Kamis, Maret 24, 2005

Maafkan Aku ayah.!!

Sewaktu usiaku belum lima tahun, aku hampir tak pernah mengenalnya. Bukankarena usiaku yang belum bisa mengenal secara detail siapapun, tapi lebihkarena pria ini hampir tidak pernah kujumpai. Kecuali sesekali di hariminggu, ia seharian penuh berada di rumah dan mengajakku bermain. Namunmeski sekali, aku merasa sangat senang dengan keberadaanya.
Sejak aku mulai sekolah hingga masa remaja, aku menganggap pria ini tidaklebih dari sekedar pria tempat ibu meminta uang bulanan, juga untukkeperluan sekolahku dan adik-adikku. Tidak seperti anak-anak lainnya yangmempunyai seorang pria dewasa yang membela mereka saat berseteru denganteman mainnya, atau setidaknya merangkul menenangkan ketika kalah berkelahi,aku tidak. Pria dewasa yang sering kujumpai di rumah itu sibuk dengan semuapekerjaannya.
Hingga aku dewasa, pria ini masih kuanggap orang asing meski sesekali iamengajariku berbagai hal dan memberi nasihat. Sampai akhirnya, kutemukanpria ini lagi sehari, dua hari, seminggu, sebulan dan bahkan seterusnyaberada di rumahku. Rambutnya sudah memutih, berdirinya tak lagi tegak, iatak segagah dulu saat aku pertama mengenalnya, langkahnya pun mulai goyahdan lambat.
Kerut-kerut diwajahnya menggambarkan kerasnya perjuangan hidup yang telahdilaluinya. Bahkan suaranya pun terdengar parau menyelingi sakit yang seringdideritanya.Kini pikiranku jauh melayang pada sayup-sayup suara ibu, sambilmenyusuiku ia memperkenalkan pria ini setiap hari, "nak, ini ayah ?" meskiaku pun belum begitu mengerti saat itu. Bahkan menurut ibu, pria ini justruyang pertama kali menyambutku ketika pertama kalinya aku melihat dunia.Cerita ibu, karena pria ini yang mengantar, menemani ibu hingga saatpersalinan. Bahkan suaranyalah yang pertama kudengar dengan lembut meneroboskedua telingaku dengan lantunan adzan dan iqomat hingga aku tetap mengenalisuara panggilan Allah itu hingga kini.
Dari ibu juga aku mengetahui, bahwa ia rela kehilangan kesempatan untukmencurahkan kasih sayang dan cintanya kepadaku demi bekerja seharian penuhsejak dinginnya shubuh masih menusuk kesunyian hari saat aku masih tertidurhingga malam yang larut ketika akupun sudah terlelap. Ia tahu resiko yangharus diterimanya kelak, bahwa anak-anaknya tak akan mengenalnya, tak akanlebih mencintainya seperti mereka mencintai ibu mereka, tak akanmenghormatinya karena merasa asing dan tidak akan memprioritaskanperintahnya karena hampir tak pernah dekat. Tapi kini kutahu, ia lakukansemua demi aku, anaknya. Ibu juga pernah bercerita, pria ini selelah apapunia tetap tersenyum dan tak pernah menolak saat aku mengajaknya bermain danterus bermain. Ia tak pernah menghiraukan penat, peluh dan lelahnya sepulangkerja demi membuat aku tetap senang. Ia tak mengeluh harus bangunberkali-kali di malam hari bergantian dengan ibu untuk sekedar menggantikanpopok pipisku atau membuatkanku sebotol susu. Dan itu berlangsung terusselama beberapa tahun, yang untuk semua itu ia ikhlas menggadaikan rasakantuknya. Kusadari kini, semua dilakukannya untukku.
Untuk sebuah cinta yang tak pernah ia harapkan balasannya. Seperti halnyaibu, ia juga rela ketika harus terus menggunakan kemeja usangnya untukbekerja, atau celananya yang beberapa kali ditambal. Kata ayah sepertidiceritakan ibu, uangnya lebih baik untuk membelikan aku pakaian, susu danmakanan terbaik agar aku tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.
Terima kasih Ayah, kutahu engkau juga tak kalah cintanya kepadaku dengankecupan hangatmu saat hendak berangkat kerja dan juga sepulangnya ketika akuterlelap. Meski tak banyak waktu yang kau berikan untuk kita bersama, namunsedetik keberadaanmu telah mengajarkan aku bagaimana menjadi anak yangtegar, tidak cengeng dan mandiri. Kerut diwajahmu, memberi aku contohbagaimana menghadapi kenyataan hidup yang penuh tantangan.
Maafkan aku Ayah, aku tak pernah membayangkan sedemikian besar cinta danpengorbananmu kepadaku. Ayah tak pernah mengeluh meski cinta dan pengorbananitu sering terbalaskan dengan bantahan dan sikap kurang hormatku. Meskikasih sayang yang kau berikan hanya berbuah penilaian salahku tentangmu.
Jangan menangis Ayah, meski kini kau nampak tua dan lelah, bahu danpunggungmu yang tak sekekar dulu lagi, bahkan nafasmu yang mulai tersengal. Ingin aku bisikkan kepadamu, "Aku mencintaimu"

(Author Unknown)

BONUS :Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup,tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas.( Barbara Brown Taylor )

Minggu, Maret 20, 2005

Hidup tuh bergerak…!!!

The moving finger writes; and having writ,
Moves on: nor all piety no wit
Shall lure it back to cancel half time a line
Nor all thy tears wash out a world of it
(omar kahyyam) 1048-122.. Indra gunawan “menulusuri buku kehidupan”-p. 8

diartikan; tangan kehidupan itu senantiasa bergerak,
membuat goresan segala yang pernah diperbuatnya.
Ia mengukir dan memahat semua yang sudah dilakukan
Semua kebajikan, kesalehan ,ataupun sesal air mata
tak akan membatalkan jejak yang pernah di torehnya.


Sebenarnya tulisan ini hendak dijadikan sebagai kado di hari valentine, hari kasih sayang, saya coba memberi kado bagi diri sendiri,namun kesibukanku baru sebulan saya kahirnya menyelesaikan tulisan ini.

Tak terasa telah 26 tahun saya hidup dimuka bumi ini, yang dibulan april tanggal 28 akan berubah menjadi 27 tahun. Entah berapa tahun lagi kedepan, (tentu ini rahasia MU Tuhan). Bersyukur! karena saat ini saya berada di jogja, bagaimana seandainya saya berada di Aceh, mungkin nasib ku akan berkata lain, dengan adanya peristiwa gelombang Tsunami tanggal 26 desember 2004 lalu disana.

Sepenggal kalimat sebagai pembuka tulisan ini sangat berarti bagiku. Hidup kita terus bergerak, tidaklah mungkin mohon ijin pada Tuhan, hidup kita di “pause” dulu. Tidak bisa tuk me-rewind (mengulang) atau meng-previous (mempercepat). Semua telah berjalan dengan track nya tanpa ada zat yang bisa mengutak-ngatik.

Saya coba ingat dan merenung apa saja yang sudah terjalani dalam kehidupan ku sepanjang ini. Sejak SMP (Islam Athirah dari tahun 1990-1993) dan SMA (1993-1996) saya ternyata selalu aktif dalam kegiatan organisasi di sekolah. Iya, sejak di SD pun saya pernah mengikuti cerdas-cermat P4 mewakili sekolah. Kemudian saya ingat kegiatan pramuka dan mewakili SD (SD Kristen) untuk upacara bendera. Mmm,..sejak kecil saya sangat suka kegiatan yang berhubugan dengan banyak orang ya rupanya.

Ikut olah raga beladiri, Karate sejak kelas dua dan tidak aktif sewaktu masuk SMP, sabuk adalah terakhir coklat. Saya ingat sekali, Ayahanda menyuruhku tuk beladiri, karena menurutnya, siapa tau saya kelak merantau ke daerah orang saya pun punya bekal pembelaan diri. (ayahanda tahu kali kalau anaknya ini kelak kan merantau ke Jogja). Saya pun sedikit berbangga, karena dengan ikut beladiri itu teman-teman SD pun “segan” karena saya anak Lemkari.

Kembali di SMP, saya begitu aktif di OSIS, dengan jabatan wakil ketua. Kemudian di SMA Negeri 1 Makassar diangkat menjadi wakil sekertaris. Dunia organisasi merupakan dunia ku sejak kecil. Sewaktu SMP pun saya pernah mengikuti lomba minat baca tingkat provinsi SULSEL. Mungkin momen ini yang mengubah kebiasan hidupku, sehingga detik ini saya gemar membaca.

Dari lomba kecil itu, (atas prakarsa dan dorongan seorang guru SMP, pak Rahman untuk ikut lomba itu) saya belajar bahwa usaha dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil. Masih dapat saya bayangkan lelahnya saya dua minggu untuk belajar mengerjakan resensi sebuah buku. Judulnya Virus komputer, apa dan bagaimana, terbit tahun 1992. Bayangkan waktu itu komputer masih langkah dan saya belum banyak tahu tentang komputer, saya disuruh baca buku teknik-populer seperti itu. Tapi anehnya saya toh dapat membuat resensi sebanyak 250 kata atau dua halaman kertas kuarto dengan spasi satu sentengah. Saya tidak ingat persis bagaimana cara saya buat resensi itu, yang jelas saya baca, terus mencatat hal-hal penting dan jadilah sebuah resensi sambil membaca buku bagaimana membuat sebuah resensi.

Sesuatu hal yang kita kerjakan dengan sebaik mungkin, penuh harapan dan doa tentu akan memberi suatu kesuksesan (prestasi). Ternyata, saya mendapat juara harapan satu (plus uang 20 ribu rupiah yang saya tabung di bank BII). Erwin teman SMP ku juga dapat juara tiga. Mulanya saya jadi kecewa, saya merasa dia tidak lebih baik dari saya. Belajar menerima sesuatu “ketidak adilan”, Saya menghargai usaha ku, apalagi semenjak setelah saya tahu kalau dia membuat resensi itu dengan bantuan kakaknya. Akhirnya saya berbangga hati, resensi itu saya buat, saya baca dan tulis, kemudian saya ketik sendiri dengan mesin ketik tanpa bantuan siapa. (waktu itu komputer belum diperbolehkan karena masih langkah dan mewah bagi peserta hanya boleh pakai mesin tik, walau saya sudah bisa meng-operasikan komputer sebatas game dig-dug dan packman punya paman ku sejak tahun 1988 sedikit-sedikit wordstar 3.1).

Kemudian masa SMA ku, tidak jauh dari organisasi lagi, selain OSIS, saya pun aktif di Palang Merah Remaja (PMR) dan Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR) dan terakhir menjadi pengurus Mushallah IRMUDAM. Dipikir-pikir gila juga, saya mau sekolah atau berorganisasi. Tidak tanggung-tanggung diorganisasi itu semua saya menjabat pula sebagai pengurus. Akhirnya kadang dapat sindiran dari teman kalau saya itu anak organisasi-organisasi, dari pagi sampai malam aktifitasnya di sekolah. Itupun kadang pake acara menginap di mushallah kalau ada acara OSIS bersama teman-teman, seperti Niko, Ical naim, Irwan suaib, Budi WS, Adi setan gunung, Amran “tembok”, Hasbi “humairah”, dan teman lainnya.

Konsekuensi dari aktifitas saya di organisasi, nilai sekolah (akademik) tidak begitu bagus. Di kelas dua, peringkat saya 29 dari 35 siswa dalam satu kelas. Anjlokkk!! Padahal sewaktu kelas satu, sempat diperingkat tujuh. Mungkin waktu itu belum terlalu aktif di lingkungan organisasi, paling ikut menjadi simpatisan diacara keagaman di mushallah. Dan saya sadar teman bergaul (lingkungan) itu mempengaruhi setiap motivasi tindakan dan rencana kita. Di Bukunya David J.Schawartz, the magic of thinking big, ada kutipan “Anda adalah produk lingkungan Anda”. Awal sekolah saya memiliki lingkungan (baca teman-teman) yang berorientasi pada studi. Tirta Bastoni, termasuk anak yang juara kelas, memberi motivasi saya untuk belajar. Kemudian ada Happy, Indrawaty, Defri Sanusi dan Alexander R.Caumen, yang selalu menjadi “saingan” dalam prestasi ulangan dikelas memotivasi untuk sukses dalam kelas.

Hidup adalah sebuah dari konsekuensi atas pilihan kita. Disaat itu saya menghadapi dilema, antara kegiatan sekolah dan prestasi belajar. Tentu sangat sulit untuk beriringan. Saya sadar waktu adalah anugerah dari Ilahi yang sama bagi semua makhluknya. Kita hanya punya 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu dan seterusnya. Kita memilih mau digunakan untuk apa? Ternyata ditahun kedua sekolah di bawakaraeng 53 itu, saya memilih untuk aktif diorganisasi, tidak punya cewek (walau bukan berarti tidak pernah suka ma someone), tidak melewatkan waktu untuk berkumpul tanpa tujuan bersama teman-teman sekolah yang lain, misalnya nongkrong di diskotik, atau sekedar ngumpul cerita kosong.

Dengan memilih orientasi keorganisasian dan kepemimpinan itu, saya belajar mengadakan suatu kegiatan, membuat rencana, mengelola sumber daya waktu, manusia dan sumber-sumber lainnya. Lebih sering berinterkasi dengan banyak orang-orang. Akhirnya saya belajar yang namanya konflik, pertengkaran antara rekan organisasi. Dari situ juga saya belajar suatu keahlian sosial dan interpersonal seperti saling berempati, saling membantu, saling menghormati. Saya begitu menikmati dan mensyukuri bergaul dan berinteraksi dengan teman-teman sekolah yang berbeda latar belakang budaya, ekonomi, pola pikir serta bakat minat. Saya menyadari bahwa Tuhan menciptakan setiap manusia itu dengan keunikan masing-masing.

Hasil dari semua itu membawa pemahaman bahwa setiap manusia memilik perbedaan dan nilai-nilai (value) masing-masing yang mereka peroleh sejak kecil, baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, Agama serta pengetahuan masing-masing. Setiap orang memilki persepsi masing-masing terhadap suatu masalah, tentu akan terjadi beda pendapat dan konflik. Agar kita berdamai dengan perbedaan keadaan itu, dengarkan lah Stephen Covey, tulisnya Apabila saya ingin mengubah keadaan saya harus mengubah diri saya lebih dahulu dan mengubah diri saya secara efektif saya harus lebih dahulu mengubah persepsi saya. (Hernowo, Mengikat Makna, kaifa, 2001)

Kemudian saya merantau di Jogja ditahun 1996,dua kali tidak diterima UMPTN tahun 1997 saya akhirnya memutuskan kuliah di STIE YKPN. Awal tahun kuliah saya menceburkan diri di aktivitas pergerakan mahasiswa. Mas Andree Komunis (sapaannya), memperkenalkan pemikiran-pemikiran kiri, seperti Karl Marx itu. Pengalaman yang cukup berkesan adalah ikut mengorganisir demostrasi ditingkatan kampus. Memobilisasi massa, sehingga mahasiswa kampus ku “mau” diajak turun kejalan bersatu padu dengan seluruh masyarakat jogja untuk berikrar reformasi di alun-alun utara bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang ujung-ujungnya melengserkan Soeharto itu.

Tapi satu tahun sebelum masuk kuliah, saya sempat menganggur (ikut bimbel dan kursus sana-sini). Masa itu cukup memberi makna dan tidak enak namanya nganggur. Masa saya banyak membaca, di masa itu pun saya berkenalan dengan “guru-guru” informal yang menularkan semangat spiritual dan intelektual. Ka Syafwan lewat yayasan rausyan Fikr. Pendekatan keagamaan lewat ideologi Syi’ah, saya diajak mengembara untuk menemukan Tuhan lewat pendekatan CINTA. Keberagaman bukan dimaknai sebagai suatu dua sisi halal dan haram saja. Bukan suatu dogma yang harus dipaksakan, tetapi suatu perjalan mencari Tuhan dengan nilai-nilai yang lebih universal dan rasional menurutku. Dari situ saya berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Ali bin Abi Thalib RA, Murthaddha Muttahari, Alisyariati. Kang Jalal, Nurcholis Madjid. Walaupun saya akui tidak sampai intensif, tapi mempengaruhi pola pikir ku yang dulu hanya mengganggap bahwa ujung dari hidup ini adalah syurga dan neraka atau halal dan haram.

Sewaktu SMA sebenarnya saya sudah dikenalkan dengan kegiatan dikusi dan menulis oleh senior alumni smansa di kegiatan IRMUDAM, seperti kak Alfian, dengan pendekatan bahan bacaan seperti Emha Ainun Najib, Toto Tasmara, dan beberapa buku-buku pencerahan yang terbitan MIZAN, saya diajak untuk berpikir kritis dan memulai suatu pencarian kebenaran. Saya ingat ditahun awal 90-an buku MIZAN sempat diharamkan. Karena kontroversial, MIZAN dianggap penerbit yang keluar dari pakem keagamaan yang masih didominasi “ekslusifitas” kaum tertentu. Karena kontroversi, mendorong saya tertarik mendalami buku-buku “pencerahan tersebut”.

Kembali lagi masa mahasiswa, Jogjakarta nampaknya memang sebuah kota pertemuan dalam hidup ku (baca jodoh). Mungkin apabila waktu itu saya memutuskan balik ke kampung halaman, (karena tak satu pun PTS dan PTN yang menerima saya sebagai mahasiswanya ditahun 1996), jalan hidupku takkan begini. Saya tetap bertahan, dan yakin bahwa dengan “hijrah” (berpindah dari kota kelahiranku) akan memberi suatu pengalaman baru dan “cerita” baru dalam hidup.

Begitulah sampai saya pun terlibat dalam dunia jurnalistik. Dunia pers (mahasiswa) yang memberiku kesempatan untuk lebih dekat dengan dunia baca dan tulis. Dari kegiatan baca dan tulis itu terkadang banyak mengubah perspektif ku dan pandangan ku terhadap hal-hal yang ada didunia ini. Tidak sebatas hitam dan putih lagi. Saya teringat kata
Francis Bacon "Membaca membuat seseorang manusia menjadi berisi, diskusi membuatnya menjadi siap dan menulis menjadi jelas dan pasti".

Di dunia pers kampus, saya belajar kembali menangani organisasi dan bersinggungan dengan idealisme-idealisme perlawanan terhadap suatu kemapanan. Saya lebih tertarik kali ini menuliskan pembelajaran dari dunia juralistik yang menurut ku suatu hal yang baru. Dimana saya belajar menilai antara suatu fakta dan opini. Saya sadar terkadang kita membaca berita, kita lebih sering mempercayai suatu opini pendapat para ahli, tanpa mempercayai fakta yang terjadi sebenarnya. Fakta adalah kondisi riil yang terjadi disuatu masyarakat, sedangkan opini sebatas pendapat dari seseorang yang mungkin benar dan salah menilai suatu keadaan. Dunia tulis menulis membawaku kedalam dialog batin terus menerus, sehingga melatih ku untuk tidak lekas meng-amini atau mengambil kesimpulan sempit terhadap segala sesuatu yang terjadi.

Sikap kritis ku mulai terbangun, berani mempunyai pendapat sendiri dan kerangka berpikir sendiri. Dengan banyak membaca, berdiskusi, dan mendengarkan pendapat orang lain, memberiku banyak pemahaman-pemahaman baru, walau saya sadar itu kadnag membuat ku pusing dan bigung.

Akhir tulisan ini sebenarnya adalah sebuah refleksi, permenungan yang panjang. Permenungan dan pergulatan yang hidup dijiwa dan pikiran ku, yang akan berhenti takala ruh tidak bersama tubuh ku lagi. Hidup adalah sebuah perjalanan. Saya yakin bahwa kitalah yang menentukan baik dan buruknya perjalan itu, setengahnya ada campur tangan Ilahi. Hidup kita pasti akan bergerak, Hidup memang harus dijalani, tidak untuk menunggu keajaiban dan keberuntungan. Hidup bagi ku adalah sebuah perjalan panjang menuju satu yakni menuju ke TUHANdengan jalan kita masing-masing. Selamat menempuh sisa hidup kita.!


Andi Nur BM
Maret 05. Jogja