Minggu, Juli 13, 2008

Best Life ala mistikus korporasi Indonesia


Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis resensi dari buku ini. Buku refleksi kehidupan kaum top executive kalo bisa saya memberi label kedua buku ini. Buku yang berjudul The secret of better life dan Best Life yang ditulis oleh Ir. Stefanus Indrayana, MBA dan Ir.Goenardjoadi Goenawan, MM.

Selintas mengeni kedua penulis, Stefanus Indrayana saat ini adalah Direktur Pemasaran PT Samsung Electronic Indonesia (SEIN) yang bertanggung jawab atas strategi pemasaran produk-produk Consumer Electronic dan Information Technology dan Corporate Markeitng Samsung di Indonesia. Pengalaman bekerja dibidang pemasaran diawali ditahun 1987 sebagai marketing manajer Consumer Goods pada Tempo Group, kemudian beralih di ke Toshiba kemudian di Philips dengan posisi General Manager.

Sedangkan Rekannya yang bersama menulis buku Ir.Goenarjoadi Goenawan, MM. adalah pelaku bisnis Franchisor rekaman Talent Box yang sudah tersebar dikota-kota besar di Indonesia. Pengalaman marketingnya pun sudah teruji pernah bekerja diperusahaan multinasional dan lokal. Perusahaan tersebut adalah Colgate Palmolive, Gillette Asia Pasific, Wings Group, Tjiwi Kimia, dan jabatan terakhir sebagai Business Development Manager Consumer Product pada Hewlett Packard Indonesia.

Saya berkenalan dengan pak Stefanus Indrayan sewaktu menggelar seminar di Makassar berjudul Marketing Outlook, Geeting out of price war yang diselenggarkan oleh Indonesian Marketing Association (IMA) chapter Sulsel, bersama Yuswohady dari Markplus pada tangal 8 Februari 2008 lalu di Hotel Horizon Makassar.

Sewaktu perjalan mengantar beliau pulang ke bandara Hasanuddin, tercipta percakapan ringan yang saya merasa banyak mutiara kehidupan yang berguna bagi saya dari beliau. Sebagai seorang yang berkecimpung dibidang pemasaran, dan pengalaman memimpin korporasi menulis buku tentu butuh suatu energi tersendiri, disamping kesibukannya sehari-hari dikantor.

Stefanus dan sobatnya Goenardjoadi membuat buku yang berjudul The Secret of better life dan Best Life (Elex MediaKomputindo, 2007) sebenarnya memiliki tujuan adalah mengajak para kaum professional dan eksekutif yang sehari-hari sibuk bergelut dengan pekerjaannya dikantor untuk sejenak melakukan refleksi dengan pertanyaan-pertayaan Apakah hidup kita ini telah menemukan makna dan bahagia? Mengajak kita berpikir kembali, Apa misi kita hidup didunia? Untuk apa kita diciptakan dan dilahirkan di buim ini? Apa yang telah kita kerjakan selama ini bagi kemasyahlatan orang banyak. Apakah kita sudah berada dijalan yang benar?

Pertanyaan-pertanyaan sepele, bahwa kalau bisa saya bilang sudah sering kita dengar dan baca, tapi apakah kita betul-betul memahami?
Nah buku-buku ini dapat juga dijadikan buku exercise, Mengapa? Cobalah ambil waktu satu-dia jam dihari libur Anda. Cari tempat yang nyaman dan tenang, matikan handpone dan jauhi segala macam benda-benda yang berkaitan dengan tugas-tugas harian Anda. Kemudian baca buku best life dan the secret of better life, ikuti saja alur bukunya. Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di buku, dan simak kisah-kisah dalam buku (story box). Semuanya akan membawa kita kedalam refleksi pribadi masing-masing.

Buku-buku refleksi ini lahir sebagai suatu hasrat untuk berbagi kisah. Pengalaman bekerja puluhan tahun diperusahaan multinasional khususnya perusahaan Korea seperti Samsung. Berbagi nila-nilai kehidupan yang universal, lintas agama, dan yang paling penting adalah jujur akan kehidupan yang kita jalani dalam menemukan kebahagian jiwa.

Dalam buku The secret of better life diuraikan bagaimana seseorang untuk mengenal jiwa yang bahagia, itu dimulai dengan;1)pengenalan jiwa dengan memenuhi kebutuhan didengar, 2) mendapatkan jiwa dengan mengalahkan ego yaitu terbebas dari ambisi, 3) memberi makan jiwa dengan menolong/memberi atau berbuta kebaikan, 4) mengembangkan kebijaksanaan dengan mengerti kebenaran. 5) menguatkan identities sosok jiwa kita dengan mencari jati diri, 7) mencapai kesempurnaan jiwa dengan mencapai kemuliaan.

Kita kadang kurang sadar, bahwa selama ini hidup kita, rutinitas kita malah membuat kita tidak enjoy dalam hidup. Banyak hal yang kadang kita lupakan dalam hidup. Kita lupa mendengar kata hati kita, dan juga jarang mendengar kata hati pasangan hidup kita, orang-orang yang kita cintai, anak kita, sanak saudara kita, rekan kerja kita.

Penulis mengajak kita untuk bertanya dan menggali lagi makna hidup. Teori Hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow menjadi landasan dari kedua buku ini. Kebutuhan Maslow paling dasar dimulai dari kebuthan fsiologi makan dan minum, selanjutnya kebutuhan akan rasa aman, rasa cinta dan dimiliki. Kemudian kebutuhan akan pengakuan dan kebutuhan terakhir adalah mencapai aktualisasi diri atau mencari jati diri. Begitulah kira-kira.
Kalau anda sering membaca buku-buku karya Emha Ainun Nadjib trus ada lagi buku refleksi Komaruddin Hidayat yang sifatnya mengarah nilai-nilai Islam, nah buku karya Stefanus Indrayan dan Goenarjoadi Gonawan boleh disebut buku refleksi dari kaum korporasi atau eksekutif dilevel korporat dengan nilai-nilai yang universal.
Saya jadi ingat buku The Corporate Mystic karya Gay Hendricks dan Kate Ludeman (2002) yang saya pernah tulis resensinya diblog saya juga. Dalam buku itu diceritakan bahwa penulis melakulan riset mewawancara kurang lebih 1000 orang eksekutif puncak pada perusahaan korporasi. Disimpulkan para pebisnis memiliki sifat sifat yang biasanya dimiliki oleh para mistikus. Mereka sangat menjaga etika dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual. Mereka melihat perusahaan sebagai perwujudan kolektif roh, mengandalkaan intiusinya dan tahu bagaimana cara menggunakan pada saat yang diperlukan. Mereka menghadirkan bukan hanya dompet melainkan juga hati dan jiwa mereka dalam bekerja yang disebut oleh penulis buku sebagai Mistikus Korporat.

Dalam buku-buku yang saya bicarakan tadi terdapat nilai-nilai seorang mistikus korporat. Dimana bekerja tidak hanya untuk hidup, tetapi bagaiman bekerja itu memiliki makna bagi orang lain dan orang-orang yang kita cinta. Buku-buku tersebut layak dibaca bagi para eksekutif perusahaan diwaktu senggang untuk menemukan value baru dan melakukan refleksi kehidupan.
Wassalam…
Andi M Nur Bau Massepe
Makassar
Membership of Director IMA Chapter Sulsel

Rabu, Februari 13, 2008

Berkunjung di Asian Development Bank

ASIAN DEVELOPMENT BANK

Kamis, Februari 07, 2008

Anak ng up menjadi mahasiswa UP










UP atau University of Philippines (kampus Diliman) menurut wikipedia adalah  Didirikan oleh pemerintah kolonial Amerika pada tanggal 18 Juni 1908, pada awalnya sebuah universitas disusun untuk orang-orang Filipina

Disinilah saya pernah berlajar dan menjadi Universitas luar negeri Pertama yang kunjungi bersama teman-teman program doktor S3 di fakultas ekonomi Universitas Hasanuddin. 

Kami disana dari bulan november 2008 sampai Januari 2009, terpilih dalam beasiswa dikti untuk sandwich program program S3 angkatan pertama. 

Maaf tidak bisa panjang-panjang karena sibuk, apalagi perdalam bahasa inggris dan bahasa tagalog.



Jumat, Agustus 17, 2007

Broker juga MANUSIA !

Membaca kata broker,apa persepsi yang muncul dipikiran kita? Persepsi kita bisa berarti orang yang suka minta komisi, ada unsur percaloan, atau malah perspektif yang negatif seperti masalah menjandi panjang. Broker sendiri berarti pedagang perantara. Mungkin takala zaman belum seperti sekarang, seorang produsen yang menciptakan suatu produk disebabkan memiliki keterbatasaan waktu dan tenaga untuk menjual dan memasarkan produknya, kemudian menggunakan jasa broker dengan imbalam komisi bagi yang mampu membawa pembeli.


Broker bertindak sebagai pedagang perantara, berfungsi mempertemukan penjual dan pembeli sehingga mempercepat dan membantu kelancaran proses negoisiasi. Hasil akhir adalah memperoleh komisi dari jasa layanan mereka. Broker menjual informasi tentang apa yang dibutuhkan pembeli, dan mencari pemasok-pemasok mana yang menyediakan barang kebutuhan tersebut.


Dunia per-broker-an tidak bisa lepas dalam kehidupan sehari-hari kita. Dalam hal percintaan terkadang muncul juga broker yang kita kenal dengan istilah mak comblang. Tugasnya sebagai katalisator, dalam ilmu kimia, katalisator diperlukan bila ingin melarutkan dua zat yang sulit menyatu tapi dengan adanya katalisator maka zat tersebut akhirnya dapat menyatu.


Mak comblang juga ini berfungsi sama seperti itu. Dialah yang aktif berperan untuk bagaimana dua orang yang sedang jatuh cinta ini agar dapat bersatu. Dan bila jadian etika-nya sih ada komisi, biasanya bentuk traktir makan sebagai rasa syukur.


Dibidang property, seorang broker memiliki peran untuk menegosiasikan penjualan property antara penjual dan pembeli dengan imbalan komisi tertentu. Sebagai broker professional mereka harus bertindak bagi kepentingan penjual dan pembeli dan buka untuk dirinya sendiri, selain itu juga harus bisa menjadi problem solver, mencari solusi bila ada ketidak sesuaian antara penjual dan pembeli dengan pendekatan win-win solution.

Semenjak saya “terdampar” di ERA, agen broker property banyak hal yang mengubah pandangan saya tentang broker. Sepertinya tugasnya mudah, cukup menghubungkan antara pemilik property dan calon buyer, tapi ternyata tidaklah demikian. Dalam dunia ini justru dikenal “pulungan” (bahasa Jawa), atau jodoh-jodohan . Bila sesama marketing associate tidak jadi closing (transaksi), antara pembeli dan penjual tidak terjadi kecocokan dan tidak terjadi transaksi, kata-kata yang sering muncul pun adalah…”yah sudalah mungkin belum jodoh!” Lemas lagi…..!


Kali ini saya menulis bagaimana proses bisnis menjadi pebisnis broker. Tulisan ini masih kurang detail tapi saya mencoba garis besarnya saja. (Catatan: untuk istilah property itu dapat berarti rumah, tanah, bangunan komersial seperti rumah toko, ataupun gudang, bisa juga apartemen).


Usaha bisnis broker property sebenarnya tidak perlu banyak modal. Kecuali kita membeli waralaba atau franchise seperti ERA, Century 21, RayWhite, Coldwell Banker, dan lain sebagainya. Itu bisa kisaran 150 juta sampai 350 juta. Belum lagi kita harus menyiapkan budget untuk mencari ruang usaha sebagai kantor, 1 orang yang bertindak sebagai member broker atau managing director, 2 orang pegawai administrasi, 1 orang driver. Gaji mereka disesuaikan dengan UMR setempat, trus ada biaya overhead, seperti listrik, biaya telepon (line telepon minimal dua line). Kantor tidak perlu membayar marketing, karena mereka sifatnya menerima komisi saja.


Secara sederhana untuk usaha broker property bila TANPA system waralaba bisa dimulai dengan tim kecil saja. Modal utamanya tentu informasi, yakni mencari informasi property yang akan dijual atau mencarikan property bila kita mendapatkan seorang calon pembeli yang serius dan kemudian mengajaknya bertemu untuk deal harga.

Bagi hasil umum yang berlaku ada komisi berkisar 1 sampai 5%. Developer yakni yang membangun property biasanya berbentuk perumahan umumnya memberikan komisi antara 1-2% bagi broker tradisonal (BT) bila kita membawa buyer dan buyer tersebut membeli rumah developer itu.


BT adalah à orang yang menekuni profesi broker tanpa institusi tertentu seperti ERA,

Di ERA sendiri saya jelaskan untuk harga jual s/d 1 milyar komisinya 3%, 1 M s/d 3M komisi 2,5% diatas 3 Milyar komisi 2% sementara untuk komisi sewa (rumah, ruko atau tanah) sama rata dikenaikan 5%. Kalau kita sebagai marketing associate, itu pun ada bagi hasil sendiri dengan kantor ERA. Komisi 3% itu akan dibagi lagi dengan bagi hasil tertentu dengan sekian persen kantor ERA diwilayah jogja misalnya, kemudian royalty yang harus dibayar bagi pemegang waralaba, dan komisi antara marketing yang berhasil men-selling (menjual) dan me-listing rumah serta ada penghasilan dikenakan pajak.


Prospek mencari listing (maksudnya mencari pemilik yang sedang/ingin menjual atau menyewa property dan mempercayakan kita untuk memasarkannya), bisa kita dapatkan melalui kawan, kerabat, iklan baris disurat kabar, atau lagi jalan-jalan dan menemukan tanda didepan rumah pemilik. Semuanya itu bisa kita prospek agar bersedia diajak kerja sama dengan kita. Bila kita mendapatkan pembeli kita tawarkan mau tidak sang pemilik memberi komisi kepada kita, atau bekerja sama untuk deal harga, atau sistemnya jual harga dengan cara pemilik mententukan harga terserah kita mau menjual dengan harga berapa. Selisihnya itu menjadi milik kita.


Kegiatan untuk mencari pembeli bisa dilakukan dengan meng-iklan-kan property sang pemilik tadi, memang akhirnya kita harus mengeluarkan biaya. Dengan beriklan dari situ lah kita merespon calon pembeli yang betul-betul serius mau membeli rumah tersebut.


Nah bila ada respon iklan dari seorang yang bertanya tentang property yang kita iklan kan tadi, calon pembeli itu bisa kita approach dan follow-up agar mau mempercayai kita untuk berkeja sama mencari property sesuai kriteria mereka. Mungkin dengan bertemu langsung, dan berkenalan, sebagai seorang broker yang serius dan profesional tentu kita akan berusaha mencarikan tipe property sesuai dengan kebutuhan pembeli tersebut, dan bersama-sama meninjau lokasi.


Logikanya dengan mengiklankan property dari prospek listing tadi, kita mendapat respon dari yang membaca iklan kemudian bisa menyaringnya menjadi calon buyer, kemudian kita pun memiliki tugas baru lagi yakni mencari property yang diinginkan pembeli dengan cara melihat iklan di surat kabar, jaringan atau kawan sesama broker, atau dengan cara canvassing (kegiatan untuk mendapatkan prospek dengan berjalan-jalan disekitar lokasi tertentu).


Ada keahlian lagi yang diperlukan bagi seorang broker yakni kemampuan sosial atau human skill, interpersonal skill, komunikasi yang jelas dan baik, mampu membangun kepercayaan (trust) terhadap klien. Job broker ini berhubungan dengan orang-orang maka people skill sangat diperlukan, tidak ada salahnya memulai membaca buku tentang relationship dan personality. Selain itu memiliki kemampuan penjualan (selling skill) iyang harus terus menerus kita kembangkan. Kreatifitas kita dalam memasarkan dan menjual unit property suatu hal yang mutlak.


Satu hal lagi yakni sedikit punya pengetahuan dibidang legal dan hukum, yaitu membuat suatu perjanjian kerja sama, agar aman setiap perjanjian kerja sama sebaiknya dilakukan secara tertulis untuk menghindari pemilik yang tidak mau membayar komisi. Kita pun harus familiar dengan surat-surat seperti akta tanah, sertifikat tanah, jangan sampai misalnya kita menemukan masalah menjual tanah yang sedang bersengketa, adanya teman dibidang tersebut membantu kita dalam mencari solusi-solusi. Misalnya pada notaris, pejabat pembuat akta tanah ataupun didepatemen pertanahan.


Pengetahuan tentang arah perkembangan suatu daerah yang lazim disebut perencanaan tata kota harus dimengerti. Daerah mana yang akan berkembang sebagai daerah bisnis, dimana daerah yang prioritas pemukiman, daerah mana yang akan berkembang misalnya saja akan dibangun suatu pusat pendidikan haruslah kita ketahui. Naik turunnya nilai property sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang disebutkan tadi.


Bila tertarik untuk berkecimpung dibidang bisnis broker property ada baiknya bergabung dahulu disalah satu agen property yang sudah maju dalam system untuk belajar lika-liku bisnis ini. Sehingga kita dapat menghindari jebakan-jebakan yang mungkin bisa merugikan diri kita.


Bisnis perantara property harus sabar, terkadang menghadapi calon pembeli, mereka biasanya tanya macam-macam. Protes sana sini kondisi tumah tersebut. Mengoceh tentang property yang dibutuhkan. Itupun sudah capek temanin keliling seharian liat beberapa listing (property) namun akhirnya bila di tanyakan tidak sesuia kriteria, tidak jadi beli, atau tidak minat sama sekali. Ditelpon kembali tidak diangkat-angkat, alias dicuekin.


Kalau kisahnya sudah begitu, terkadagh ingin teriakkan, Broker Juga manusia..!! Punya rasa punya hati.... :P





Selamat berbisnis broker property.

bye:

Andi Nur Baumassepe

Mei 05. Jogja. Jakal

(dimuat di situs http://wirausahakita.blogspot.com/)

edisi mei 2005

Sabtu, Agustus 11, 2007

Dicari Pemimpin Daerah di era Informasi (3 of 3)

Hal kecil yang bernilai tambah

Suatu nilai tambah sendiri bila kepemimpinan Sulawesi Selatan periode kedepan mengimplementasikan sistem teknologi informasi dan komunikasi dalam pengelolaan pemerintahan sehari-hari.

Diperlukan adalah sebuah strategi yang jelas dalam menggapai VISI yang disingung diatas tadi. Adanya suatu strategi yang detail dan terukur akan menjadi suatu persyaratan mutlak agar investasi yang dikeluarkan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Pemimpin daerah di Sulawesi Selatan hendak memikirkan bagaimana pengadaan infrastruktur dan prasarana akses komunikasi data yang handal. Kita ketahui bersama bahwa investasi dibidang TI itu bukan lah murah tapi bukan pula tidak terjangkau. Dengan melibatkan pihak swasta yang kompoten tentu akan membantu. .

Setelah adanya suatu sistem teknologi yang handal, perlu dipikirkan bagaimana mengembangkan aparatur pemerintahan (SDM) untuk mengelola e-government tersebut. Proses seleksi PNS menjadi prasyarat menjaring calon yang memiliki pengetahuan yang cukup baik dibidang komputer dan teknologi informasi. Pelatihan dan pendidikan yang insentif agar diperoleh tenaga fungsional untuk menangani sistem yang ada.

Sistem teknologi informasi yang ada, tentunya akan memudahkan pemimpin mengembangkan suatu kepastian karir dan kesejahteraan bagi aparatur tersebut. Contoh kasus; adanya software kepegawaian (HRD) yang mengatur absensi dan informasi mengenai track record suatu pegawai didinas tertentu, memudahkan pemimpin untuk melaksanakan program punishment dan reward.

Strategi selanjutnya adalah menyangkut pengembangan sistem jaringan komunikasi yang terpadu antar department dan antar instansi dalam suatu daerah. Adanya hal ini akan memudahkan proses komunikasi dan kordinasi yang cepat serta dua arah suatu pekerjaan.

Diharapkan siapapun yang terpilih menjadi Gubenur atau kepala daerah daerah di Sulawesi Selatan tidak perlu lagi ragu dalam mengimplementasikan pelaksanaan tata kelola pemerintahan berbasis teknologi informasi.

Hal terkecil yang bisa kita harapkan ada nya perubahan dalam pemerintahan yang lebih transparan atau mengadopsi nilai-nilai Good Governance pada pelaksanaan pengadaan barang berbasiskan sitem teknologi informasi. Melalui sistem e-procurement, pengadaan tender disetiap instansi akan lebih terbuka dan transparan. Tujuan Bila dilakukan secara elekrtonik, pengadaan barang akan dilaksanakan dengan memanfaatkan fasilatas website pemda. Peserta pengadaan dapat diikuti oleh siapa saja. Pelaksanaan prose tender diharapkan akan berjalan dengan adil dan transparan.

E-procurement,

E-procurement adalah sistem pengadaan barang dan jasa melalui elektronik. E-procurment menjadi suatu hal kecil tapi bernilai tambah bagi pemimpin dalam tata kelola pemerintahan berbasis TI. Tujuan yang ingin dicapai dalam suatu sistem e-procurement adanya proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan suatu department secara efektif dan efisien dengan prinsip persaingan sehat, transparan, terbuka adil semua pihak/tidak diskriminatif.

Adanya sistem online dalam pengadaan barang dan jasa, memungkin proses penunjukan rekanan dilakukan secara transparan karena meminimalkan kontak langsung antara pemimpin proyek dan peserta tender.

Publikasi melalui situs secara real time yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Hal ini memberi peluang bagi siapa saja untuk berpartisipasi sehingga merangsang semangat kewirausahaan dikalangan masyarakat untuk menjadi pengusaha penyedia barang/jasa pemerintah. Hal ini tentu sangat sejalan dengan VISI untuk meningkatkan competitive development sehingga terbangun partisipasi aktif dimasyarakat khususnya bagi pemberdayaan ekonomi.

Pelaksanaan e-procurement juga berdampak pada penghematan biaya dan mempercepat proses pelaksanaan. Kita ketahui dengan sistem e-procurement pemerintah dapat memperbesar alternative untuk mendapatkan rekanan (penyedia jasa/barang) yang berkualitas sesuai dengan standar kelayakan suatu proyek.

E-procurement hanyalah suatu bagian dari tata kelola pemerintahan berbasis TI (E-government). Ini diharapkan bisa menjadi pemicu untuk mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih. Adanya sistem pengadaan yang buruk dan memiliki banyak peluang untuk penyalahgunaan akan tetap menyuburkan praktek korupsi, kolusi dan nepotiseme (KKN).

Indikator pemimpin daerah yang komitmen untuk mewujudkan tiga visi dasar diatas adalah menerapkan e-procurement dalam proses pengadaan barang dan jasa di instansi yang dia pimpin. Bermula dari hal kecil diharapkan akan menjadi pemicu untuk mewujudkan good governance yang merupakan “budaya” baru bagi pemerintahan saat ini.

Akhir dari tulisan ini ingin berseru tata kelola pemerintahan berbasis Sistem Teknologi Informasi atau disebut e-Government is not about technology but change of culture.

Siapa kah yang akan merubah “budaya“ tersebut? Tentu yang paling berperan adalah adanya seorang pemimpin yang akan memimpin proses perubahan dalam tata kelola pemerintahan. Siapa kah orangnya?

Oleh:

A.M.Nur Bau Massepe M.,SE,MM.

Penulis Adalah Pemerhati maslaah IT dan Pemerintahan
Dosen STMIK DIPANEGARA

Makassar, mei 2007


Dicari Pemimpin daerah di era Informasi (2 of 3)

Visi Pemerintahan berbasis TI

Dari berbagai literature dan wacana yang berkembang, ada tiga hal yang dapat menjadi VISI bagi pemerintah mengembangkan tata kelola pemeritahan berbasis Teknologi Informasi.

Pertama: mewujudkan Good Governance, bahwa pemanfaatan sistem teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pemerintahan yang baik mengaju pada peningkatan efisiensi, efektivitas, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan.

Kedua: excellent public services, semangat melayani bagi pemerintah diharapkan tumbuh, paradigma lama seperti “dilayanI” tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang. Pemerintah berperan aktif dalam memberi pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat dalam hal informasi, komunikasi, transaksi, serta meningkatkan daya saing didaerah masing-masing.

Ketiga; competitive development, mendukung terwujudnya masyarakat yang kompetitif dan menumbuhkan daya saing dan kemandirian diberbagai sektor khususnya perioritas dibidang yang diunggulkan didaerah ini antara lain pertanian & perkebunan, parawisata serta kelautan. Dalam hal pelayan pada masyarakat tidak hanya diserahkan, dibebani, atau menjadi hak dan tanggung jawab institusi publik (pemerintah) semata, tetapi sektor swasta dan non-komersial diberikan pula kesempatan untuk melakukannya. Di sini pemerintah harus mampu membuat sebuah lingkungan kompetisi yang adil, obyektif, tidak memihak, dan kondusif bagi tercapainya pemerintahan yang lebih baik.

Hal yang mendasari

Tiga hal pokok tersebut menjadi hal yang paling mendasar mengapa dibutuhkan sebuah sistem teknologi informasi untuk menopang manajemen pemerintahan.

Adanya pergeseran paradigma saat ini yakni manajemen pemerintahan dari yang harus “dilayani” kini menjadi “melayani”. Para pemegang pemerintahan dinegara-negara berkembang sangat memahami betul konstribusi yang diberikan kemajuan teknologi informasi dalam membantu tugas-tugas pelayanan mereka kepada publik. Kemajuan teknologi tersebut sangat membantu dalam proses pelayanan publik menjadi lebih cepat, efisien dan tepat sasaran.

Contoh kasus di kabupaten Sragen , Jawa Tengah berani memasang papan seperti reklama bertuliskan One Stop-Service-Mudah, Cepat, Transparan dan Pasti”. Program OSS yang dimplementasikan diakhir tahun 2002 itu adalah salah satu bukti nyata adanya tekad pemerintah daerah setempat mengadopsi sistem teknologi informasi dalam pelayanan pemenritahan terhadap masyarakat.

Apa hasil yang mereka peroleh? Dari hasil survey yang dilansir oleh KOMPAS edisi 9 Desember 2006 menyatakan adanya peningkatan pelayanan kepada publik, kualitas layanan yang mereka berikan pun semakin baik seperti keakuratan dan proses pelayanan lebih cepat 60% dibanding dahulu. Hal yang menggembirakan lagi adalah arus investasi di kabupaten Sragen juga mengalami peningkatan yang disebabkan begitu proses perizinan usaha yang cepat, mudah, dan transparan hasil dari sebuah sistem teknologi informasi yang dibangun oleh sebuah lembaga bernama KPT (Kantor Pelayanan Terpadu).

Hal yang mendasar lainnya adalah munculnya tuntunan masyarakat global dalam hal ini lembaga dunia seperti World Bank, UNDP, European Bank for Reconstruction and Development, dan Asian Development Bank untuk menerapkan prinsip good governance dalam mengelola suatu negara. Prinsip tersebut merupakan suatu tuntutan bagi negara-negara anggota lembaga dunia tersebut agar menghormati prinsip-prinsip ekonomi pasar dan demokrasi sebagai prasyarat menjadi pemain dalam pergaulan internasional abad ke-21 dan negara Indonesia masuk bagian tersebut.

Good Governance

Good governance dalam pemerintahan yang dikenal dengan nama good government governance akan memperbicangkan aspek-aspek keterbukaan (transparency), pertangunggugatan (accountability), keadilan (fairess) dan pertanggungjawaban (responsibility). Prinsip-prinsip itu menjadi suatu value (nilai) yang dijabarkan dan didefinisikan pada tataran implementasi sistem pertanggung jawaban baik secara hukum dan publik.

Dalam buku yang diterbitkan oleh Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata kepemerintahan yang Baik dibawah naungan kementerian Perencanaan dan Pembangunan (Bappenas) tahun 2005 dijabarkan mengenai ke empat prinsip-prinsip Good government Governance,


  • Transparency: dimaksudkan dalam sistem pemerintahan harus menyediakan informasi yang objektif, akurat, dan tepat waktu kepada shareholder. Shareholder dalam hal ini kreditor, investor, atau masyarakat biasa akan dapat mengetahui dengan lebih baik terhadap resiko ketika melakukan transaksi atau interaksi dengan suatu negara atau daerah pemerintahan.
  • Accountability; menuntut adanya sistem yang kondusif bagi pengawasan yang efektif dengan cara menyeimbangkan kekuasaan, kewenangan dan tanggungjawab atara pihak pemerintah, masyarakat dan dunia usaha swasta perihal kelangsungan kehidupan penyelenggaraan berbangsa dan bernegera. Diharapkan adanya prinsip ini maka akan menimbulkan efek bagi roda pemerintahan yang lebih efisien, efektif, mengedepankan profesionalitas dan kompetensi.
  • Fairness: tentu tidak ada satu pun didunia ini ingin diperlakukan tidak adil. Oleh karena itu pemerintah dituntut untuk menciptakan kejelasan mengenai hal-hal bagi para pihak yang berkepentingan dalm pengelolaan sumebr daya negara. Sebagai pemilik tunggal otoritas dan fungsi regulasi harus menciptakan suatu sistem hukum dan peraturan perundang-undangan yang memebri rasa keadilan dan memberdayakan semua pihak, dunia usaha baik investor dalam maupun luar negeri.
  • Responsibility; Mengedepankan bahwa negara hukum harus mengedepankan adanya suatu perangkat dan pematuhan hukum yang berlaku didaerah tersebut. Termasuk didalamnya pemeliharan lingkungan hidup, hak-hak konsumen, hak-hak perlindungan karya inteletual, ketenaga kerjaan dan lain-lain.
(bersambung 2 dari 3 halaman)

Dicari Pemimpin Daerah Di Era Informasi (1 of 3)

Beberapa bulan belakangan harian surat kabar di kota makassar menyuguhkan berita-berita seputar “perseteruan” dan dinamika para kandidiat yang akan maju sebagai calon gubenur Sul-Sel untuk periode yang akan datang. Ada banyak kandidat yang akan tampil dalam pergulatan akbar tersebut, ada wajah-wajah lama maupun yang baru. Ada nama calon yang sudah dikenal luas oleh masyarakat ada yang baru mencuat dan mencari pamor.

Begitulah ajang pilkada tidak jauh beda dengan pemilhan konteks seperti Indonesian Idol ataupun AFI ataupun ajang-ajang lain. Masing-masing kadidat selalu berusaha merebut hati calon pemilih agar memperoleh suara terbanyak.

Tapi jangan lupa persoalan pemimpin bukan sekedar masalah sejauh mana menarik simpati masyarakat, terpenting adalah keinginan tahuan akan VISI dan Program kerja dari calon pemimpin yang akan melanjutkan roda pemerintahan di daerah ini.

Melihat trend global saat ini yakni tumbuhnya kesadaran pemerintah dalam mengadopsi kemajuan teknologi informasi dalam meningkatkan pelayanan kepada publik. Sudah saatnya juga bagi calon kandidat memasukkan kesadaran ini sebagai salah satu agenda kepemimpinan kedepan yaitu suatu VISI tata kelola roda pemerintahan yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi.

Pemerintahan diseluruh dunia dihadapkan pada sebuah tekanan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik yang partisipatif dan aktif dalam pemberian informasi bagi masyarakat serta dituntut untuk lebih efektif.

Wacana ini sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru, sudah mulai banyak kepala daerah (bupati) yang dengan sadar menerapkan tata kelola pemerintahan yang berbasis TI yang lebih familiar dengan e-government, namun tidak ada salahnya tulisan kali ini menyinggung kembali sprit tersebut agar tidak menjadi agenda yang terlupakan.

Tata kelola pemerintahan berbasis IT (E-Government)

e-Government secara sederhana bisa diartikan sebagai sebuah upaya pemerintah untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk memberikan jasa publik yang lebih berkualitas kepada warganya.

Bank Dunia (World Bank) mendefinisikan e-Government sebagai berikut:

E-Government refers to the use by government agencies of information technologies (such as Wide Area Networks, the Internet, and mobile computing) that have the ability to transform relations with citizens, businesses, and other arms of government. (www.worldbank.org.)

Bila diartikan kurang lebih adalah penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah (se[erti: Wide Area Network, Internet dan mobile computing) yang memungkinkan pemerintah untuk mentransformasikan hubungan (koneksi) dengan masyarakat, dunia bisnis, dan pihak berkepentingan.

Kesadaran bagi pemimpin negara dalam mengambil inisiatif untuk mengadopsi kemajuan teknologi informasi dalam tata kelola pemerintahan bukan lah suatu hal yang sekedar canggih-canggihan tetapi memiliki beberapa landasan yang akan diuraikan dibawah ini.

Kesadaran Pemerintah Pusat

Pemanfaat ICT dalam pengelolaan pemerintaan oleh pemerintah pusat.mendapat perhatian penting hal ini dapat dilihat keseriusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang baru-baru ini pada tanggal 13 November 2006, kemarin bertempat di Istana Bogor membentuk DTIKN (Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional).

DTIKN ini merupakan kelompok kerja yang akan membantu Presiden dalam mempercepat pengembanagn ICT (Information and Communication Technology di tanah air yang diketua langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informasi beranggotakan beberapa orang propfesional, mantan manajer, akademisi, yang kompeten terhadap masalah ICT.

DTIKN ini diharapkan bisa mentransformasikan masyarakat Indonesia mejadi masyarakat informasi berbasis pengetahuan. Pembentukan DTIKN ini diharapkan mampu mengimplementasikan program pembagunan jaringan komunikasi (internet) untuk 43.000 desa, disektor pendidikan akan dibangun jaringan komunikasi untuk 13.000 SMP dan SMA serta 2.428 perguruan tinggi dan sector kesehatan masyarakat diperlukan 28.000 untuk pusat kesehatan. (Koran Tempo 14/11)

Pidato presiden SBY didepan konferensi Nasional Teknologi Informasi dan komunikasi untuk Indonesia yang digelar di ITB pada awal mei tahun 2005 lalu menekan kan hal tersebut, pidato yang berjudul Sumbangan ICT(Information Communication Technology) dalam membangun “Good Governance” amat besar (Majalah E-Indonesia edisi November 2005). Presiden menyatakan bahwa penerapan ICT diharapkan bisa memberi nilai tambah dalam komunitas bahkan dalam kehidupan sebuah bangsa. Intinya Presiden tidak meragukan lagi pemanfaat ICT dalam mengelola pemerintahan dimasa depan.

Pertanyaan sekarang adalah seberapa besar kesadaran bagi kepala pemerintahan didaerah ( Gubenur/ Bupati) bahwa betapa pentingnya ICT dalam mengelola pemerintahan di daerah nya masing-masing?

Kesadaran dapat dibuktikan dengan adanya suatu VISI yang akan menjadi pedoman dalam menjalankan pemerintahan kedepan.

(bersambung 1 dari 3 halaman)


Senin, Desember 11, 2006

Renungan Kloset


Renungan Kloset (renungan akhir tahun 2006)

Ada baiknya
Tak mencatat hidup
Dalam lembar-lembar buku harian

Suatu masa
JIka dibacanya lagi
Manis, membuat kita ingin kembali
Pahit, membuat duka tak bias lupa

Ada baiknya
Merenung hifup
Dalam kloset yang sepi

Tak perlu malu
Mengenang tersenyum atau menangis
Setelah itu semua hilagn
Bersiap menerima makan baru
Yang lebih baik dari kemarin


By: Rieke Diyah Pitaloka


Puisi yang ditulis mba Rieke ini (pemeran Oneng dalam baja bajuri) saya catat dalam buku diary ku. Laki-laki punya diary? Bancis bangett.. kata temanku, Tapi saya protes BJ.Habibie aja punya diary, sampai buku yang terbaru yang berjudul “Detik-detik yang Menegangkan” berasal dari tulisan-tulisan yang dirujuk dalam buku diary-nya.

Ya.. BJ.Habibie aja punya diary, mengapa harus dibilang diary itu punya kaum hawa, siapa tau besok-besok buku diary ku itu bisa menjadi buku yang best seller. Dan bisa seperti beliau juga jadi presiden. Hehehe.

Hidup itu bergerak.. tulis ku di salah tema diblog ku.
Semua kejadian terjadi merupakan konsekuensi kita dalam memilih dan memutuskan suatu hal. Hidup adalah perpindahan dari suatu pilihan dan suatu keputusan. Kita belajar dari keputusan-keputusan yang kita tempuh. Hasill dari keputusan kita pasti tidak selamanya baik, dan juga tidak selamanya buruk. Alangkah bahagianya jikalau setiap lekuk-lekuk kehidupan yang kita jalani adalah buah hasil keputusan kita. Dari situlah kita belajar suatu kebijaksanaan dan kedewasaan.

Kembali ke laptop…..(tukul bangett)
Pusisi Renungan kloset, yang menarik adalah pesan bahwa hidup itu tidak usah terlalu banyak di sesali. Saya sepakat, takala banyak kejadian-kejadian hidup yang telah terjadi, hanya lah menjadi hal yang tak berguna kalau dirasain pahit atau manis lagi. Sudah berlalu….

Nah di penguhung tahun 2006, begitu banyak kejadian yang sudah terlewatkan.
Bagaimana kah saya memaknai pergantian tahun ini?

Pertama-tama menyadari bahwa kehidupan itu adalah sebuah sekolah.
Cherie Carter Scott, Ph.D dalam bukunya If life is a game these are the rules, Dia menuliskan “Anda sudah terdaftar pada sekolah informal yang disebut “kehidupan”. Setiap Hari Anda akan memperoleh kesempatan memetik pelajaran dalam sekolah ini. Anda bisa menyukai atau membenci pelajaran-pelajaran itu, tetapi Anda sudah merancangnya sebagai baian dari kurikulum Anda.

Hidup ini saya anggap sebagai sebuah sekolah. School of life. Sekolah kehidupan kata penganut de-schooling seperti Gde Prama, Adreas Harefa, Jansen Sinamo, YB Mangunwijaya (alm) dan banyak lagi. Mereka menganggap sekolah yang paling sempurna adalah sekolah kehidupan, bukan sekolah yang dari umur 4 tahun sudah kita jalani itu. Kita hanya duduk, mendengar, kerjakan tugas, menyalin dan terima lapor.

Disekolah kehidupan saya merasa tidak ada yang benar dan salah. Semuanya dimulai keberanian kita membebaskan diri kita terhadap “value” (nilai-nilai) yang sudah sejak kecil kita peroleh dari Orang tua, guru-guru, keluarga dan lingkungan kita. Dengan terbiasa mengosongkan dulu nilai-nilai yang kita dapat, kita akan cepat mempelajari pelajaran-pelajaran berisi nilai-nilai baru dengan sikap yang kritis.

Saya kembali mengutip R.Kiyosaki, dalam buku Rich Kids and Smart Kids, dalam tulisan yakni, Tuhan memberi kita sebuah kaki kanan (right) dan sebuah kaki kiri (left). Tuhan tidak memberi kita sebuah kaki yang benar (right) dan sebuah kaki yang salah (wrong). Lanjutnya, Orang yang berpikir mereka harus selalu benar adalah orang yang seperti dengan sebuah kaki kanan saja. Mereka mengira membuat kemajuan, tetapi biasanya mereka hanya berputar-putar dalam lingkaran.

Dari situlah saya mencoba menerima ketidak sempurnaan. Setelah tahu kalau saya ini adalah termasuk tipe perfeksionis. Disekolah kehidupan mengajarkan ku bahwa tidak ada kesempurnaan mutlak. Kesempurnaan adalah suatu sikap yang berlebihan, dan dalam Alqur’an mengajarkan bahwa Tuhan amat membeci perilaku yang berlebihan. Kesempurnaan yang baik adalah melalui sebuah proses yang tidak bisa secara instant.

Kaizen, adalah salah satu prinsip yang sangat dikenal di Jepang. Kaizen adalah proses penyempurnaan secara terus menerus yang tiada henti. Prinsip ini lebih baik dari pada keinginan untuk mewujudkan suatu hal yang langsung sempurna.

Kedua, saya ingin mensyukuri apa yang telah saya lalui selama setahun ini. Saya bersyukur pada Tuhan terhadap pelajaran kehidupan yang telah dia berikan. Saya bersyukur pernah merasakan menjadi kaum papa, takala di Jakarta, dengan pengalaman di”tampar Monas” kata kawan yang pernah kuliah di STIE YKPN. Di’tampar monas” maksudnya merasakan dinamika hidup di Jakarta. Merasakan kehidupan kaum masyarakat bawah. Masyarakat bawah yang kehidupannya mengandalkan sarana publik buatan pemerintah.

Merasakan hari-hari bergelantungan di bus kota, berdesak-desakan didalamnya, sampai perang mulut dengan kenek bersama teman kuliah MM yang orang Padang itu. Gara-gara bus yang sudah penuh sesak masih saja diisi orang untuk masuk, kita pun protes, tapi malah keneknya suruh turun kalau tidak mau.Ilmu marketing tidak dipakai di bus sudah kita bayar ongkos harusnya dapat pelayanan malah disuruh turun. Onde mande,

Saya juga tidak habis berpikir dan prihatin, bagaimana susahnya orang pinggiran yang kekantor memanfaatkan kereta ekonomi KRL. Sungguh lebih manusiawi kandang ayam dari pada kereta ekonomi itu, Saya juga bingung dengan pemerintah, mengapa menyediakan namanya system transportasi rakyat yang kayak itu, bila lengah sedikit nyawa bisa melayang, karena harus berhimpitan dan bergelantung dipinggir gerbong atau naik diatas gerbong.

Dengan bersyukur akan memberi kita sikap untuk menikmati apa yang sudah ada sekarang. Rasa syukur berarti kita berterima kasih atas dan menghargai apa yang kita punya dan dimana kita sekarang berada dijalan kehidupan kita.

Ketiga, dari bersyukur itu, akhirnya saya tidak berhenti-hentinya mengucapkan terima kasih. Berterima kasih kepada Tuhan. Berterima kasih atas kebijaksanan yang saya peroleh.

Berterima kasih kepada Orang Tua, ayah dan ibu atas semua yang diberikan, baik dan materi maupun kasih sayang. Berterima kasih kepada orang yang mengecewakan saya. Apalgi saya sangat berterima kasih kepada orang yang membantu ku dalam kesusahan. Berterima kasih kepada orang yang membuat kita susah. Berterima kasih kepada orang yang membuat ku sedih dan bahagia.

Kata terima kasih merupakan kata yang sangat jarang kita ucapkan.
Berterima kasih bermakna kita tahu apa yang telah kita terima. Begitu juga pelajaran yang kita dapatkan dari sang pemberi dan pemilik Ilmu hakiki,

Seorang filsuf Thomas Paine pernah mengatakan, ''Apa yang kita
peroleh dengan terlalu mudah pasti kurang kita hargai. Hanya harga
yang mahalah yang memberi nilai kepada segalanya. Tuhan tahu
bagaimana memasang harga yang tepat pada barang-barangnya.''

Terakhir, disetiap akhir pasti ada permulaan. Saya mengajak Anda untuk kembali membuat rencana yang baru ditahun selanjutnya. Dengan sebuah rencana kita tahu akan kemana dan untuk apa hidup ini. Kita yang membuat rencana, kita berusaha, Tuhan kan memberikan.

Rencana dan pengharapan yang belum terwujud, mengharuskan kita untuk bersabar. Bersabar dan terus menerus berupaya kembali untuk mewujudkannya. Dengan bersabar kita menjadi lebih memaknai proses pelajaran yang diberikan kepada kita. Bersabar membuat kita lebih tenang dalam melangkah, membuat kita lebih kuat dan dekat dengan suara Tuhan.

Waktu yang diberikan Tuhan kita di bumi ini sebenarnya singkat. Kita mempunyai kemungkinan dan pilihan untuk mewujudkan harapan-harapan, impian-impian dan tujuan kita. Kembali pada diri kita, Apakah kita memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan sebaik-baiknya atau tidak.

Renungan Kloset, mengajarkan apa yang sudah kita peroleh sampai saat ini adalah hasil dari pilihan kita. Kita memutuskan untuk memakan pelajaran-pelajaran hidup setiap hari. Membuat kita kenyang dan perlu mengeluarkan hal-hal yang buruk, dan menyerap gizi kehidupan yang baik bagi tubuh dan jiwa kita. Kemudian menyiram yang buruk-buruk itu, dan bersiap-siap lagi menyantap pelajaran-pelajaran yang baru lagi dimasa yang akan datang.
Selamat tahun baru 2007 dan selamat hari raya Idul Adha.




Andi Muh. Nur Bau Massepe
Makassar, Desember 2006

Selasa, April 12, 2005

Kawan mental pekerja dan kawan mental pengusaha

Lulus kuliah, bingung?
Pernah gak sih merasa kebingungan setelah lulus dan wisuda akan kerja dimana dan ngapain setelah lulus?
Ada banyak arlternatif toh…, and banyak pilihan karir, setidaknya,
dengan pendekatan empat quadrant dari Robert Kiyosaki, Jadi Employee, Self-employee, business owner dan investor. Saya lebih tertarik membahas dua kuadran yakni sebagai employee dan business owner (pemilik bisnis sendiri). Saya saranin tidak salahnya membaca karya Robert Kiyosaki, dengan catatan tidak harus mengikuti pola pikirnya, sekedar tahu saja. Kalau pun nantinya se ide, tidak ada salahnya Anda menjadi pengikutnya.

Sedikit berbagi mengenai Kiyosaki-isme, semenjak bukunya diterjemahkan oleh Gramedia, tahun 2000, Dia berhasil menularkan virus wirausaha ditanah air. Saat ini orang-orang sepertinya “latah” ingin memiliki usaha sendiri,dengan berbagai macam alasannya. Saya tidak tau apakah mereka sekedar ikut tren, baru baca satu dua bab buku Kiyosaki, kemudian berapi-api ingin punya usaha sendiri. Pokoknya punya usaha sendiri..!!

James T.Redd, menulis buku kalo tidak salah judulnya “Ayah kaya sebenarnya tidak kaya”, dengan sengaja melakukan ”riset” dan investigatif terhadap kehidupan Kiyosaki. Dia menemukan bukti bahwa ayah kaya Kiyosaki itu sepernahnya tidak ada, cuman toko imajinasi. Kiyosaki pun tidak mampu memberi kejelasan tentang dimana keberadaan si Ayah Kaya. Malah yang kontra terhadapnya menyatakan bahwa Kiyosaki tak lain adalah seorang pengarang, bukan sebagai bisnisman. Terlepas dari itu, saya cuman menggaris bawahi, tak masalah Ayah kaya itu ada apa tidak, tetapi ide dan pemikiran Kiyosaki lah yang kita pelajari. Selanjutnya terserah Anda yang mengkritisinya.


Dibawah ini sedikit share dan cerita yang tentu saja sangat subjektif, mengenai kewirausahaan dan dunia kerja setelah lulus dari perguruan tinggi.

Employee mentality, (pegawai)
Umumnya pola pikir yang paling banyak mewarnai budaya dinegara kita bahwa setelah lulus adalah menjadi pegawai negeri sipil alis PNS, Tapi..mm kayaknya sekarang sudah mulai berubah, sekarang sudah banyak yang berpikir mau jadi pegawai swasta, di BUMN, multy national company, atau berkariri diperusahaan Minyak dan Energi kayak Pertamina atau Haliburton itu. Rata-rata Gak mau lagi jadi pegawai negeri, saya jadi ingat lelucon teman di suatu daerah kalao tidak salah di Pekalongan, konon anak gadis nya akan sangat takut kalau dijodohkan dengan suami yang bekerja sebagai pegawai negeri. Mereka takut karena PNS katanya gajinya kecil.

Bukan berarti PNS jelek, ini masalah selera dan pilihan hidup. Buktinya penerimaan PNS ditahun 2004 kemarin masih diminati, berarti bagi sebagian orang walaupun gajinya tidak sebanding dengan swasta, disisi lain memberikan jaminan dan kepastian. Beruntung di era Gus Dur presiden, gaji PNS malah naik, dan pelan-pelan mulai naik. Mungkin yang bercita-cita jadi PNS, sebaiknya bukan melihat faktor gaji, tapi nilai dari seorang Pamong, sebagai abdi negara yang dikedepankan.

Intinya sih bekerja pada orang lain, dan hasil kerja kita dihargai dengan gaji yang kita terima setiap bulan. Beberapa "keuntungan" yang diperoleh dengan bekerja sebagai pegawai dalam hal ini kerja disektor swasta seperti di perusahaan multinasional, Yaitu kita belajar mengenai suatu sistem kerja diperusahaan tersebut. Misalnya kita kerja dibidang marketing, maka kita akan bekerja dan belajar format dan suatu strategi pemasaran yang diterapkan diperusahaan tersebut. Bagaimana misalnya teknik memprospek, teknik promosi, teknik selling, dan macam-macam lagi aktifitas yang berhubungan dengan pemasaran. Kerja juga akan lebih terarah, tinggal kita running system yang sudah ada. Enak kan,.. tinggal ikutin aja, dan tentunya setiap bulan salary kita terima. Pola laku para kaum pekerja tersebut di setiap weekend wah, mereka gembira ria, karena bisa refreshing dari segala tugas dan rutinitas kantor. Sewaktu saya penelitian di Jakarta, ketemu dengan teman-teman SMA yang memang rata-rata jadi employee, pola hidupnya kayak begitu (walaupun tidak semua), apalagi masih bujang, tempat yang dipilih tuk refresh kalau bukan hard rock, bilyard, CITOS atau tempat sejenisnya lah....saya turut kecipratan rejeki dengan jalan ditraktir hehehe. (Terima kasih ya kapan2 gantian deh ).

Kebayakan yang saya lihat begitu bekerja, membelanjakan uang dari gaji bulanan suatu tindakan yang tidak tertahan kan lagi. Biasanya sih, dipake untuk mentraktir teman-teman, beli barang yang istimewa buat orang yang istimewa. Ganti handphone, mulai menyicil rumah, ataupun kendaran pribadi. Setelah dua tahun, mulai berani punya kartu kredit, apalagi yang dikeluarkan oleh Citibank, buat dikipas-kipas akan sangat ok…boo Hahaha. (saya cuman merasa in aja maklum belum punya, kaciiaann). Mungkin gaya hidup seperti itu biasanya bagi yang berstatus masih “single” tapi yang sudah “married” mungkin akan berbeda, karena mereka sudah harus berpikir lebih jangka panjang lagi.

Perilaku dan mental bekerja pada orang lain, akan mengedepankan unsur-unsur jaminan gaji, kepastian jenjang karir, ketersediaan fasiltas seperti biaya kesehatan, biaya komunikasi dan lainnya jadi variable yang menarik untuk dipertimbangkan.

Akhirnya saya paham mengapa banyak perilaku kawan-kawan yang berganti-ganti kerjaan takala ada tawaran gaji dan fasilitas yang lebih menarik. Terkenal tidaknya perusahaan, dan asyik apa tidak si bosnya, makan hati apa gak kalau kerja disana. Karena mereka mencari yang lebih baik dan lebih menyenangkan (walaupun kembali lagi ini masalah selera, yang kata Aristoteles, bila menyangkut selera adalah sesuatu yang tidak dapat diperdebatkan).

Mungkin ini sebuah “tradisi” bagi kaum pekerja, yang dalam hati juga saya kecut mengetahui dengan penampilan keren, baju bermerek, aksesoris dan alat komunikasi yang canggih ternyata mereka masih dibelit oleh masalah keuangan. Alias tidak punya saving, kawan SMA saya pun dengan berkaca-kaca ber-biskal (baca: Curhat) bingung melihat uang gaji bulannya hilang entah kemana dan tidak punya tabungan sama sekali. Alias carru… hahaha (boke’ deh), bagaimana mo pake nikah atau naek haji…haha

Teman yang dikuadran “B”

Berteman dengan kawan yang bermental wirausaha atau business owner (B). Lain lagi ceritanya. Setidaknya sudah banyak teman-teman saya yang memilih dan memutuskan bahwa setelah lulus, tidak perlu mencari kerja diperusahaan lagi. Kata teman S2 saya yang asal di Kalimantan, “kerja sama orang itu makan hati”.!! Mungkin pengalaman pribadinya yang pernah merasakan kerja disebuah perusahan sebelum mengambil S-2 memberi kesan tersendiri makanya dia tidak memutuskan untuk bekerja sama orang lagi.
Makanya setelah wisuda dia tidak seperti teman lainnya, yang sibuk mendesain Currículum Vitae (CV), dia pun sibuk ke Notaris untuk membuat CV perusahaannya.

Gampang? Mendengar kisah-kisahnya, ternyata tidak mudah juga. Awalnya harus ditentang dengan orang tua yang memang bermetal dan berpola pikir seorang pekerja diperusahaan minyak. Orang Tua menginginkan sang anak untuk bekerja diperusahaan yang lebih besar dari tempatnya bekerja. Kalau hanya usaha seperti itu, buat apa sekolah sampai S-2, kata orang tua teman itu.

Mendirikan usaha itu memang bukan lah semanis dan seindah cita-cita dalam pikiran kita. Ada banyak persoalan, penolakan kerja sama, di tipu rekan bisnis adalah bagian dari perjalanan menjadi pengusaha sukses. Belum lagi di tinggalin teman-teman, yang memang terjadi dengan kawan saya tersebut. Disirik-sirikin sama kawan, tetangga maupun keluarga sendiri. Nampaknya “penderitaan’ dan cobaan” yang dialami seorang wirausaha lebih banyak dibanding orang yang bekerja. Semuanya menjadi tangung jawab sang pemilik usaha.

Dibudaya kita, persepsi bekerja adalah datang pagi dengan pakaian kantor pulang sore. Kalaupun dia pengusaha, dia dianggap tidak bekerja terkadang dituduh sebagai pengangguran. Walaupun punya usaha warnet misalnya, jadwal kerja tidak tentu alias kadang siang, kadang malam, tetap saja oleh sebagian masyarakat kita itu bukan suatu pekerjaan.

Aneh memang, apa ini dampak dari penjajahan dari kolonial Belanda. Soalnya jaman dulu yang menjadi pegawai Belanda itu, dikasih seragam, masuk pagi pulang sore. Dan terlihat keren dan mentereng. Sehingga masyarakat lebih terbiasa melihat yang fisik dibanding esensi, yang kalau dari jaman dahulu sampai sekarang namanya pegawai itu tak lain dan tak bukan bahasa kasarnya adalah “buruh”.

Malam hari pun kadang harus mikir besok harus ngapain, bagaimana kas perusahaan bertambah, bagaimana perusahaan ini dapat dikenal oleh konsumen, bagaimana dan bagaimana lainnya. memang sungguh berat pikirku.
Makanya tidak semua orang mau jadi pengusaha dan tidak semua mau melakukan hal-hal diatas.

Beda konsep mengenai pendapatan
Hal menarik adalah perbedaan terhadap konsep pendapatan, Orang bekerja akan menerima gaji. Pengusaha akan menerima laba atau rugi kemudian di investasikan lagi. Orang bekerja tentu akan mendapat gaji setiap bulan, beserta fasilitas-fasilitas yang ada. Yang dicari memang keamanan (jaminan pendapatan), yah keamanan finansial, asal saja jangan sampai kita seperti perlombaan tikus dalam buku Kiyosaki itu. Gali lubang tutup lubang diakhir bulan dengan gaji kita dan pinjaman-pinjaman.

Menjadi pengusaha juga akan berurusan dengan pinjaman (utang), tapi saya melihat kontesnya lain, pinjaman ini untuk memenuhi kebutuhan arus kas mereka, dan memperbanyak asset mereka. Apa itu asset? waduh susah saya jelaskan, yang jelas bukan seperti dibuku Akuntansi, karena menurut ku assets masing-masing setiap orang berbeda. Kalau Kiyosaki mengatakan sesuatu yang memasukan uang dikantongmu.
Bila laba, tentu dapat duit, bila tidak dapat jadinya rugi.

Bila kita seorang employee, penghasilan kita bernama gaji beserta bonus, bila kita seorang pengusaha, penghasilan bernama pendapatan, yang besarnya tidak menentu, cenderung membesar atau sebaliknya.

Didunia pengusaha, bila perusahaan satu sukses mereka akan berpikir dan ver-ide lagi untuk membuat suatu usaha lagi dan mewujudkannya. Nampaknya resiko dan ketidak pastian merupakan makan sehari-hari mereka. AKhirnya saya sadar memang tidak semua orang mau menjadi pengusaha karena “resiko” fisik maupun non fisik yang dihadapinya.

Saya tidak mengatakan jadi pengusaha susah, buktinya banyak yang berhasil. Saya juga tidak mengatakan bahwa bekerja sama orang lain itu enak, karena ada hal yang harus dibayar juga yakni, makan hati, ikutin kata bos, menjalankan sesuatu yang belum tentu kata hati kita inginkan.

Saya jadi ingat suatu kejadian, waktu mengambil mata kuliah konsentrasi. Karena saya “bebas” dan tidak terikat, saya dengan kehendak bebas untuk memilih konsentrasi e-business. Dan Sibuk promosi sana sini. hhaha. Sewaktu bercakap dengan teman kuliah yang lebih señior dan punya jabatan sebagai manager produksi sebuah perusahaan besar di Kalimantan, beliau secara pribadi sangat menginginkan untuk mengambil mata kuliah strategy, tapi karena mendapat telpon dari sang bos, harus mengambil jurusan marketing karena perusahaan membutuhkannya dia menguasai subjek itu. Padahal saya tahu kawan kuliah saya itu mati-matian mencaci maki pelajaran marketing pada semester satu, menurutnya mata kuliah yang mengada-ngada dan tidak masuk akal, tapi karena sang bosnya itulah, makanya harus melahap juga mata kuliah marketing. Belum lagi di waktu luang yang seharusnya dipakai beristirahat, tapi ada telpon dari sang bos, harus ke Jakarta untuk bertemu, maka waktu-waktu itu pun harus ditinggalkannya bertemu sang bos. Yah, memang seorang karyawan yang baik, dan loyal.

Intinya sih bekerja sama orang kita memiliki sedikit kebebasan (independent) dalam memutuskan dan memilih sesuatu. Tidak ada yang salah terhadap semua itu, pertanyaan kembalil ke diri sendiri, bersediakah?

Pencarian jati diri
Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa untuk menjawab pertanyaan mau jadi apa, pengusaha atau bekerja untuk orang lain, Bagi saya kita harus berkecimpung di dunia yang berbeda itu dulu semuanya. Bersyukur semuanya sudah saya lalui. Walaupun niat tuk kerja di perusahaan besar seperti Astra, Unilever, IBM, dan sebagainya belum terwujud, tapi saya pahami bahwa kedua dunia antara bekerja dengan orang lain dan usaha sendiri adalah dua dunia yang berbeda “idealisme” dan “ruh” nya.

Tidak juga akan dipahami dibangku kuliah seperti program magister manajemen. Dibangku kuliah saya sadar itu hanya bercuap-cuap dan mengisi VISI hidup kita (baca sekedar informasi atau pengetahuan), makanya saya yakin seorang yang berpengetahuan banyak seperti dosen belum tentu akan paham alias merasakan apa yang dipelajarinya lewat teks book. Contohnya misalnya di sekolah kita diajarkan bahwa api itu panas, bila sang dosen belum pernah menyentuh api, dari mana dia tahu kalau itu panas, dan panas itu seperti apa? Bukankah hanya dunia cuap-cuap belaka. Benarkan..? (kalo begitu mengapa masuk kuliah ya heheh,.......ini masalah selera)

Semuanya akhirnya membawa saya pada sebuah kesimpulan, pertanyaan bukan akan kerja dimana kita atau mau jadi apa? Saya lebih setuju pertanyaan yang kita ajukan SIAPAKAH diri kita dan APA TUJUAN HIDUP kita. Ilmu manajemen strategy, mengajari saya bahwa awal mulanya terletak pada VISI dan MISI (hidup kita). Tidak perlu dijelaskan sudah pada tahu semua bila yang berkualiah sekolah manajemen.

Kemudian melakukan assesment terhadap kekuatan internal dan eksternal yang kita miliki. Saya lebih sarankan untuk fokus pada kekuatan internal yang kita miliki, seperti bakat, minat dan kemampuan (core competence) yang telah kita miliki saat ini. Kemudian mengembangkan suatu program kerja, yang berorientasi pada suatu tujuan jangka panjang dan pendek dalam hidup ini. Setalah itu memilih strategi sebelum bertindak menjalan kan suatu tujuan (objective) yang telah kita tetap kan. Dan memasuki tahap evaluasi. Bukankah mudah untuk menuliskannya?

Terkadang saya sering terjebak, untuk menguasai semua, padahal belum tentu itu saya berbakat disana. Manusia harus belajar untuk tidak angkuh dan sombong. Saya sadar ada bakat khusus yang di anugerahkan Tuhan buat saya didunia ini. Mengapa bakat dan kemampuan saya itu tidak saya perdalam dan asah terus menerus dari pada keahlian yang lain tapi saya tahu tidak akan bisa optimal lebih baik. Setelah mengetahui dari Howard Gardner ternyata ada tujuh kecerdasan setiap manusia yaitu; linguistik verbal, numerik, spasial, fisik/raga, interpersonal, intrapersonal, lingkungan. Akhirnya saya sadar kenapa prestasi akademik saya tidak excellent. Tapi bukan berarti tidak bisa. Mengapa seorang kawan yang IPK nya tinggi tapi tidak bisa menghargai pendapat atau berempati dengan yang lainnya dalam suatu belajar kelompok. Mengapa ada yang pintar di bidang seni, tapi di olah raga dia sama sekali terbelakang. Kita memang harus belajar terus menerus mengembangkan potensi diri kita dan mengenal diri kita lebih baik. Selain terus menerus mempelajari perkembangan yang terjadi diluar sana.

Kita lahir dan hidup didunia, telah mengemban suatu misi yang harus kita temukan kembali dengan segala potensi yang telah melekat. Misi yang lebih bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi bagi keluarga, masyarakat dan negara. Kalaupun Anda sepakat... dengan kalimat tadi yang saya sering temukan disetiap buku-buku yang mengupas kisah sukses orang-orang berpanguruh didunia ini dan saya yakini.

Tentu pertanyaan kembali pada diri sendiri, Jikalau VISI dan MISI hidup kawan-kawan adalah bekerja di sebuah perusahaan dan loyal terhadap perusahaan tersebut sampai pensiun dan mati, Berarti memang disitulah takdir kita dilahirkan dimuka bumi ini.
Tapi kalau saya sih lain, masih banyak yang bisa saya kerjakan bagi banyak orang dari pada bekerja disebuah perusahaan seumur hidup walaupun menawarkan program pensiunan yang menarik. Bagaimana dengankamu?


by:
Andi Nur Baumassepe
April 05. Jogjakarta
Mas_pepeng@yahoo.com

Budaya gaul, buka-bukaan (budaya friendster)

Bagaimana budaya gaul anak muda diabad informasi saat ini? Tentu sangat berbeda bila flash back ke zaman kakek dan nenek kita dimasa-masa kemerdekaan. Dahulu, hanya mengenal surat menyurat sebagai alat komunikasi primer. Teknologi Telepon diperkenalkan di awal tahun 60-an, penggunaan nya pun terbatas untuk kepentingan pemerintahan, militer dan bisnis. Masih jarang untuk penggunaan individu apalagi digunakan untuk menjalin hubungan sosial (networking). Tahun pun berganti, kemudian kita mengenal bentuk-bentuk lain, seperti mesin faks, ada lain teknologi wireless (nge-break), akhirnya ditemukan internet dan teknologi mobile sampai saat ini.

Apa yang membedakan metode komunikasi tersebut dan Apa dampak perilaku yang terjadi pada kepribadian manusia-manusia penggunanya? Mungkin terlalu subjektif, karena tidak didasari oleh suatu dasar penelitian, tetapi bila kita mengamati akan didapatkan suatu fenomena yang cukup menarik untuk diamati.

Pertama, hal yang paling nampak dengan adanya alat telekomunikasi (internet), manusia zaman sekarang “dipaksa” untuk lebih terbuka (istilah saya- buka-bukaan) sehingga dapat diakses oleh siapapun dan darimanapun. Pada kasus friendster misalnya, tahap registrasi, vendor meminta untuk mengisi biodata, seperti umur, asal sekolah, tempat tinggal, musik dan film favorit, sampai ke bagian yang menyangkut personality (pribadi).

Perbuatan ini sadar atau tidak adalah suatu cara “buka-bukaan” diri kita kepublik. Jangan terkejut misalnya, melihat profile seorang kawan yang ternyata didunia nyata kita kenal tertutup dan pendiam, begitu membaca profilenya di friendster ternyata kawan itu menyenangi hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya dalam hal musik atau pun kegemarannya terhadap program acara. Berarti orang tersebut boleh dibilang tidak tertutup lagi karena telah membuka dirinya, apa kegemarannya, plus dengan testimonial yang diberikan oleh teman-temannya.

Refleksikan dizaman dahulu, bentuk komunikasi antara kaum muda tidak se interaktif saat ini. Dahulu, bila ingin mengenal seseorang, akses yang ada adalah berupa alamat rumah, ataupun telepon rumah. Beruntung bila punya akses dengan mengenal kawan dekat seorang yang kita sedang incar itu. Bila berkirim surat belum tentu surat itu akan dibaca, syukur kalau melewati sensor dari orang tuanya. Bertelepon tentu juga terbatas, karena tidak selamanya idola kita itu ada dirumah, dan sekali lagi syukur-syukur kalau orang tuanya baik, kalau tidak suatu hal yang biasa mereka katakana bila menjawab permintaan kita via telepon “si anu lagi sibuk tidak boleh diganggu”. Kring.!!

Fenomena buka-bukan, menurut saya adalah suatu budaya global. Sangat terasa spirit globalisme nya. (Terlepas kita pro atau kontra dengan kata Globalisasi). Tentu media buka-bukan ini buka hanya lewat internet seperti friendster itu. Alat komunikasi lainnya yang takala power full agar diri kita dapat diakses oleh publik adalah mobilephone alias HP. Kenalan dengan cewek saat ini begitu mudah, tahu nomor HPnya cukup lewat sms-an, kalau dia tertarik janjian ketemuan di mall, tanpa perlu pake izin macam-macam orang rumah. Ortu mana tahu lagi isi sms pacaran anak muda sekarang. Kalau mereka membaca nya tentu akan sering terdengar kata Astagfirullah.!

Globalisasi saya artikan membuka segala sekat-sekat yang ada. Global berarti sejagad, tidak mengenal lagi batas-batas apakah kebangsaan, suku, agama atau ras. Ekonomi pun menjadi tulang punggung dari globalisasi, dengan senjata adalah semakin maju dan canggihnya teknologi komunikasi, maka kita pun semakin lumer dengan dunia ini. Saya tidaklah menguasai konsep globalisasi itu, tapi menurut saya seperti itulah.

Apa sih hubungan antara itu semuanya dari yang saya tuliskan dari awal? Coba saja, masyarakat yang tertutup atau eklusif tentu akan sangat sukar untuk menerima sesuatu yang baru. Masyarakat yang open minded lah yang dapat menerima sprit globalisasi ini dengan berbagai media seperti TV, radio, internet dan lainnya. Lalu, apa hubungannya dengan friendster tadi?

Nah disini yang menarik, friendster saat ini kalau kita amatin hampir sebagian besar penggunannya adalah anak mudah. Skala range umur sekita 14-35 tahun. Penghuni terbesar berusia antata 17-25 tahun. Usia-usia yang masih panjang, dan jauh dari kematangan. Sadar tidak sadar habit yang dimuncul kan adalah mengajari kita untuk terbiasa “buka-bukaan”. Kita mulai dibiasakan dengan hal-hal yang lebih inklusif, menerima perbedaan, lebih mengedepankan nilai kebebasan ekspresi dan berpendapat, ujung-ujungnya adalah suatu nilai baru bagi kita yakni nilai yang lebih universal seperti persahabatan, perdamaian, kegembiraan, kepedulian dan sebagian lagi dampak negatif yang terikut kedalamnya.

Setelah tertanam kebiasa “buka-bukaan” itu, tentu akan menimbulkan nilai-nilai baru. Akan tentu sulit dimengerti oleh orang tua kita atau manusia yang dilahirkan sebelum Internet ditemukan dipertengahan tahun 70-an. Orang tua akan merasa sangat tidak masuk akal, menikah dengan seorang kekasih yang terjalin dengan cyber love. Petuah jaman dulu seperti memilih jodoh berdasar bibit, bobot dan bebet pun nyaris dilupakan lagi. Mungkin orang tua akan menganggap kita gila, atau sebaliknya kita menganggap orang tua kita betapa kolot nya. Nilai-nilai baru inilah yang terus menerus kita perbaharui yang pasti sering menimbulkan konflik individu (dalam diri) maupun masyarakat.

Saya sendiri berpikir apakah gerakan buka-bukaan ini apakah suatu agenda besar, antara negara kuat dengan dominasi teknologinya untuk menguasai negara-negara lemah seperti Indonesia, untuk kepentingan mempertahankan pasar (kekuatan ekonomi). Dimana mereka menerapkan prinsip “edukasi” pasar, membiasakan kita untuk memiliki nilai-nilai baru yang ber-spirit “buka-bukaan” itu, sehingga kita pun dengan mudah mengadopsi budaya yang hasil akhirnya mengubah perilaku kita, sehingga barang yang diproduksi oleh mereka (baca dijual) kita pun dengan mudah mengadopsinya sebagai bentuk “kebutuhan” baru, yang jangan-jangan kita pun tidak butuh. Pesannya, kita telah di edukasi oleh nilai-nilai globalisasi.

Sebaiknya kita berprasangka baik saja. Ini merupakan suatu kekuatan alam, istilahnya sunnatullah (ketetapan Ilahi), dimana ini merupakan agenda alam, agenda Ilahi yang tersebunyi dalam kebinggungan kita hidup disaman yang bergerak cepat ini. Menuju perbaikan-perbaikan nilai-nilai kemanusian kita. Yah yang seperti cita-cita bangsa ini termakhtub pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Wallahu wa ‘allam.




Andi Nur BM
Maret 2005, Jogja

Kamis, Maret 24, 2005

Maafkan Aku ayah.!!

Sewaktu usiaku belum lima tahun, aku hampir tak pernah mengenalnya. Bukankarena usiaku yang belum bisa mengenal secara detail siapapun, tapi lebihkarena pria ini hampir tidak pernah kujumpai. Kecuali sesekali di hariminggu, ia seharian penuh berada di rumah dan mengajakku bermain. Namunmeski sekali, aku merasa sangat senang dengan keberadaanya.
Sejak aku mulai sekolah hingga masa remaja, aku menganggap pria ini tidaklebih dari sekedar pria tempat ibu meminta uang bulanan, juga untukkeperluan sekolahku dan adik-adikku. Tidak seperti anak-anak lainnya yangmempunyai seorang pria dewasa yang membela mereka saat berseteru denganteman mainnya, atau setidaknya merangkul menenangkan ketika kalah berkelahi,aku tidak. Pria dewasa yang sering kujumpai di rumah itu sibuk dengan semuapekerjaannya.
Hingga aku dewasa, pria ini masih kuanggap orang asing meski sesekali iamengajariku berbagai hal dan memberi nasihat. Sampai akhirnya, kutemukanpria ini lagi sehari, dua hari, seminggu, sebulan dan bahkan seterusnyaberada di rumahku. Rambutnya sudah memutih, berdirinya tak lagi tegak, iatak segagah dulu saat aku pertama mengenalnya, langkahnya pun mulai goyahdan lambat.
Kerut-kerut diwajahnya menggambarkan kerasnya perjuangan hidup yang telahdilaluinya. Bahkan suaranya pun terdengar parau menyelingi sakit yang seringdideritanya.Kini pikiranku jauh melayang pada sayup-sayup suara ibu, sambilmenyusuiku ia memperkenalkan pria ini setiap hari, "nak, ini ayah ?" meskiaku pun belum begitu mengerti saat itu. Bahkan menurut ibu, pria ini justruyang pertama kali menyambutku ketika pertama kalinya aku melihat dunia.Cerita ibu, karena pria ini yang mengantar, menemani ibu hingga saatpersalinan. Bahkan suaranyalah yang pertama kudengar dengan lembut meneroboskedua telingaku dengan lantunan adzan dan iqomat hingga aku tetap mengenalisuara panggilan Allah itu hingga kini.
Dari ibu juga aku mengetahui, bahwa ia rela kehilangan kesempatan untukmencurahkan kasih sayang dan cintanya kepadaku demi bekerja seharian penuhsejak dinginnya shubuh masih menusuk kesunyian hari saat aku masih tertidurhingga malam yang larut ketika akupun sudah terlelap. Ia tahu resiko yangharus diterimanya kelak, bahwa anak-anaknya tak akan mengenalnya, tak akanlebih mencintainya seperti mereka mencintai ibu mereka, tak akanmenghormatinya karena merasa asing dan tidak akan memprioritaskanperintahnya karena hampir tak pernah dekat. Tapi kini kutahu, ia lakukansemua demi aku, anaknya. Ibu juga pernah bercerita, pria ini selelah apapunia tetap tersenyum dan tak pernah menolak saat aku mengajaknya bermain danterus bermain. Ia tak pernah menghiraukan penat, peluh dan lelahnya sepulangkerja demi membuat aku tetap senang. Ia tak mengeluh harus bangunberkali-kali di malam hari bergantian dengan ibu untuk sekedar menggantikanpopok pipisku atau membuatkanku sebotol susu. Dan itu berlangsung terusselama beberapa tahun, yang untuk semua itu ia ikhlas menggadaikan rasakantuknya. Kusadari kini, semua dilakukannya untukku.
Untuk sebuah cinta yang tak pernah ia harapkan balasannya. Seperti halnyaibu, ia juga rela ketika harus terus menggunakan kemeja usangnya untukbekerja, atau celananya yang beberapa kali ditambal. Kata ayah sepertidiceritakan ibu, uangnya lebih baik untuk membelikan aku pakaian, susu danmakanan terbaik agar aku tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.
Terima kasih Ayah, kutahu engkau juga tak kalah cintanya kepadaku dengankecupan hangatmu saat hendak berangkat kerja dan juga sepulangnya ketika akuterlelap. Meski tak banyak waktu yang kau berikan untuk kita bersama, namunsedetik keberadaanmu telah mengajarkan aku bagaimana menjadi anak yangtegar, tidak cengeng dan mandiri. Kerut diwajahmu, memberi aku contohbagaimana menghadapi kenyataan hidup yang penuh tantangan.
Maafkan aku Ayah, aku tak pernah membayangkan sedemikian besar cinta danpengorbananmu kepadaku. Ayah tak pernah mengeluh meski cinta dan pengorbananitu sering terbalaskan dengan bantahan dan sikap kurang hormatku. Meskikasih sayang yang kau berikan hanya berbuah penilaian salahku tentangmu.
Jangan menangis Ayah, meski kini kau nampak tua dan lelah, bahu danpunggungmu yang tak sekekar dulu lagi, bahkan nafasmu yang mulai tersengal. Ingin aku bisikkan kepadamu, "Aku mencintaimu"

(Author Unknown)

BONUS :Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup,tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas.( Barbara Brown Taylor )

Minggu, Maret 20, 2005

Hidup tuh bergerak…!!!

The moving finger writes; and having writ,
Moves on: nor all piety no wit
Shall lure it back to cancel half time a line
Nor all thy tears wash out a world of it
(omar kahyyam) 1048-122.. Indra gunawan “menulusuri buku kehidupan”-p. 8

diartikan; tangan kehidupan itu senantiasa bergerak,
membuat goresan segala yang pernah diperbuatnya.
Ia mengukir dan memahat semua yang sudah dilakukan
Semua kebajikan, kesalehan ,ataupun sesal air mata
tak akan membatalkan jejak yang pernah di torehnya.


Sebenarnya tulisan ini hendak dijadikan sebagai kado di hari valentine, hari kasih sayang, saya coba memberi kado bagi diri sendiri,namun kesibukanku baru sebulan saya kahirnya menyelesaikan tulisan ini.

Tak terasa telah 26 tahun saya hidup dimuka bumi ini, yang dibulan april tanggal 28 akan berubah menjadi 27 tahun. Entah berapa tahun lagi kedepan, (tentu ini rahasia MU Tuhan). Bersyukur! karena saat ini saya berada di jogja, bagaimana seandainya saya berada di Aceh, mungkin nasib ku akan berkata lain, dengan adanya peristiwa gelombang Tsunami tanggal 26 desember 2004 lalu disana.

Sepenggal kalimat sebagai pembuka tulisan ini sangat berarti bagiku. Hidup kita terus bergerak, tidaklah mungkin mohon ijin pada Tuhan, hidup kita di “pause” dulu. Tidak bisa tuk me-rewind (mengulang) atau meng-previous (mempercepat). Semua telah berjalan dengan track nya tanpa ada zat yang bisa mengutak-ngatik.

Saya coba ingat dan merenung apa saja yang sudah terjalani dalam kehidupan ku sepanjang ini. Sejak SMP (Islam Athirah dari tahun 1990-1993) dan SMA (1993-1996) saya ternyata selalu aktif dalam kegiatan organisasi di sekolah. Iya, sejak di SD pun saya pernah mengikuti cerdas-cermat P4 mewakili sekolah. Kemudian saya ingat kegiatan pramuka dan mewakili SD (SD Kristen) untuk upacara bendera. Mmm,..sejak kecil saya sangat suka kegiatan yang berhubugan dengan banyak orang ya rupanya.

Ikut olah raga beladiri, Karate sejak kelas dua dan tidak aktif sewaktu masuk SMP, sabuk adalah terakhir coklat. Saya ingat sekali, Ayahanda menyuruhku tuk beladiri, karena menurutnya, siapa tau saya kelak merantau ke daerah orang saya pun punya bekal pembelaan diri. (ayahanda tahu kali kalau anaknya ini kelak kan merantau ke Jogja). Saya pun sedikit berbangga, karena dengan ikut beladiri itu teman-teman SD pun “segan” karena saya anak Lemkari.

Kembali di SMP, saya begitu aktif di OSIS, dengan jabatan wakil ketua. Kemudian di SMA Negeri 1 Makassar diangkat menjadi wakil sekertaris. Dunia organisasi merupakan dunia ku sejak kecil. Sewaktu SMP pun saya pernah mengikuti lomba minat baca tingkat provinsi SULSEL. Mungkin momen ini yang mengubah kebiasan hidupku, sehingga detik ini saya gemar membaca.

Dari lomba kecil itu, (atas prakarsa dan dorongan seorang guru SMP, pak Rahman untuk ikut lomba itu) saya belajar bahwa usaha dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil. Masih dapat saya bayangkan lelahnya saya dua minggu untuk belajar mengerjakan resensi sebuah buku. Judulnya Virus komputer, apa dan bagaimana, terbit tahun 1992. Bayangkan waktu itu komputer masih langkah dan saya belum banyak tahu tentang komputer, saya disuruh baca buku teknik-populer seperti itu. Tapi anehnya saya toh dapat membuat resensi sebanyak 250 kata atau dua halaman kertas kuarto dengan spasi satu sentengah. Saya tidak ingat persis bagaimana cara saya buat resensi itu, yang jelas saya baca, terus mencatat hal-hal penting dan jadilah sebuah resensi sambil membaca buku bagaimana membuat sebuah resensi.

Sesuatu hal yang kita kerjakan dengan sebaik mungkin, penuh harapan dan doa tentu akan memberi suatu kesuksesan (prestasi). Ternyata, saya mendapat juara harapan satu (plus uang 20 ribu rupiah yang saya tabung di bank BII). Erwin teman SMP ku juga dapat juara tiga. Mulanya saya jadi kecewa, saya merasa dia tidak lebih baik dari saya. Belajar menerima sesuatu “ketidak adilan”, Saya menghargai usaha ku, apalagi semenjak setelah saya tahu kalau dia membuat resensi itu dengan bantuan kakaknya. Akhirnya saya berbangga hati, resensi itu saya buat, saya baca dan tulis, kemudian saya ketik sendiri dengan mesin ketik tanpa bantuan siapa. (waktu itu komputer belum diperbolehkan karena masih langkah dan mewah bagi peserta hanya boleh pakai mesin tik, walau saya sudah bisa meng-operasikan komputer sebatas game dig-dug dan packman punya paman ku sejak tahun 1988 sedikit-sedikit wordstar 3.1).

Kemudian masa SMA ku, tidak jauh dari organisasi lagi, selain OSIS, saya pun aktif di Palang Merah Remaja (PMR) dan Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR) dan terakhir menjadi pengurus Mushallah IRMUDAM. Dipikir-pikir gila juga, saya mau sekolah atau berorganisasi. Tidak tanggung-tanggung diorganisasi itu semua saya menjabat pula sebagai pengurus. Akhirnya kadang dapat sindiran dari teman kalau saya itu anak organisasi-organisasi, dari pagi sampai malam aktifitasnya di sekolah. Itupun kadang pake acara menginap di mushallah kalau ada acara OSIS bersama teman-teman, seperti Niko, Ical naim, Irwan suaib, Budi WS, Adi setan gunung, Amran “tembok”, Hasbi “humairah”, dan teman lainnya.

Konsekuensi dari aktifitas saya di organisasi, nilai sekolah (akademik) tidak begitu bagus. Di kelas dua, peringkat saya 29 dari 35 siswa dalam satu kelas. Anjlokkk!! Padahal sewaktu kelas satu, sempat diperingkat tujuh. Mungkin waktu itu belum terlalu aktif di lingkungan organisasi, paling ikut menjadi simpatisan diacara keagaman di mushallah. Dan saya sadar teman bergaul (lingkungan) itu mempengaruhi setiap motivasi tindakan dan rencana kita. Di Bukunya David J.Schawartz, the magic of thinking big, ada kutipan “Anda adalah produk lingkungan Anda”. Awal sekolah saya memiliki lingkungan (baca teman-teman) yang berorientasi pada studi. Tirta Bastoni, termasuk anak yang juara kelas, memberi motivasi saya untuk belajar. Kemudian ada Happy, Indrawaty, Defri Sanusi dan Alexander R.Caumen, yang selalu menjadi “saingan” dalam prestasi ulangan dikelas memotivasi untuk sukses dalam kelas.

Hidup adalah sebuah dari konsekuensi atas pilihan kita. Disaat itu saya menghadapi dilema, antara kegiatan sekolah dan prestasi belajar. Tentu sangat sulit untuk beriringan. Saya sadar waktu adalah anugerah dari Ilahi yang sama bagi semua makhluknya. Kita hanya punya 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu dan seterusnya. Kita memilih mau digunakan untuk apa? Ternyata ditahun kedua sekolah di bawakaraeng 53 itu, saya memilih untuk aktif diorganisasi, tidak punya cewek (walau bukan berarti tidak pernah suka ma someone), tidak melewatkan waktu untuk berkumpul tanpa tujuan bersama teman-teman sekolah yang lain, misalnya nongkrong di diskotik, atau sekedar ngumpul cerita kosong.

Dengan memilih orientasi keorganisasian dan kepemimpinan itu, saya belajar mengadakan suatu kegiatan, membuat rencana, mengelola sumber daya waktu, manusia dan sumber-sumber lainnya. Lebih sering berinterkasi dengan banyak orang-orang. Akhirnya saya belajar yang namanya konflik, pertengkaran antara rekan organisasi. Dari situ juga saya belajar suatu keahlian sosial dan interpersonal seperti saling berempati, saling membantu, saling menghormati. Saya begitu menikmati dan mensyukuri bergaul dan berinteraksi dengan teman-teman sekolah yang berbeda latar belakang budaya, ekonomi, pola pikir serta bakat minat. Saya menyadari bahwa Tuhan menciptakan setiap manusia itu dengan keunikan masing-masing.

Hasil dari semua itu membawa pemahaman bahwa setiap manusia memilik perbedaan dan nilai-nilai (value) masing-masing yang mereka peroleh sejak kecil, baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, Agama serta pengetahuan masing-masing. Setiap orang memilki persepsi masing-masing terhadap suatu masalah, tentu akan terjadi beda pendapat dan konflik. Agar kita berdamai dengan perbedaan keadaan itu, dengarkan lah Stephen Covey, tulisnya Apabila saya ingin mengubah keadaan saya harus mengubah diri saya lebih dahulu dan mengubah diri saya secara efektif saya harus lebih dahulu mengubah persepsi saya. (Hernowo, Mengikat Makna, kaifa, 2001)

Kemudian saya merantau di Jogja ditahun 1996,dua kali tidak diterima UMPTN tahun 1997 saya akhirnya memutuskan kuliah di STIE YKPN. Awal tahun kuliah saya menceburkan diri di aktivitas pergerakan mahasiswa. Mas Andree Komunis (sapaannya), memperkenalkan pemikiran-pemikiran kiri, seperti Karl Marx itu. Pengalaman yang cukup berkesan adalah ikut mengorganisir demostrasi ditingkatan kampus. Memobilisasi massa, sehingga mahasiswa kampus ku “mau” diajak turun kejalan bersatu padu dengan seluruh masyarakat jogja untuk berikrar reformasi di alun-alun utara bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang ujung-ujungnya melengserkan Soeharto itu.

Tapi satu tahun sebelum masuk kuliah, saya sempat menganggur (ikut bimbel dan kursus sana-sini). Masa itu cukup memberi makna dan tidak enak namanya nganggur. Masa saya banyak membaca, di masa itu pun saya berkenalan dengan “guru-guru” informal yang menularkan semangat spiritual dan intelektual. Ka Syafwan lewat yayasan rausyan Fikr. Pendekatan keagamaan lewat ideologi Syi’ah, saya diajak mengembara untuk menemukan Tuhan lewat pendekatan CINTA. Keberagaman bukan dimaknai sebagai suatu dua sisi halal dan haram saja. Bukan suatu dogma yang harus dipaksakan, tetapi suatu perjalan mencari Tuhan dengan nilai-nilai yang lebih universal dan rasional menurutku. Dari situ saya berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Ali bin Abi Thalib RA, Murthaddha Muttahari, Alisyariati. Kang Jalal, Nurcholis Madjid. Walaupun saya akui tidak sampai intensif, tapi mempengaruhi pola pikir ku yang dulu hanya mengganggap bahwa ujung dari hidup ini adalah syurga dan neraka atau halal dan haram.

Sewaktu SMA sebenarnya saya sudah dikenalkan dengan kegiatan dikusi dan menulis oleh senior alumni smansa di kegiatan IRMUDAM, seperti kak Alfian, dengan pendekatan bahan bacaan seperti Emha Ainun Najib, Toto Tasmara, dan beberapa buku-buku pencerahan yang terbitan MIZAN, saya diajak untuk berpikir kritis dan memulai suatu pencarian kebenaran. Saya ingat ditahun awal 90-an buku MIZAN sempat diharamkan. Karena kontroversial, MIZAN dianggap penerbit yang keluar dari pakem keagamaan yang masih didominasi “ekslusifitas” kaum tertentu. Karena kontroversi, mendorong saya tertarik mendalami buku-buku “pencerahan tersebut”.

Kembali lagi masa mahasiswa, Jogjakarta nampaknya memang sebuah kota pertemuan dalam hidup ku (baca jodoh). Mungkin apabila waktu itu saya memutuskan balik ke kampung halaman, (karena tak satu pun PTS dan PTN yang menerima saya sebagai mahasiswanya ditahun 1996), jalan hidupku takkan begini. Saya tetap bertahan, dan yakin bahwa dengan “hijrah” (berpindah dari kota kelahiranku) akan memberi suatu pengalaman baru dan “cerita” baru dalam hidup.

Begitulah sampai saya pun terlibat dalam dunia jurnalistik. Dunia pers (mahasiswa) yang memberiku kesempatan untuk lebih dekat dengan dunia baca dan tulis. Dari kegiatan baca dan tulis itu terkadang banyak mengubah perspektif ku dan pandangan ku terhadap hal-hal yang ada didunia ini. Tidak sebatas hitam dan putih lagi. Saya teringat kata
Francis Bacon "Membaca membuat seseorang manusia menjadi berisi, diskusi membuatnya menjadi siap dan menulis menjadi jelas dan pasti".

Di dunia pers kampus, saya belajar kembali menangani organisasi dan bersinggungan dengan idealisme-idealisme perlawanan terhadap suatu kemapanan. Saya lebih tertarik kali ini menuliskan pembelajaran dari dunia juralistik yang menurut ku suatu hal yang baru. Dimana saya belajar menilai antara suatu fakta dan opini. Saya sadar terkadang kita membaca berita, kita lebih sering mempercayai suatu opini pendapat para ahli, tanpa mempercayai fakta yang terjadi sebenarnya. Fakta adalah kondisi riil yang terjadi disuatu masyarakat, sedangkan opini sebatas pendapat dari seseorang yang mungkin benar dan salah menilai suatu keadaan. Dunia tulis menulis membawaku kedalam dialog batin terus menerus, sehingga melatih ku untuk tidak lekas meng-amini atau mengambil kesimpulan sempit terhadap segala sesuatu yang terjadi.

Sikap kritis ku mulai terbangun, berani mempunyai pendapat sendiri dan kerangka berpikir sendiri. Dengan banyak membaca, berdiskusi, dan mendengarkan pendapat orang lain, memberiku banyak pemahaman-pemahaman baru, walau saya sadar itu kadnag membuat ku pusing dan bigung.

Akhir tulisan ini sebenarnya adalah sebuah refleksi, permenungan yang panjang. Permenungan dan pergulatan yang hidup dijiwa dan pikiran ku, yang akan berhenti takala ruh tidak bersama tubuh ku lagi. Hidup adalah sebuah perjalanan. Saya yakin bahwa kitalah yang menentukan baik dan buruknya perjalan itu, setengahnya ada campur tangan Ilahi. Hidup kita pasti akan bergerak, Hidup memang harus dijalani, tidak untuk menunggu keajaiban dan keberuntungan. Hidup bagi ku adalah sebuah perjalan panjang menuju satu yakni menuju ke TUHANdengan jalan kita masing-masing. Selamat menempuh sisa hidup kita.!


Andi Nur BM
Maret 05. Jogja