Minggu, Januari 20, 2013

Hantu hantu Manajemen



Di sebuah perusahaan Jepang yang mengundang saya sebagai nara sumber, seorang eksekutif puncaknya sempat berargumen lama tentang sinyalemen yang saya sebut dengan berfikir ala kaca spion. Berjalan ke depan namun senantiasa melihat ke belakang.
Saya bisa memaklumi, kalau banyak rekan dari Jepang yang tidak setuju dengan hal terakhir. Secara lebih khusus, karena mereka sudah memiliki tradisi yang lama dan panjang tentang kegemaran mengutak-atik data yang telah lewat. Jangankan mengambil keputusan, bermain golf saja mereka disertai dengan data-data score cards masa lalu. Dalam bingkai berfikir ala kaca spion ini, satu-satunya cara untuk bisa hidup di hari ini, dan selamat di hari esok adalah dengan jalan mempelajari apa yang sudah lewat.

Ini semua mengingatkan saya, pada keyakinan-keyakinan yang ditanamkan secara berlebihan oleh kaum empiris dalam ilmu pengetahuan. Manajemen, melalui sejumlah tokohnya seperti Taylor yang menciptakan scientific management, juga terkena sindroma kaca spion. Kelompok Aston yang menjadi salah satu cikal bakal pendekatatan kontingensi - yang memiliki banyak sekali penganut sampai sekarang dalam dunia manajemen - juga membangun argumennya di atas kaca spion. Diktum 'structure follows strategy' yang pernah dikemukakan seorang guru besar Harvard, serta memiliki penganut sampai sekarang, juga dibangun di atas tumpukan data masa lalu yang mengagumkan. Administrative Science Quarterly- sebuah jurnal manajemen berpengaruh yang diterbitkan MIT, dan penulisnya kebanyakan bergelar Ph.D sangat kuat diwarnai oleh penelitian-penelitian empiris yang amat mereka banggakan.

Nah, sekarang saya ingin membawa persoalan ini ke dalam pengandaian makan roti. Semua orang saya yakin - termasuk Taylor, kelompok Aston, Alfred Chandler serta pananggung jawab Administrative Science Quarterly - lebih menyukai roti yang fresh from the oven. Tidak ada yang mau memakan roti busuk hasil simpanan bertahun-tahun lalu.

Mirip dengan makan roti, manajemen yang lahir dari kumpulan data masa lalu, tidak membuat kepala manusia menjadi fresh. Tidak tertutup kemungkinan, malah membuat kepala kita menjadi roti busuk yang tidak berguna. Ini bisa terjadi - sebagaimana sudah sering saya tulis - karena semakin sedikit sejarah yang muncul dalam bentuk pengulangan. Sebagaimana sebuah pepatah Cina : 'we can not step into the same river twice'. Sebab, sebagaimana sungai, kehidupan setiap detik berganti.

Sayang seribu sayang, di manapun orang belajar manajemen secara formal, senantiasa dihadapkan pada ribuan kaca spion. Ada kaca spionnya Drucker, Porter, Kotler, Ohmae, Mintzberg dan ribuan kaca spion sejenis. Bila kaca spion ini dibuat di tahun 1990-an masih mending. Tidak sedikit yang lapuk karena ditulis di tahu 50-an.
Tidak heran kalau Robert M.Pirsig - penulis novel Zen and The Art of Motorcycle Maintenance yang disebut Time sebagai unforgetable trip - pernah menulis : 'Isaac Newton ia a very good ghost. One of the best. Your common sense is nothing more than the voices of thousands and thousands of these ghost from the past'.

Dengan demikian, tidak hanya manajemen yang dirasuki 'hantu' masa lalu. Semua sendi-sendi ilmu pengetahuan - meminjam argumen Pirsig - juga dirasuki oleh 'hantu-hantu' terakhir.

Anda tentu saja bertanya, kalau demikian kemana kita harus menoleh ? Terus terang, saya memang bukan pemegang bola kristal yang langsung bisa menunjuk sebuah jurus atau kiat. Di kolom ini, tugas saya lebih dekat dengan upaya menggoyahkan apa yang telah mapan dan membelenggu. Untuk kemudian, kembali ke dunia pengamatan yang segar dan jernih.
Memang, ada banyak cara untuk sampai ke tataran fresh mind. Namun, sangat penting untuk membersihkan fikiran dari 'kotoran-kotoran' masa lalu. Saya memilih untuk menantang dan mempertanyakan semua otoritas masa lalu - termasuk otoritas yang saya pernah buat sendiri.
Seorang peserta seminar dalam topik Crazy Times Call For Crazy People, pernah bertanya ke saya tentang skenario ke depan. Jawaban warasnya, siap-siaplah kita berhadapan dengan perekonomian yang dibangun di atas perusahaan-perusahaan skala menengah. Jawaban 'gila'-nya - dan ini yang lebih saya rekomendasikan - berfikirlah keluar dari segala bentuk skenario. Dalam dunia fresh mind, tidak diperlukan skenario. Apa lagi skenario 'jika-maka'. Yang ada hanyalah melihat tanpa mengkerangkakan. Mengutip sebuah pepatah Zen, sebesar apapun telunjuk yang digunakan untuk menunjuk bulan, tetap tidak akan bisa mewakili wajah bulan yang sebenarnya. Demikian juga dengan skenario.

Meminjam argumen guru meditasi saya di Inggris sana : 'jumping into the unknown, dying from all the pasts and future ideals, live the present just as they are'.

Jadi, diperlukan keberanian untuk melompat ke wilayah fikiran yang tidak diketahui. Mati dari masa lalu dan idealitas masa depan. Serta hidup di masa kini sebagaimana adanya.

Kembali ke pangandaian semula tentang makan roti, inilah yang saya sebut dengan roti manajemen yang fresh from the oven. Bukan roti majajemen busuk yang sudah lama membuat kita terkejut, terkaget dan hidup asing dari masa kini yang senantiasa segar.

Ah, ini hanyalah sekumpulan fikiran yang kerap disebut utopis oleh sejumlah orang - terutama kaum empiris. Mereka yang membenci ketidakjelasan ini, bahkan menyebut saya makar dan provokator. Namun, dibandingkan dimakari dan diprovokator oleh kecenderungan, saya lebih memilih untuk memprovokator dan memakari fikiran-fikiran saya sendiri.

Konosuke Matsushita, Thomas J. Watson, Bill Gates, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Lady Diana, Ibu Theresa, Cory Aquino, Winston Churchill adalah sebagian kecil dari deretan manusia yang menjadi provokator dan tukang makar bagi fikiran-fikirannya sendiri.

Anda juga saya harapkan bisa menjadi provokator dan tukang makar tidak hanya bagi fikiran Anda, tetapi juga bagi fikiran gombal yang menjadi fundamen tulisan ini. Tanpa itu, kita hanya mengulangi sejarah manajemen yang berjalan sudah amat lama dan panjang : memakan roti busuk.

Oleh
Gede Prama

Sabtu, Januari 12, 2013

Pernikahan adalah seperti sekolah cinta

Dikutip dari milis Resonansi

Pernikahan adalah seperti Sekolah Cinta
 
Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab.

Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan,seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuhperhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."

Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia! menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."

Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"

Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskan kepadamu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."

Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanyabertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu".

Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari.

J I K A........

Jika kamu memancing ikan.....
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu.....
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit olehkarena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang... .
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya.....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja......
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat... ..

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh......cukuplah sekadar keperluanmu. ......
Apabila sekali ia retak......tentu sukar untuk kamu menambalnya semula......
Akhirnya ia dibuang..... .
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi.....

Begitu juga jika kamumemiliki seseorang, terimalah seadanya.... .
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa.... .
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. ....akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya.... .

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi.....yang pasti baik untuk dirimu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain....
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya.
kamu akan menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan....yang membawa kebaikan kepada dirimu.
Menyayangimu. Mengasihimu.
Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya; apabila dia menjadi milik orang lain kamu juga akan menyesal.




Minggu, Desember 23, 2012

Strategi Akuisisi Dan Rekstrukturisasi: Suatu Penilaian Terhadap New Market Entry


A.   Pendahuluan:

Pembahasan masalah akuisisi dan aliansi dari tahun ketahun makin menjadi tren bisnis. Hal yang ditekankan dalam jurnal penelitian ini berkaitan dengan chapter yang dibahas adalah perlunya memperhatikan unsur pengetahuan (knowledge based) bagi perusahaan yang akan mengakuisisi maupun yang akan diakusisi. Perangkat pengetahuan itu secara nyata melekat pada perusahaan (khususnya perusahaan yang akan diakuisisi). Dalam jurnal yang dibahas sedikit lebih maju, menyadari adanya seperangkat pengetahuan knowledge intensity  (merupakan gabungan dari pengetahuan modal manusia terhadap lingkungannya) khususnya ,mengenal karakteristik pasar yang ada. Perusahaan yang mengakuisisi akan memperoleh keuntungan terhadap perusahaan yang diakusisinya yaitu seperangkat pengetahuan tentang pasar (khususnya keberadaan pasar yang baru). Menurut penulis (walaupuan dalam jurnal ini sendiri tidak menyebutkan tentang knowledeg management); Ini sejalan dengan konsep knowledge management (manajemen berbasis pengetahuan) yang kini menjadi paradigma baru dalam bidang manajemen. Dimana pengelolaan pengetahuan dalam organisasi telah menjadi perhatian utama bagi manajemen dalam meningkatkan daya saing. Bahwa keunggulan perusahaan tidak lagi selamanya berbasis sumber daya finansial, bangunan, tanah, teknologi, posisi pasar dan asset-asset tangibel lainnya, tetapi faktor penting adalah intangible dalam hal ini adalah asset pengetahuan. Konsep knowledge management merupakan seperankat konsep dimana mengatur tentang bagaimana mengelola aset intelektual dan informasi lainnya sehingga mampu memberikan keunggulan bersaing bagi perusahaan.


B.   LATAR BELAKANG

Pada pembahasan makalah ini mengacu pada sebuah jurnal yang berjudul Judul Jurnal: “Assessing knowledge through Acquition and Alliances an Empirical Examination of New Market Entry” Journal of Management Issues, Vol XX Number 1 spring 2008 51-67 Pengarang: Annette L.Ranft (Assistance Professor of Management Florida State University) dan Sarah J Marsh (Associate Professor and Chair of Management dari Northen Illionois Univerisity)

Init dari penelitian ini adalah menyoroti kasus-kasus akuisisi dan aliansi yang dimulai  awal tahun 1990an menjadi aktivitas yang sangat tinggi kejadiannya sampai saat ini. Motivasi utama dilakukannya akuisisi dan aliansi adalah kebutuhan untuk mengakses pengetahuan yang menjadi resep utama dalam berkompetisi dan pertumbuhan bisnis. (Grant and Banden-Fuller 2004, Ranft and Lord, 2002, Simonin 1999).

Dua perusahaan yang bergerak dibidang teknologi dan informasi yakni Microsoft dan Cisco merupakan contoh perusahaan yang sangat giat melakukakan kedua aktifitas tersebut dengan maksud mempercepat pengembangan produk baru dan penguasaan pasar.

Dalam jurnal ini membahas suatu studi perbadingan secara langsung akuisisi dan aliansi jika sebuah perusahaan memasuki pasar yang sangat beragam derajat knowledge-intensity (pengetahuan yang berintensitas).  Studi ini menyelidiki (1) bagiamana tingkat knowledge-based  dan keahlian yang menjadi syarat untuk sebuah pasar baru yang mempengaruhi peramalam pasar atas kinerja perusahaan. (2) kinerja relative dari akuisisi dan aliansi yang berarti memasuki pasar dengan berbagai ragam kondisi dari knowledge-intensity. Suatu pasar baru menggambarkan suatu area yang terbuka luas untuk mengembangkan studi terhadap sumber-sumber knowledge-based, ketika suatu perusahaan memasuki pasar baru peranan knowledge-based sangat signifikan berpengaruh dalam terhadap itu.(Marsh and Ranft 1999).

 
Konsep dasar

Knowledge-based (basis pengetahuan) telah bertumbuh seiring munculnya padangan resources based (basis sumber daya) yang diperkuat dengan sebuah pemikiran bahwa sumber daya dari suatu perusahaan tidak hanya terdiri dari modal fisik dan keuangan saja, tetapi juga modal sumber daya manusia dan pengetahuan ini dikembangkan oleh  (penroses tahun 1959).

Kemudian ditahun awal 1990-an mulai banyak peneliti dan ahli manajemen intens memunculkan paradigma knowledge-based, yang intinya mereka menyadari peranan pengetahuan (knowledge) dalam sebuah manajemen perusahaan.

Knowledge-based dipahami sebagai sebuah kumpulan pengetahun yang dimiliki perusahaan  yang bersifat tacit knowledge (pengetahuan yang tersembunyi, yang tidak disadari oleh si pemilik-penulis) dikemukan oleh Chowdhury, 2005, nonaka 1994, winter 1985. Sifatnya sebaga pengetahun tacit maka sangat sulit untuk di jelaskan dan kemukakan dengan tersurat hanya tersirat. Sifatnya juga susah di transfer karena berkembang melalui pengalaman.

Hal penting lainnya adalah setiap pasar memiliki beragam intensitas akan pengetahuan (yang berbeda-beda). Setiap level pada pasar yang berbeda memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda yang dihadapi oleh perusahaan. Manajer harus memahami hambatan/gangguan pada pasar baru yang berdasarkan struktur sosial, sumber-sumber knowledeg based nya. Pengetahuan yang sifatnya tacit dnilai sangat sukar untuk ditransfer. (Coff, 1999, 2002,Inkpen and Dinur 1998, Simonin 1999).

Pada integrasi pasar baru (new market) mempersyaratkan sumber-sumber daya yang berbasis pengetahuan, kemampuan manajemen yang akan memciptakan suatu nilai baru yang mengintegrasikan antara asset fisik dan sumber-sumber daya knowledge based (basis pengetahuan).

o  Dalam jurnal ini dipaparkan bahwa akusisi umumnya memberi keuntungan yaitu; kemudahan akses pasar, kepemilikan penuh terhadap perusahaan yang diakuisisi, asset pengetahuan dan kapabilitas yang akan siap dikembangkan lebih lanjut

o  Segala sumber daya yang ditransfer itu akan dimiliki secara penuh dalam suatu hak kepemilikan yang memiliki kekuatan hukum, baik terhadap sumber-sumber daya yang sifatnya fisik, pengetahuan dan dokumen riset.

o  Asset pengetahuan kita telah ketahui bahwa telah terintegrasi dalam suatu struktur sosial pada perusahaan setelah berlangsung akusisi akan berintegrasi secara signifikan dengan identitas perusahaan yang mengakusisi, independent dan struktur  perusahaan pun berubah kepemilikan.

o  Memasuki pasar baru pada suatu kondisi geografis tertentu tentu membutuhkan persyaratan akan pemahaman costumer yang spesifik, karakteristik channel, pemahaman tentang riset dan pengembangan, teknologi, karakteristik pasar, karakteristik permintaan pasar (jumlah permintaan), dengan strategi akusisi dan aliansi akan memberi akses terhadap semua itu seperti di-”cangkok”-kan terhadap suatu perusahaan.


Dasar pemikiran dari riset ini adalah;

o  Bagaimana tingkat knowledeg based (sumber daya basis pengetahuan) dan keahlian yang menjadi prasyarat dalam memasuki suatu pasar baru mempengaruhi kinerja perusahaan. Sehingga dikembangkan suatu pertanyaan hipotesis sebagai berikut: kinerja perushaaan setelah memasuki suatu pasar yang baru akan memiliki kurva linear (U-Shaped) yang menghubungkan antara knowledge-intensity dari sebuah pasar baru yang kinerjanya diekpektsikan lebih tinggi pada tinggi dan rendahnya knowledge intensity pada sebuah pasar.

o  Hipotesis selanjutnya adalah (h2): kinerja setelah perusahaan memasuki pasar baru melalui strategi aliansi akan lebih baik dari pada stratgei akuisisi. H2a; Knowledge intensity yang lebih tinggi dalam suatu pasar baru, akan lebih baik kinerjanya pada perusahaan yang memasuki pasar melalui aliansi daripada akuisisi.


Metodologi penelitian;

Metodologi yang digunakan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi-publikasi ilmiah yang terbit di daerah US. Metode ini menggunakan analisa 200 press realese, 250 laporan tahunan perusahaan, 600 publikasi industri yang diperoleh dari Lexus data base. Pencarian ini menggunakan keyword; new market, diversification, acquitition, alliance, join veture yang menghasilkan 361 entry dalam publikasi di US.

Kemudian sample dikategorikan juga dengan melihat rata-rata penjualannya pertahun yang terdiri $3,206, pertengahan $ 308 million, dan terendah $673,000 - $ 100 billion.

o  Independent variable: adalah knowledge intensity of new market

o  Dependent variable: market prediction of firm performance

o  Control variable” prior variable, knowledge relatedness, new market growth rate

Hasil kesimpulan dari penelitian

Hasil dari penelitian ini dengan menggunakan alat analisasi one ya ANOVA secara normative ada kesatuan asumsi antara dependent variable. Dimana ditemukan signifikan si antara strategi aliansi dan akuisisi ( F=5.305, p<.05)  yang mengindikasikan bahwa suatu ekspektasi pasar akan lebih tinggi terhadap kinerja strategi aliansi dari pada stratgei akuisisi walaupun keduanya memberi pengembalian (returns) yang positif.

Kesimpulan yang dapat di garis bawahi bahwa strategi aliansi lebih memiliki konstribusi yang lebih dari pada akuisisi terhadap pengetahuan (knowledge-based) terhadap suatu pasar baru (entry a new market).

C.   Pembahasan

Beberapa pemikiran terhadap penelitian mengenai masalah strategi akusisi dan aliansi diajabrkan dibawah ini berdasarkan kerangkan teori dari buku acuan Hitt, Iriealn dan Hoskisson, ”Startegic Management” Thomson, USA, 2005

Hitt dkk, menyakan terdapat beberapa alasan perusahaan menjalankan strategi akuisisi dan melakukan akusisi terpilih, diantaranya adalah mencapai keunggulan bersaing melalui kekuatan pasar yang lebih besar, mengatasi hambatan masuk dan mempercepat proses masuk pasar. Alasan lain yang termasuk untuk menghindari biaya yang cukup berarti yang berkaitan dengan pengembangan produk baru, menghindari resiko dari pengembangan produk baru, mencapai diversifikasi dan akhirnya menghindari persaingan.

Meningkatkan kekuatan pasar:

Setiap pengusaha menginginkan perusahaannya memiliki kekuatan pasar yang lebih besar. Banyak perusahaan besar memiliki kompetensi inti tetapi tidak cukup besar mendaya  gunakan sumber daya dan kapabilitasnya. Kekuatan pasar biasanya dihasilkan dari ukuran perushaaan dan sumber daya serta kapabilitas perusahaan untuk bersaing dipasar melalui pangsa pasarnya. Dari kasus akuisisi tidak jarang terjadi pembelian dari sebuah perusahaan dengan perusahaan pesaingnya pada industri yang sama.

Akusisi terhadap perusahaan pesaing dinamakan dengan akusisi horizontal (horizontal acquitition), sedangkan akuisisi terhadap perusahaan dalam industri terkait disebut akuisisi terkait (related acquisition)
 

Membuat hambatan masuk;

Perusahaan yang kuat dan besar biasanya melakukan akuisisi dengan maksud untuk menghalangi atau mempersulit suatu perusahaan untuk masuk pada kategori produk tersebut dalam suatu industri. Perusahaan baru atau perusahaan yang membuat produk baru akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan usaha dan membuat mereka membutuhkan alokasi dana yang besar bila memasuki celah pasar tersebut.

Sistem distribusi juga sangat berpengaruh bila hendak memasuki suatu pasar baru, dibutuhkan distirbusi channel yang efisien dan efektif, fasilitas barik dan iklan yang besar untuk menghasilkan penjualan yang cukup supaya perusahaan dapat mencapai skala ekonomis dan menawarkan harga yang bersaing bagi konsumen.

Akuisisi membutuhkan biaya yan besar, namum perusahaan yang mengakuisisi perusahaan yang telah beroperasi bisa langsung segera mendapatkan akses pasar dan melakukan hal serupa dengan produk yang mungkin memiliki basis pelanggan yang setia. Dalam kenyataannya, semakin tinggi hambatan masuk,semakin besar kemungkinan akuisis akan dilakukan untuk memasuki suatu pasar.

 

Biaya dan kecepatan;

Usaha pengembangan produk baru secara internal cukup mahal dan membutuhkan waktu yang panjang untuk memajukanproduk dan menghasilkan pengembalia investasi yang menguntungkan. Pengembangan usaha baru, misalnya membutuhkan rata-rata delapan tahun untuk bisa menghasilkan laba dan 12 tahun untuk menghasilkan arus kas yang cukup. Suatu riset pernah membuktikan bahwa hamper 88 persen inovasi gagal mencapai pengembalian atas investasi. Selanjutnya, kira-kira 600 persen dari inovasi bisa ditiru secara efektif dalam empat tahun setelah hak paten di peroleh. Karena itu pengembangan usaha secara internal sering diasakan para manajer sebagai suatu yang berisiko tinggi. Masalahnya adalah dibutuhkan biaya pengembangan dan peluncuran produk baru kepasar yang signifikan.
Dengan kebijakan mengakusisi suatu perusahaan yang mapan, meskipun kadang lebih mahal, adalah tidak terlalu beresiko Karena terdapat data histories mengenai kinerja perusahaan yang bisa dipergunakan untuk mengevaluasi kepentingan.
Keuntungan akuisisi adalah menawarkan akses cepat kedalam pasar dengan basis volume penjualan dan pelanggan yang nyata

Resiko

Resiko disini mengandung arti bahwa dengan strategi akuisisi usaha baru yangcdikembangkan secara internal memiliki resiko yang tinggi. Dilain pihak akuisisi memberi pengalaman bahwa keuntungan dapat diprediksi dan diestimasi secara akurat. Karena perusahaan yang diakusisi memiliki data histories yang dapat dianilisa, terutama tentang peramalan pendapatan, dan beban biaya yang akan ditanggung. Untuk produk yang baru data histories tentu saja tidak ada.

Mengembangkan Diversifikasi

Perusahaan yang kuat modal salah satu usaha untuk melakukan diversifikasi usaha (mendirikan suatu unit bisnis baru yang berbeda kategori produk yang mungkin berbeda industri-penulis red) dengan cara akuisisi. Sebuah perusahaan mungkin menemukan bahwa lebih mudah mengembangkan produk baru dan usaha baru dalam pasar yang ada karena manajernya lebih memahami produk dan pasar. Begitu juga sebaliknya perusahaan sering mengembangkan produk baru yang berbeda dari produk yang telah ada dan memasuki pasar baru karena manajernya kurang memahami pasar tersebut. Sehingga akusisi menjadi hal yang lumrah bagi perusahaan untuk mengembangkan produk dan usaha baru nya.

Menghindari persaingan

Di negara-negara yang industrinya telah maju terutama di Amerika Serikat, menggunakan strategi akuisisi untuk pasar, baik yang ada hubungannya atau tidak dalam rangka mengurnagi ketergantungan terhadap pasar yang memiliki persaingan tajam, biasanya terhadap perusahaan asing (foreign company).


Beberapa permasalahan dalam akuisisi

Hitt dkk menguraikan ada beberapa permasalahan yang timbul dalam strategi akuisisi ini, antara lain; tingginya nilai beli perusahaan yang hendak diakusisi, kesalahan perkiraan (penilaian) mengenai kapabilitas dan stategis, tingginya biaya pelaksanan akuisisi, dan sulitnya mengintegrasikan perusahaan yang diakusisi. Hal –hal tersebut akan diuraikan dibawah ini,

Integrasi;

Perusahaan yang mengakusisi dan yang diakusisi menimbulkan masalah terhadap proses integrasi tersebut. Hal utama dalah bagaimana mempertemukan dua budaya perusahaan yang berbeda, menghubungkan sistem keuangan dan pengendalian yang berbeda, membangun hubunga kerja yang efektif (bila gaya manajemen yang berbeda), memecahkan masalah yang berkaitan dengan perbedaan status eksekutif perusahaan yang diakusisi.

Harga beli yang tinggi (overpayment)

Perusahaan bisa saja membayar nilai akuisisi yang terlalu tinggi terhadap perusahaan yang disasar.  Apabila perusahaan tidak menganalisa perusahaan sasaran secara menyeluruh dan tindak mengembangkan pengetahuan yang cukup mengenai nilai pasarnya, perusahaan akan mengeluarkan modal yang besar.   Pemegang saham diperusahaan yang hendak diakusisi biasanya menawarkan harga sahamnya dengan harga premi yang lebih tinggi diatas harga saham yang berlaku (biasanya 40-60 persen)

Biaya akuisisi;

Pada awal tahun 1980-an di Amerika banyak terjadi akusisi perusahaan yang dibiayai dengan utang, yang dikenal dengan junk bonds. Ini merupakan jenis pembiayaan baru dimana aksisi yang beresiko dibaiaya dengan utang (hutang) yang memberikan pengembalian yang tinggi kepada peminjam (pemegang obligasi). Tingkat bunga junk bond berkisar antara 18-20 persen karena tanpa jaminan karena itu sangatlah beresiko.Tujuan dari hutang ini sebenarnya untuk menciptakan disiplin manajerial yang positif, sehingga memiliki pertimbangan leverage dalam akusisi besar. Terkadang biaya utang yang besar menjadikan biaya akusisi menjadi besar pula akibat factor-faktor eksternal yang seperti tingkat suku bunga.


Kesalahan menilai strategi
Kesalahan menilai strategi atau manfaat strategi terjadi dalam meraih keunggulan bersaing yang berkelanjutan dari akusisi. Pengetahuan yang cukup terhadap sinergi khusus (private synergy) dan keunggulan utama penggabungan yang tidak bisa ditiru pesaing. Sinergi khusus merujuk pada pemberian manfaat atas pengabungan perusahaan yang mengakuisisi dan diakusisi terhadap sumber daya dan kapabilitas yang masing-masing dimiliki sehingga menjadi suatu kekuatan yang tidak dimiliki oleh perusahaan yang lain. Kesalahan hal ini akan menjadikan perusahaan yang mengakusisi tidak akan mendapatkan pengembalian yang memadai.


Akusisi yang efektif

 

Lalu pertanyaannya bagaimanakah akusisi yang efektif itu? Hitt melakukan penelitian pada tahun 1993[1], bahwa perusahaan yang berhasil dalam mengakusisi selalu melakukan seleksi hati-hati terhadap calon perusahaan yang hendak diakusisi.dan mempertimbangkan negoisisai yang ada. Seleksi awal biasanya berbentuk hubungan kerja sama berupa usaha patungan atau aliansi startegi. Sifat usaha kausisi yang harus diperhatikan adalah perusahaan mempertahankan posisi hutang yang rendah atau wajar khususnya dalam membiaya akusisi. Hutang yang besar digunakan untuk membiaya akuisisi, hutang tersebut sebaiknya dikurang secara cepat dengan cara menjual asset perusahaan yang diakusisi. Asset yang dijual tersebut adalah asset yang dinilai tidak komplemen dengan bisnis perusahaan, atau tidak berkinerja baik.

Mengakusisi perusahaan harusnya yang memiliki komplementer bagi perusahaan yang mengakusisi. Ketika terjadi integrasi perusahaan akan terjadi sinergio dan kapabilitas yang positif. Sumber daya yang unik dari akusisi adalah hal yang positif untuk mendukung daya saing yang strategis perusahaan terhadap industrinya.

Perusahaan yang sukses dalam mengakusisi mampu menekankan inovasi dan meneruskan investasi penelitian dan pengembangan produk sebagai bagian dari stretegi keseluruhan. Komitmen manajemen untuk inovasi harus kuat dan tinggi.

Hal lain adalah kemampuan untuk beradaptasi dan fleksibilitas yang tinggi harus dimiliki perusahaan masing-masing. Pengalaman akan manajemen perubahan (change management) merupakan suatu syarat yang mutlak. Kemampuan adaptasi akan membantu perusahaan untuk lebih cepat, lebih efisien, dan lebih efektif dalam proses akusisi yang berlangsung untukmenghasilan sinergi yang positif.

 

Beberapa catatan tambahan:

o  Sudah saatnya mempertimbangkan faktor pengetahuan (knowledge-based) dalam sebuah proses akuisis dan aliansi, dalam jurnal yang dibahas menyatakan bahwa pengetahuan (knowledge based) sudah terintegrasi dalam sebuah perusahaan yang memiliki tacit knowledge (karena perusahaan yang diakuisisi jelas telah memiliki basis pengetahuan baik itu dari sisi operasional maupun pengetahuan akan pasar).

o  Faktor pengetahuan (knowledge based) maka perlu semacam metode assesment yang menjadi patokan bagi sebuah perusahaan yang hendak mengakuisisi sebua perusahaan. Metode assesment ini kiranya mampu menilai ”Nilai” faktor-faktor knowledge-based yang dimiliki suatu perusahaan yang hendak diakusisi, khususnya mengenai masalah keahlian yang dimiliki oleh manajer seniornya, pengetahuan pasar yang hendak dimasuki, prediksi (peramalan) akan pasar kedepannya, dan juga untuk mencapai suatu tujuan strategik.

            Contoh kasus: misalnya pembelian Lotus oleh perusahaan raksasa IBM pada tahun 1995 dimana perusahaan IBM harus membanya perusahaan Lotus sebesar $3,5 milyar, padahal pada saat itu pendapatan lotus empat belas kali lipat. Pembanyaran IBM kepada Lotus tersbut bukan karena ingin mengganti pendapatan lotus tersebut. IBM melakukan akusisi karena Lotus memiliki pengetahuan yang unik mengenai Notes dan berbagai kalborasi aplikasi piranti luanknya. Penemuan notes lebih bernilai dari pada piranti lunak itu sendiri, dimana Lotus mampu memiliki kemampuan melahirkan generai berikutnya terkait dengan teknologi komunikasi dan informasi-sharing software. Lotus memiliki keterampilan, pengalaman dan kreatifitas yang IBM butuhkan untuk menerapkan pengetahuannya kedunia baru kolaborasi piranti lunak. IBM percaya bahwa kemampuan Lotus dengan pengetahuaannya lebih bernilai daripada semata-mata nilai keuangan yang diperhatikan

o  Ada konsep dalam manajemen yaitu knowledge management (manajemen pengetahuan) yang dimana dapat dipahami sebagai suatu strategi yang mengubah aset intelektual organisasi, baik informasi yang sudah terekan mapun bakat dari para anggotanya kedalam produktivitas yang lebi tinggi, nila-nilai baru, dan peningkatan daya saing. Selain itu ada juga yang mendefinisikan manajemen pengatahuan (Davids dan Voss 2002 dalam sangkala 2007)  sebagai suatu kesatuan sistem yang memungkinkan perushaaan menyerap pengetahuan, pengalaman, dan kreatifitas para stafnya untuk perbaikan kinerja perusahaan.

 

o  Kritik terhadap metodologi penelitian yang dilakukan oleh periset dengan menggunakan data sekunder, dalam hal ini mengunakan data publikasi baik online maupun online. Walaupun dibenarkan namun penulis merasa penelitian tersebut memiiki kelemahan, karena mengandalkan data publikasi yang bisa saja memiiki kekuran validitas.  Tentu dengan melakukan metode kuesioner secara langsung walalupun itu membutuhkan biaya yang lebih besar tetapi tentu akan memberi signifikansi data yang lebih terpercaya dan akurat.

 
 

Bahan Referensi

1.       Michael A.Hitt, R.Duane Ireland, Robert E Hoskisson, ” Strategic Managemen”, Thomson, USA, 2005.

2.       M.A.Hitt, JS.Harriosn, R.D.Ireland dan A.Best 1993, “ lifting the vellof success in merger and acquititons”. Chicago. USA

3.       Annette L.Ranft, Sarah J.Marsh, ” Accessing Knowledge throught acquisition and alliances: An Emperical examination of New Market entry”, Journal of Managerial Issues, Vol XX Number 1 Spring 2008 p.51-67. ABI/INFORM Global.

4.       Sangkala, “Knowledge Management”, PT.RajaGrafindo Perkasa, Jakarta, 2007.



 

Senin, April 30, 2012

belajar marketing di Indosat







Mengampuh mata kuliah marketing (pemasaran) tahun ini di Fakultas Ekonomi UNHAS (yang tahun ini telah berganti nama menjadi Fakultas Ekonomi & Bisnis) suatu pengalaman yang menantang dan mengaksyikkan. Setidaknya saya bisa membuat suatu variasi belajar (istilah saya). Variasi ini berbentuk mengajak anak-anak mahasiswa berkunjunga keperusahaan-perusahaan.

Dengan memanfaatkan pertemanan di kepengursan IMA Sulsel (Indonesia Marketing Associaiton) chapter Sul-Sel, saya dapat dengan mudah mengadakan semacam company visited (kunjungan perusahaan) kebeberapa perusahaan.

Kali ini kami diterima di Graha Indosat cabang Makassar yang terletak di jalan Slamet Riyadi No 4. Alhamdulillah pada hari selasa 30 April 2012, dan diterima langsung oleh petinggi-petinggi di Indosat untuk wilayah Sulampapua. Ada Pak Guntur Barlian sebagai bosnya costumer care, ada pak reo (bosnya VSAT), dan ada ibu Rosna (bosnya graham indosat Makassar).

Minat mahasiswa pun cukup banyak yang hadir kurang lebih 40 orang. Mereka adalah mahasiswa kelas pemasaran dasar tahun ini.

Indosat kita kenal sebagai salah satu perusahaan provider penyedia jasa layanan telekomunikasi dan data di tanah air kedua terbesar setelah Telkomsel. Dari pertemuan ini kami mendapat banyak sering pengetahuan khususnya bagaimana Indosat me-maintance costumernya (relationship costumer). Indosat sadar bahwa loyalitas pelanggan itu sangat penting untuk di bisnis telekomunikasi. Oleh karena itu care dengan konsumen merupakan suatu hal yang tidak dapat ditawar lagi. Ini dibuktikan bahwa begitu banyak nomor indosat yang dimiliki oleh konsumennya yang telah lebih 10 tahun penggunannya.

Bisnis telekomunikasi saat ini melahirkan persaingan yang sangat ketat. Dalam konteks bukum dr.Kim (blue ocean strategy), pemain telekomuniikasi masuk perangkap dalam red ocean. Oleh karena itu setiap provider harus kreatif mencari inovasi-inovasi layanan telekomunikasi kepada nasabahnya diluar bisnis utama mereka sebagai telekomunikasi.
Bagi mahasiswa silahkan kembali belajar, mudah-mudahan masih banyak perusahan-perusahaan yang mau menerima kunjungan kita di agenda pertemuan berikutnya



Sabtu, Desember 24, 2011

Mahasiswa yang berwirausaha

Pengangguran terdidik bukanlah sebuah fenomena yang baru di negara kita. Hal ini merupakan sebuah paradoks yang menyedihkan. Mengatasinya bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah. Kalau kita terus menunggu dan mengharapkan sistem menjadi sempurna tentu kita sudah ketinggalan kereta. Etos kemandirian harus kita kembangkan sedini mungkin. Salah satu semangat yang harus kita tanamkan adalah semangat enterpreneurship atau kewirausahaan.
Kritikan yang paling banyak ditujukan terhadap lembaga pendidikan kita karena tidak mampu mencetak sarjana-sarjana yang berkualitas untuk bersaing. Bila dibedah lebih lanjut, variabel-variabel lainnya seperti kurikulum yang begitu berbelit-belit dan terlalu dipaksakan, jauh dari kebutuhan dunia kerja, kualitas para dosen serta infrastruktur yang serba jauh ketinggalan bila dibandingkan di negara-negara tetangga.
Di sisi lainnya adalah pemerintah, yang tidak mampu mengatasi permasalahan pengangguran. Pemerintah tidak dapat menyediakan pekerjaan yang layak bagi masyarakat. Lihat saja angka pengangguran sampai saat ini makin meningkat, ditambah lagi dengan adanya krisis ekonomi tahun 1997 yang banyak menimbulkan PHK, otomatis para penganggur makin banyak. Sampai tahun 2000 lalu, data dari Depnaker menyebutkan bahwa pengangguran di Indonesia ada sekitar 36 juta orang. Pengangguran di sini didefenisikan bahwa orang yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu.
Lulusan strata-1 yang menjadi pengangguran sekitar 300 ribu orang (Kedaulatan Rakyat, November 2000). Tentu ini sebuah angka yang cukup besar bagi negara yang berpenduduk sekitar 200 juta jiwa ini. Tidak tersediannya lapangan kerja yang cukup bagi masyarakat malah menimbulkan masalah-masalah sosial. Lihatlah menjelang krisis ekonomi negra kita (pasca tumbangnya orde baru) tindakan kriminalitas meningkat, kerusuhan-kerusahan sosial terjadi di mana-mana yang salah satu variabel penyebabnya adalah tidak adanya pemerataan kesempatan kerja terutama antar desa dan kota, pusat dan daerah-daerah lainnya.
Memikirkan kemudian menyesali semua kebobrokan tersebut bagi kita, kaum mahasiswa bukan jalan yang terbaik. Hanya timbul sikap saling menyalahkan, dan hanya berjalan di tempat saja. Semuanya itu tidak bisa memperbaiki nasib kita. Sudah saatnya memikirkan diri kita sendiri, nasib kita tidak tergantung dengan segala sistem yang ada tetapi ada di tangan kita. Kalau terus menunggu dan mengharapkan sistem menjadi sempurna tentu kita sudah ketinggalan kereta. Etos kemandirian harus telah kita kembangkan sedini mungkin. Salah satu semangat yang harus kita tanamkan adalah semangat enterpreneurship atau kewirausahaan.
Mengenal Enterpreneurship
Bagaimana dan apakah semangat kewirausahaan itu? Sebelumnya kita harus mengerti dulu terminologi dari enterpreneurship itu sendiri. Menurut pakar kewirausahaan, John Kao, kewirausahaan adalah suatu upaya menciptakan nilai melalui pengenalan pasar, peluang bisnis, manajemen pengambilan resiko yang sesuai dengan peluang dan komunikasi yang terampil serta manajemen untuk memobilisasi sumber daya manusisa, keuangan dan material yang di perlukan agar suatu proyek sukses.
Perlu direnungkan bahwa wirausaha selalu mengacu pada sifat keberanian dan kehandalan mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan diri sendiri. Unsur penekanan untuk berdiri sendiri, selalu mencari peluang kemudian meresponnya dan menjadikannya sebagai peluang merupakan kunci utama. Peter Drucker (1986) mengemukakan hakekat wirausahawan adalah mereka yang selalu mencari perubahan, meresponnya, dan menjadikannya sebagai peluang.
Untuk menjadi wirausahawan perlu memiliki sikap-sikap pertama, inovatif, yakni selalu melihat kekurangan yang ada dan berupa menambahkan kekurangan tersebut sehingga lebih bernilai. Salah satu contoh seorang wirausahawan yang inovatif dimiliki negara ini adalah pendiri PT Aqua Golden Missisipi. Pak Tirta, yang memberi nilai tambah dari air minum untuk sehari-hari dikemas dalam suatu kemasan sehingga lebih memiliki nilai tambah.
Kedua, berani mengambil resiko. Resiko adalah sesuatu yang harus di hadapi dan takut adalah sesuatu yang harus disingkirkan. Kalau kita takut untuk memulai kita tidak akan bisa menuai hasilnya. Bob Sadino adalah contoh dalam hal berani mengambil resiko. Pemilik Kem Chick's pada saat mengawali karirnya tidak takut pada resiko, ia menjual telur ayam dari peternakannya padahal pengetahuan tentang ayam yang dia punyai nol. Lihatlah sekarang usahanya telah menjadi perusahaan besar di bidang industri pengadaan makanan dari daging segar, sampai sosis, telur, samapai rempah-rempah.
Ketiga adalah tanggap terhadap perubahan dan mencari peluang. Seorang wirausahawan bereaksi secara positif terhadap perubahan. Memandang perubahan sebagai potensial opportunity, sebagai inspirasi untuk tujuan dan sasaran barunya. Keempat adalah bekerja dengan cerdas. Melakukan kegiatannya tidak seperti pekerja kerah biru, mampu bekerja secara efisien dengan hasil yang maksimal.
Nah bagaimana tanggapan Anda sebagai mahasiswa saat ini? Apakah memiliki keberanian untuk terjun sebagai pengusaha bila kelak lulus nanti?


Andi Nur Bau Massepe, Yogyakrta 2001

* pernah dimuat di edisi di situs detik.com/kampusonline. (edisi Jumat, 27/04/2001)
* Penulis adalah wartawan freelance detik.com kanal kampus online dan juga Pemred Majalah Motivator, yogyakarta
* Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan manajemen STIE YKPN Yogykarta

Rabu, Maret 23, 2011

Berpikir Sederhana


Ada yang menyarankan agar saya membaca buku Who Moved My Cheese?, karya Dr. Spencer Johnson. Karena isinya sangat menarik dan relevan dalam menyikapi perubahan dewasa ini, dalam tempo singkat buku itu langsung saya lahap. Buku ini bercerita tentang empat "karakter" dalam menyikapi perubahan.

Dalam kehidupan, kata Ken Blanchard--kolega Johnson yang memberi kata pengantar dalam buku ini--kita memang memburu sesuatu. Sesuatu yang kita cari dalam hidup ini amat bervariasi: pekerjaan, kasih sayang, kesehatan, cinta, kebebasan, kemerdekaan, kedamaian, pengakuan, atau uang, rumah besar, mobil, untung dalam berusaha. Semua yang dicari manusia dalam kehidupan itu dimetaforakan dengan begitu indah oleh Johnson sebagai keju (cheese).

Tapi, tentu saja apa yang kita cari itu tidak selalu ada begitu saja. Kita harus bekerja untuk mendapatkannya. Setelah didapat, ternyata keju pun tak selalu ada di sana. Si keju bisa berkurang, berpindah. Persoalannya, bagaimana kita tahu apa yang kita cari itu bisa berubah dari waktu ke waktu, atau bagaimana menghadapi perubahan-perubahan itu agar kita bisa mendapatkannya kembali?

Empat karakter yang dilukiskan Johnson terdiri dari dua ekor tikus bernama "Sniff" dan "Scurry" dan dua manusia kecil bernama "Hem" dan "Haw". Keempatnya bergerak menjelajahi sebuah maze, jalan berliku yang banyak pilihan, namun beberapa di antaranya buntu sehingga mereka harus kembali lagi mencari jalan yang benar. Kalau ketemu, mereka akan bermuara pada beberapa stasiun. Keju kehidupan atau kebahagiaan yang diceritakan dalam buku ini ada pada beberapa stasiun tersebut. Tentu saja keempat karakter itu harus bergerak, mencari keju yang dimaksud.

Sniff dan Scurry, sesuai dengan namanya, adalah karakter yang selalu bergegas, bergerak menggunakan naluri dan penciumannya. Adapun Hem dan Haw adalah kiasan tentang karakter yang ragu-ragu dalam bertindak. Meski karakternya antagonis, akhirnya keempat karakter tersebut berhasil menemui keju mereka masing-masing di stasiun yang berbeda. Tapi, seperti biasa, esoknya mereka kembali ke tempat yang sama untuk menikmati keju tersebut. Demikian seterusnya dari hari ke hari, seperti manusia berangkat dan pulang bekerja menuju tempat yang sama.

Kisah ini menjadi menarik ketika Hem dan Haw tiba-tiba protes karena keju yang mereka cari tidak lagi berada di tempatnya. Mulanya mereka marah dan berteriak. Mereka tidak mencarinya di tempat lain, tapi lebih banyak berdiskusi. Mereka percaya, keju itu cuma pergi sebentar dan nanti akan ada lagi seperti semula. Yang tidak mereka sadari, perubahan sudah terjadi perlahan-lahan. Keju itu sudah mulai berkurang dari waktu ke waktu sampai akhirnya hilang. Setelah lama tidak kembali, akhirnya mereka mengalami keletihan. Pada saat itulah mereka mulai menduga jangan-jangan keju itu telah pindah ke stasiun lain. Mereka lalu mengambil palu, menjebol dinding sebelah, tapi sayang keju itu tak ada di sana.

Itulah manusia yang berpikir kompleks, yang terikat dengan pikiran-pikiran dan pengalaman-pengalaman masa lalunya. Mereka bekerja dengan menggunakan metode yang kompleks, jelimet, terlalu menggantungkan pada kemampuan otaknya, yang kadang diwarnai sudut pandang yang dianutnya.

Adapun Sniff dan Scurry adalah karakter manusia "tikus" yang berpikir sederhana. Begitu sederhananya, sehingga intuisi lebih banyak berperan. Tanpa pengetahuan, manusia akan bergerak tidak efisien, metodenya trial and error. Ia lebih banyak menggunakan penciumannya ketimbang otak atau pengetahuannya. Maka, ketika keju itu berkurang, nalurinya segera memerintahkan untuk melakukan sesuatu. Demikian pula ketika keju itu hilang, mereka tidak berpikir atau berdiskusi lebih dulu, tapi langsung mencari ke sana-ke sini.
Menariknya, mereka yang berpikir sederhana inilah yang akhirnya selamat dalam perubahan. Mereka capek, tidak efisien, tapi tidak pernah putus asa sampai akhirnya menemukan stasiun lain yang masih ada kejunya.

Pembaca, ketika rupiah kembali melemah dan menembus batas psikologis Rp 10.000 per dolar AS, tentu saja banyak pihak yang panik. Saya percaya sedikit sekali di antara kita yang bisa lolos dari persoalan ini. Keju kehidupan yang lama kita nikmati bisa menghilang tiba-tiba. Tapi, tentu saja di antara Saudara ada yang mempunyai "karakter tikus". Manusia "Hem dan Haw" sebaliknya akan menghadapi perubahan ini dengan keragu-raguan, tapi mereka tetaplah manusia.

Berpikir kompleks dan berpikir sederhana tentu saja ada di mana-mana. Tinggal Saudara mengatur berapa besar kadarnya untuk menciptakan keseimbangan dalam hidup. Kata Albert Einstein, "Everything should be made as simple as possible, but not simpler." Saya sudah lama menganut falsafah itu, sehingga dalam berceramah atau menulis, memberi pelatihan atau mengajar, saya selalu percaya bahwa topik berat harus bisa disajikan dengan sesederhana mungkin agar bisa digunakan untuk kehidupan.
 
Oleh Rhenald Kasali
 

Kamis, Desember 24, 2009

The meaning of working for fresh graduate


What the meaning of working for me?  Its question for me after I finished on master degree program at College business administration Gadjah Mada University in the middle 2004 years. If I asked my friends, what are the meaning works for you? Sometimes nobodies could exactly answer this question. Why? I thought it’s a personal question, no easy to answer.
There are several questions always asking in my mind about the meaning of work before. First, where I will be working after graduated? What kind of jobs good for me? How much salary will be acquired? Yah, these are commonly asking for fresh graduated like me.
Salary sometime it’s a second priority for them, because they need experience for the first. Working at the big corporation is preferred, because it can be made prestigious. Mostly people in the fist time they work assume, was it a good job for me? Was it providing challenge to develop my personality and my attitude? Was it job giving me self satisfaction? The important, was the management company had big opportunity for reach the top management?
I observed several fresh graduates who start to looking a new job at the 2nd year. If they felt boring and no challenge again at the work place, they would be quit and move another carrier. Some time different industry and corporation.
Many fresh graduates would be move if they are offered a new job give a new challenge and higher salary and responsibility. No loyalty for them, the important are a good situation and more advantages for them. In my country people always moving the place work is called “kutu loncat”, if translate in English is “jump bug”.
The concept of working maybe has different meaning for people whom married and having family. The most consideration for where they work is their family. The women always preference working a near at home, especially if she having a baby.  The woman should be carrying their baby and give more time than responsibility at the work places.
How about the man value about working? Sometimes no many considerations about where he should working.  Because, as a leader for the family, the important for they, the companies give enough money for his family. The companies give assurance for the future especially for their child, health and good accommodation likes houses, vehicle, education for their child, and retired insurance.
Its just share about working, so many different opinion about it, depends the mans values and culture. How about you?
 
from me: Andi Nur Bau Massepe
Diliman City, Manila 2009

Minggu, Januari 11, 2009

Intramuros Kota Sejarah di Manila










Hari minggu di Manila, tanggal 11 Januari sebelum balik ke tanah air. Saya menyempatkan diri jalan di sudut kota manila. 

Melihat keindahan Intramuros. Saya rasa tidak berbeda jauh dengan Indonesia, Di Filipina yang beribukota Manila memiliki kawasan atau tempat-tempat bersejarah. 

Saya beruntung bisa berkunjung ke Intramuros. Disana pemandangannya sebagian besar bentuk peninggalan sejarah dari negara Spanyol. Lihat saja  berupa gedung-gedung, yang menjadi warisan tersebut berarsitektur khas Spanyol. 

Dengan naik bendi atau kalesa (bahasa tagalog-red), ditemani pak kusir yang berbahasa Inggris atau Taglis, 

(saya ingat sewaktu masih kuliah di Jogja dulu tahun 1997-2004) Mereka pandai menjelaskan tentang sejarah dari kota ini. 

Suasananya pun sebenarnya mirip kalau berkunjung di kraton Ngajogjakarto. 

Di Intramuros kita dapat melihat berbagai bangunan kuno peninggalan Spanyol. Beberapa tempat terkenal seperti Fort Santiago, City Plaza, Casa Manila yang merupakan rumah tertua, hingga San Agustin Church yang telah masuk Situs Warisan Dunia UNESCO.

Saya cuman kagum betapa pemerintah disin merawat dengan baik segala yang ada dikota itu. Terlihat bersih, aman dan nyaman.