber daya knowledge based (basis pengetahuan).

o  Dalam jurnal ini dipaparkan bahwa akusisi umumnya memberi keuntungan yaitu; kemudahan akses pasar, kepemilikan penuh terhadap perusahaan yang diakuisisi, asset pengetahuan dan kapabilitas yang akan siap dikembangkan lebih lanjut

o  Segala sumber daya yang ditransfer itu akan dimiliki secara penuh dalam suatu hak kepemilikan yang memiliki kekuatan hukum, baik terhadap sumber-sumber daya yang sifatnya fisik, pengetahuan dan dokumen riset.

o  Asset pengetahuan kita telah ketahui bahwa telah terintegrasi dalam suatu struktur sosial pada perusahaan setelah berlangsung akusisi akan berintegrasi secara signifikan dengan identitas perusahaan yang mengakusisi, independent dan struktur  perusahaan pun berubah kepemilikan.

o  Memasuki pasar baru pada suatu kondisi geografis tertentu tentu membutuhkan persyaratan akan pemahaman costumer yang spesifik, karakteristik channel, pemahaman tentang riset dan pengembangan, teknologi, karakteristik pasar, karakteristik permintaan pasar (jumlah permintaan), dengan strategi akusisi dan aliansi akan memberi akses terhadap semua itu seperti di-”cangkok”-kan terhadap suatu perusahaan.


Dasar pemikiran dari riset ini adalah;

o  Bagaimana tingkat knowledeg based (sumber daya basis pengetahuan) dan keahlian yang menjadi prasyarat dalam memasuki suatu pasar baru mempengaruhi kinerja perusahaan. Sehingga dikembangkan suatu pertanyaan hipotesis sebagai berikut: kinerja perushaaan setelah memasuki suatu pasar yang baru akan memiliki kurva linear (U-Shaped) yang menghubungkan antara knowledge-intensity dari sebuah pasar baru yang kinerjanya diekpektsikan lebih tinggi pada tinggi dan rendahnya knowledge intensity pada sebuah pasar.

o  Hipotesis selanjutnya adalah (h2): kinerja setelah perusahaan memasuki pasar baru melalui strategi aliansi akan lebih baik dari pada stratgei akuisisi. H2a; Knowledge intensity yang lebih tinggi dalam suatu pasar baru, akan lebih baik kinerjanya pada perusahaan yang memasuki pasar melalui aliansi daripada akuisisi.


Metodologi penelitian;

Metodologi yang digunakan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi-publikasi ilmiah yang terbit di daerah US. Metode ini menggunakan analisa 200 press realese, 250 laporan tahunan perusahaan, 600 publikasi industri yang diperoleh dari Lexus data base. Pencarian ini menggunakan keyword; new market, diversification, acquitition, alliance, join veture yang menghasilkan 361 entry dalam publikasi di US.

Kemudian sample dikategorikan juga dengan melihat rata-rata penjualannya pertahun yang terdiri $3,206, pertengahan $ 308 million, dan terendah $673,000 - $ 100 billion.

o  Independent variable: adalah knowledge intensity of new market

o  Dependent variable: market prediction of firm performance

o  Control variable” prior variable, knowledge relatedness, new market growth rate

Hasil kesimpulan dari penelitian

Hasil dari penelitian ini dengan menggunakan alat analisasi one ya ANOVA secara normative ada kesatuan asumsi antara dependent variable. Dimana ditemukan signifikan si antara strategi aliansi dan akuisisi ( F=5.305, p<.05)  yang mengindikasikan bahwa suatu ekspektasi pasar akan lebih tinggi terhadap kinerja strategi aliansi dari pada stratgei akuisisi walaupun keduanya memberi pengembalian (returns) yang positif.

Kesimpulan yang dapat di garis bawahi bahwa strategi aliansi lebih memiliki konstribusi yang lebih dari pada akuisisi terhadap pengetahuan (knowledge-based) terhadap suatu pasar baru (entry a new market).

C.   Pembahasan

Beberapa pemikiran terhadap penelitian mengenai masalah strategi akusisi dan aliansi diajabrkan dibawah ini berdasarkan kerangkan teori dari buku acuan Hitt, Iriealn dan Hoskisson, ”Startegic Management” Thomson, USA, 2005

Hitt dkk, menyakan terdapat beberapa alasan perusahaan menjalankan strategi akuisisi dan melakukan akusisi terpilih, diantaranya adalah mencapai keunggulan bersaing melalui kekuatan pasar yang lebih besar, mengatasi hambatan masuk dan mempercepat proses masuk pasar. Alasan lain yang termasuk untuk menghindari biaya yang cukup berarti yang berkaitan dengan pengembangan produk baru, menghindari resiko dari pengembangan produk baru, mencapai diversifikasi dan akhirnya menghindari persaingan.

Meningkatkan kekuatan pasar:

Setiap pengusaha menginginkan perusahaannya memiliki kekuatan pasar yang lebih besar. Banyak perusahaan besar memiliki kompetensi inti tetapi tidak cukup besar mendaya  gunakan sumber daya dan kapabilitasnya. Kekuatan pasar biasanya dihasilkan dari ukuran perushaaan dan sumber daya serta kapabilitas perusahaan untuk bersaing dipasar melalui pangsa pasarnya. Dari kasus akuisisi tidak jarang terjadi pembelian dari sebuah perusahaan dengan perusahaan pesaingnya pada industri yang sama.

Akusisi terhadap perusahaan pesaing dinamakan dengan akusisi horizontal (horizontal acquitition), sedangkan akuisisi terhadap perusahaan dalam industri terkait disebut akuisisi terkait (related acquisition)
 

Membuat hambatan masuk;

Perusahaan yang kuat dan besar biasanya melakukan akuisisi dengan maksud untuk menghalangi atau mempersulit suatu perusahaan untuk masuk pada kategori produk tersebut dalam suatu industri. Perusahaan baru atau perusahaan yang membuat produk baru akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan usaha dan membuat mereka membutuhkan alokasi dana yang besar bila memasuki celah pasar tersebut.

Sistem distribusi juga sangat berpengaruh bila hendak memasuki suatu pasar baru, dibutuhkan distirbusi channel yang efisien dan efektif, fasilitas barik dan iklan yang besar untuk menghasilkan penjualan yang cukup supaya perusahaan dapat mencapai skala ekonomis dan menawarkan harga yang bersaing bagi konsumen.

Akuisisi membutuhkan biaya yan besar, namum perusahaan yang mengakuisisi perusahaan yang telah beroperasi bisa langsung segera mendapatkan akses pasar dan melakukan hal serupa dengan produk yang mungkin memiliki basis pelanggan yang setia. Dalam kenyataannya, semakin tinggi hambatan masuk,semakin besar kemungkinan akuisis akan dilakukan untuk memasuki suatu pasar.

 

Biaya dan kecepatan;

Usaha pengembangan produk baru secara internal cukup mahal dan membutuhkan waktu yang panjang untuk memajukanproduk dan menghasilkan pengembalia investasi yang menguntungkan. Pengembangan usaha baru, misalnya membutuhkan rata-rata delapan tahun untuk bisa menghasilkan laba dan 12 tahun untuk menghasilkan arus kas yang cukup. Suatu riset pernah membuktikan bahwa hamper 88 persen inovasi gagal mencapai pengembalian atas investasi. Selanjutnya, kira-kira 600 persen dari inovasi bisa ditiru secara efektif dalam empat tahun setelah hak paten di peroleh. Karena itu pengembangan usaha secara internal sering diasakan para manajer sebagai suatu yang berisiko tinggi. Masalahnya adalah dibutuhkan biaya pengembangan dan peluncuran produk baru kepasar yang signifikan.
Dengan kebijakan mengakusisi suatu perusahaan yang mapan, meskipun kadang lebih mahal, adalah tidak terlalu beresiko Karena terdapat data histories mengenai kinerja perusahaan yang bisa dipergunakan untuk mengevaluasi kepentingan.
Keuntungan akuisisi adalah menawarkan akses cepat kedalam pasar dengan basis volume penjualan dan pelanggan yang nyata

Resiko

Resiko disini mengandung arti bahwa dengan strategi akuisisi usaha baru yangcdikembangkan secara internal memiliki resiko yang tinggi. Dilain pihak akuisisi memberi pengalaman bahwa keuntungan dapat diprediksi dan diestimasi secara akurat. Karena perusahaan yang diakusisi memiliki data histories yang dapat dianilisa, terutama tentang peramalan pendapatan, dan beban biaya yang akan ditanggung. Untuk produk yang baru data histories tentu saja tidak ada.

Mengembangkan Diversifikasi

Perusahaan yang kuat modal salah satu usaha untuk melakukan diversifikasi usaha (mendirikan suatu unit bisnis baru yang berbeda kategori produk yang mungkin berbeda industri-penulis red) dengan cara akuisisi. Sebuah perusahaan mungkin menemukan bahwa lebih mudah mengembangkan produk baru dan usaha baru dalam pasar yang ada karena manajernya lebih memahami produk dan pasar. Begitu juga sebaliknya perusahaan sering mengembangkan produk baru yang berbeda dari produk yang telah ada dan memasuki pasar baru karena manajernya kurang memahami pasar tersebut. Sehingga akusisi menjadi hal yang lumrah bagi perusahaan untuk mengembangkan produk dan usaha baru nya.

Menghindari persaingan

Di negara-negara yang industrinya telah maju terutama di Amerika Serikat, menggunakan strategi akuisisi untuk pasar, baik yang ada hubungannya atau tidak dalam rangka mengurnagi ketergantungan terhadap pasar yang memiliki persaingan tajam, biasanya terhadap perusahaan asing (foreign company).


Beberapa permasalahan dalam akuisisi

Hitt dkk menguraikan ada beberapa permasalahan yang timbul dalam strategi akuisisi ini, antara lain; tingginya nilai beli perusahaan yang hendak diakusisi, kesalahan perkiraan (penilaian) mengenai kapabilitas dan stategis, tingginya biaya pelaksanan akuisisi, dan sulitnya mengintegrasikan perusahaan yang diakusisi. Hal –hal tersebut akan diuraikan dibawah ini,

Integrasi;

Perusahaan yang mengakusisi dan yang diakusisi menimbulkan masalah terhadap proses integrasi tersebut. Hal utama dalah bagaimana mempertemukan dua budaya perusahaan yang berbeda, menghubungkan sistem keuangan dan pengendalian yang berbeda, membangun hubunga kerja yang efektif (bila gaya manajemen yang berbeda), memecahkan masalah yang berkaitan dengan perbedaan status eksekutif perusahaan yang diakusisi.

Harga beli yang tinggi (overpayment)

Perusahaan bisa saja membayar nilai akuisisi yang terlalu tinggi terhadap perusahaan yang disasar.  Apabila perusahaan tidak menganalisa perusahaan sasaran secara menyeluruh dan tindak mengembangkan pengetahuan yang cukup mengenai nilai pasarnya, perusahaan akan mengeluarkan modal yang besar.   Pemegang saham diperusahaan yang hendak diakusisi biasanya menawarkan harga sahamnya dengan harga premi yang lebih tinggi diatas harga saham yang berlaku (biasanya 40-60 persen)

Biaya akuisisi;

Pada awal tahun 1980-an di Amerika banyak terjadi akusisi perusahaan yang dibiayai dengan utang, yang dikenal dengan junk bonds. Ini merupakan jenis pembiayaan baru dimana aksisi yang beresiko dibaiaya dengan utang (hutang) yang memberikan pengembalian yang tinggi kepada peminjam (pemegang obligasi). Tingkat bunga junk bond berkisar antara 18-20 persen karena tanpa jaminan karena itu sangatlah beresiko.Tujuan dari hutang ini sebenarnya untuk menciptakan disiplin manajerial yang positif, sehingga memiliki pertimbangan leverage dalam akusisi besar. Terkadang biaya utang yang besar menjadikan biaya akusisi menjadi besar pula akibat factor-faktor eksternal yang seperti tingkat suku bunga.


Kesalahan menilai strategi
Kesalahan menilai strategi atau manfaat strategi terjadi dalam meraih keunggulan bersaing yang berkelanjutan dari akusisi. Pengetahuan yang cukup terhadap sinergi khusus (private synergy) dan keunggulan utama penggabungan yang tidak bisa ditiru pesaing. Sinergi khusus merujuk pada pemberian manfaat atas pengabungan perusahaan yang mengakuisisi dan diakusisi terhadap sumber daya dan kapabilitas yang masing-masing dimiliki sehingga menjadi suatu kekuatan yang tidak dimiliki oleh perusahaan yang lain. Kesalahan hal ini akan menjadikan perusahaan yang mengakusisi tidak akan mendapatkan pengembalian yang memadai.


Akusisi yang efektif

 

Lalu pertanyaannya bagaimanakah akusisi yang efektif itu? Hitt melakukan penelitian pada tahun 1993[1], bahwa perusahaan yang berhasil dalam mengakusisi selalu melakukan seleksi hati-hati terhadap calon perusahaan yang hendak diakusisi.dan mempertimbangkan negoisisai yang ada. Seleksi awal biasanya berbentuk hubungan kerja sama berupa usaha patungan atau aliansi startegi. Sifat usaha kausisi yang harus diperhatikan adalah perusahaan mempertahankan posisi hutang yang rendah atau wajar khususnya dalam membiaya akusisi. Hutang yang besar digunakan untuk membiaya akuisisi, hutang tersebut sebaiknya dikurang secara cepat dengan cara menjual asset perusahaan yang diakusisi. Asset yang dijual tersebut adalah asset yang dinilai tidak komplemen dengan bisnis perusahaan, atau tidak berkinerja baik.

Mengakusisi perusahaan harusnya yang memiliki komplementer bagi perusahaan yang mengakusisi. Ketika terjadi integrasi perusahaan akan terjadi sinergio dan kapabilitas yang positif. Sumber daya yang unik dari akusisi adalah hal yang positif untuk mendukung daya saing yang strategis perusahaan terhadap industrinya.

Perusahaan yang sukses dalam mengakusisi mampu menekankan inovasi dan meneruskan investasi penelitian dan pengembangan produk sebagai bagian dari stretegi keseluruhan. Komitmen manajemen untuk inovasi harus kuat dan tinggi.

Hal lain adalah kemampuan untuk beradaptasi dan fleksibilitas yang tinggi harus dimiliki perusahaan masing-masing. Pengalaman akan manajemen perubahan (change management) merupakan suatu syarat yang mutlak. Kemampuan adaptasi akan membantu perusahaan untuk lebih cepat, lebih efisien, dan lebih efektif dalam proses akusisi yang berlangsung untukmenghasilan sinergi yang positif.

 

Beberapa catatan tambahan:

o  Sudah saatnya mempertimbangkan faktor pengetahuan (knowledge-based) dalam sebuah proses akuisis dan aliansi, dalam jurnal yang dibahas menyatakan bahwa pengetahuan (knowledge based) sudah terintegrasi dalam sebuah perusahaan yang memiliki tacit knowledge (karena perusahaan yang diakuisisi jelas telah memiliki basis pengetahuan baik itu dari sisi operasional maupun pengetahuan akan pasar).

o  Faktor pengetahuan (knowledge based) maka perlu semacam metode assesment yang menjadi patokan bagi sebuah perusahaan yang hendak mengakuisisi sebua perusahaan. Metode assesment ini kiranya mampu menilai ”Nilai” faktor-faktor knowledge-based yang dimiliki suatu perusahaan yang hendak diakusisi, khususnya mengenai masalah keahlian yang dimiliki oleh manajer seniornya, pengetahuan pasar yang hendak dimasuki, prediksi (peramalan) akan pasar kedepannya, dan juga untuk mencapai suatu tujuan strategik.

            Contoh kasus: misalnya pembelian Lotus oleh perusahaan raksasa IBM pada tahun 1995 dimana perusahaan IBM harus membanya perusahaan Lotus sebesar $3,5 milyar, padahal pada saat itu pendapatan lotus empat belas kali lipat. Pembanyaran IBM kepada Lotus tersbut bukan karena ingin mengganti pendapatan lotus tersebut. IBM melakukan akusisi karena Lotus memiliki pengetahuan yang unik mengenai Notes dan berbagai kalborasi aplikasi piranti luanknya. Penemuan notes lebih bernilai dari pada piranti lunak itu sendiri, dimana Lotus mampu memiliki kemampuan melahirkan generai berikutnya terkait dengan teknologi komunikasi dan informasi-sharing software. Lotus memiliki keterampilan, pengalaman dan kreatifitas yang IBM butuhkan untuk menerapkan pengetahuannya kedunia baru kolaborasi piranti lunak. IBM percaya bahwa kemampuan Lotus dengan pengetahuaannya lebih bernilai daripada semata-mata nilai keuangan yang diperhatikan

o  Ada konsep dalam manajemen yaitu knowledge management (manajemen pengetahuan) yang dimana dapat dipahami sebagai suatu strategi yang mengubah aset intelektual organisasi, baik informasi yang sudah terekan mapun bakat dari para anggotanya kedalam produktivitas yang lebi tinggi, nila-nilai baru, dan peningkatan daya saing. Selain itu ada juga yang mendefinisikan manajemen pengatahuan (Davids dan Voss 2002 dalam sangkala 2007)  sebagai suatu kesatuan sistem yang memungkinkan perushaaan menyerap pengetahuan, pengalaman, dan kreatifitas para stafnya untuk perbaikan kinerja perusahaan.

 

o  Kritik terhadap metodologi penelitian yang dilakukan oleh periset dengan menggunakan data sekunder, dalam hal ini mengunakan data publikasi baik online maupun online. Walaupun dibenarkan namun penulis merasa penelitian tersebut memiiki kelemahan, karena mengandalkan data publikasi yang bisa saja memiiki kekuran validitas.  Tentu dengan melakukan metode kuesioner secara langsung walalupun itu membutuhkan biaya yang lebih besar tetapi tentu akan memberi signifikansi data yang lebih terpercaya dan akurat.

 
 

Bahan Referensi

1.       Michael A.Hitt, R.Duane Ireland, Robert E Hoskisson, ” Strategic Managemen”, Thomson, USA, 2005.

2.       M.A.Hitt, JS.Harriosn, R.D.Ireland dan A.Best 1993, “ lifting the vellof success in merger and acquititons”. Chicago. USA

3.       Annette L.Ranft, Sarah J.Marsh, ” Accessing Knowledge throught acquisition and alliances: An Emperical examination of New Market entry”, Journal of Managerial Issues, Vol XX Number 1 Spring 2008 p.51-67. ABI/INFORM Global.

4.       Sangkala, “Knowledge Management”, PT.RajaGrafindo Perkasa, Jakarta, 2007.