Senin, November 09, 2015

INOVASI ALA GOJEK


Fenomena bisnis yang menarik belakangan ini ialah kehadiran bisnis layanan tranportasi pengantaran (ojek) berbasis smartpone. Sejak diluncurkan aplikasi jasa deliveri ala PT Go Jek Indonesia pada awal tahun 2015, perusahaan ini pun mendapat perhatian khusus dari masyarakat. Selain pemberitaan sisi positif dimana membuka lapangan kerja baru juga ada pemberitaan negatif yakni banyaknya kasus pengroyokan yang dialami oleh tukang ojek versi gojek oleh kelompok tukang ojek tradisional. Para tukang ojek tradisional merasa terancam karena merasa tukang ojek versi Gojek telah merebut pasar potensial mereka. Sehingga hal ini menjadi gejolak sosial dimasyarakat.

Siapa sebenarnya dibalik pembuat aplikasi Gojek tersebut.? Dia adalah anak muda bernama Nadiem Makarim seorang anak muda yang berdomilisi di Jakarta. Dia membangun bisnis yang dikategorikan start up berbasis Teknologi Informasi/aplikasi. Lulusan dari International Relations di Brown University, AS dan Magister pada Harvard Business School ini lebih memilih membangun bisnisnya sendiri lewat bendera PT Gojek Indonesia dengan meninggalkan pekerjaanya di sebuah perusahaan konsultan dan riset internasional yakni Mc Kinsey.

Ide bisnis sangat sederhana dan buka hal yang baru. Ia hanya membuat satu aplikasi  yang mudah digunakan yang membuat tukang ojek terkoneksi dengan seluruh penumpang yang membutuhkan jasanya. Dengan mengunduh aplikasi Gojek di Appstore pada smartphone (berbasis android) si pengguna dapat menggunakan layanan jasa tranportasi (ojek), pesan antar (makanan/minuman) dan layanan kurir (antar barang). Dengan aplikasi inipula  pengguna juga dapat mengetahui kisaran tarif yang harus dibayar, dan bisa melacak keberadaan objek yang dipesan ataupun menghubunginya langsung via ponsel/SMS. Pembayarannya pun dapat dilakukan secara non-tunai, yaitu lewat sistem kredit yang bisa di-top-up lewat aplikas yang dikembangkan.

Apa yang dilakukan oleh pendiri Gojek merupakan pelajaran tentang kasus bisnis bagaimana Teknologi Informasi menambah inovasi suatu model bisnis. Bagaimana bisnis yang “ecek-ecek”  tapi disentuh oleh pengetahuan menciptakan nilai inovasi dengan pemanfaatan teknologi mengubah model bisnis ojek tradisional menjadi lebih bernilai.  Aplikasi berbasis mobile menjadikan model bisnis ini segera berkembang pesat dan memberi keuntungan tidak hanya perusahaan tetapi juga masyarakat pengguna bisnis ini. Selain itu bisnis ini juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang.

Gojek melakukan apa yang dinamakan dengan inovasi distruptif. Inovasi disruptif (disruptive innovation) dapat dipahami sebagai inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut yang sudah diterima pasar sebelumnya. Prinsip dari Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama.

Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel "Disruptive Technologies: Catching the Wave" di jurnal Harvard Business Review (1995). Kemudian Professor Christensen pun membuat buku dengan judul "The Innovator's Dilemma", Christensen memperkenalkan model Disruptive Inovasi (The Disruptive Innovation Model).
Gojek mempertemukan antara pengguna jasa ojek dan para tukang ojek. Dulu model bisnis tukang ojek tradisional hanya mangkal di titik tertentu yang diduga menguntungkan. Beruntung bila satu hari mereka dapat penumpang 4-5 orang per hari. Adanya handpone membantu mereka dihubungi oleh pelanggan lama mereka. Itupun juga belum tentu menghasilkan pendapatan diatas 3 juta rupiah.

Model bisnis Gojek yang disempurnakan dengan aplikasi TI secara mobile dan real time yang mana para tukang ojek dapat dengan mudah menemukan pengguna ojek disekitarnya. Begitu juga sebaliknya pengguna tidak perlu mencari-cari atau berjalan ke pangkalan ojek terdekat untuk menggunakan jasa ojek. Selain itu para tukang ojek pun dapat mengembangkan jasanya tidak hanya untuk antar jemput penumpang, mereka pun dapat tambahan pendapatan dari jasa kurir (antar barang) dan pesan makanan dan minuman atau barang belanjaan bagi konsumen yang membutuhkan. Sehingga tidak heran pendapatan para tukang ojek ini pun bertambah rata-rata 5-6 juta rupiah, malah bila rajin para tukang ojek itu bisa menembus penghasilan hingga 10 juta rupiah dan mendapatkan tambahan penghasilan lainnya dari perusahaan Gojek.

Apa yang dilakukan Gojek adalah suatu bentuk inovasi bisnis. Kekuatannya adalah bagaimana memotong masa tunggu bagi pihak pengguna ojek dan penyedia jasa ojek. Aplikasi yang di buat real time sehingga mampu mempertemukan dengan segera (secepatnya) pengguna dan penyedia jasa ojek. Karena masa tunggu dapat dipersingkat didukung aplikasi yang user friendly sehingga mampu mengumpulkan ribuan order transaksi perhari. Gojek pun memungut fee dari jasa tersebut. Proses bisnis yang efisien ini sehingga mampu meningkatkan produktifitas dan pendapatan  para tukang ojek versi Gojek yang tidak dimiliki bisnis jasa ojek tradisional. Selain itu Gojek pun melakukan penetrasi harga yang jauh lebih murah dibanding jasa yang ditawarkan.

Kita nanti kan inovasi-inovasi bisnis berikutnya oleh anak muda kita yang tidak hanya berpikir bisnis untuk keuntungan yang sempit, tetapi juga berpikir bagaimana dengan bisnis yang mereka ciptakan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar dan meningkatkan kesejateraan mereka.

A.M.Nur Bau Massepe

Lecture, Research & Consulting

Jumat, Juli 24, 2015

Knowledge economy dan kapasitas individu

Oleh Jennie M. Xue -

Sukses sebuah tim, tak bisa lepas dari kualitas individu yang ada didalamnya. Kini kita telah berada di dalam ekonomi pengetahuan (knowledge economy atau KE). KE ditandai dengan maraknya industri yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, sains, hak atas kekayaan intelektual, dan riset. Perlu kita catat, yng terpenting dalam jajaran kapital industri-industri tersebut adalah kapital sumber daya manusia (SDM), alias individu.
Individu-individu dengan predikat “paling” sangat dibutuhkan, karena tanpa mereka, tidak akan ada ide-ide jenius yang diperlukan sebagai motor penggerak dan pengisi akun bank.
Dalam KE, kapasitas individu merupakan kapital dan tantangan luar biasa untuk selalu dipertahankan dan terus diperbaiki. Integrasi manajemen SDM merupakan kebutuhan yang urgen bagi organisasi.
Bayangkan, bisnis yang mengandalkan aset intelektual, namun tidak mempunyai SDM berkualitas super di belakangnya. Bagaimana jadinya? Hampir bisa dipastikan bisnis ini akan gagal untuk bertahan lama.
Kuncinya adalah karakter yang baik dan sesuai dengan pekerjaan. Karena kompetensi bisa dibina dan dilatih.
Produktivitas dan kualitas performance juga bisa dilatih dengan bantuan coach atau mentor. Untuk mempertahankan individu yang sesuai karakter dan kompetensinya, manajemen perlu menjalankan gaya komunikasi dan interaksi serta pembangunan spirit moral yang tepat.
Manajemen kapasitas individu idealnya berdasarkan satu prinsip sederhana yakni kebahagiaan atawwa happiness. Pakar Psikologi Positif Mihaly Csikszentmihalyi mempopulerkan konsep “flow” alias “mengalir,” di mana kondisi psikis terbaik seseorang ketika mengerjakan sesuatu. Kondisi ini memungkinkan antara kemampuan atau skil dan kesempatan atawa opportunity bertemu di satu titik, sehingga aliran terjadi secara organik.
Sebagai seorang profesional Anda perlu menyadari bahwa inti dari sukses dalam bidang apa pun adalah rasa bahagia dan ketenangan bahwa hal-hal dasar ada dalam jangkauan kapasitas, termasuk kemampuan dalam mengatasi masalah. Jadi, aktivitas-aktivitas dipilih yang memberikan tambahan rasa bahagia dan ketenangan.
Sebagai manajer, Anda punya kewajiban untuk melestarikan positivitas dalam tim dan anggota tim. Tujuan akhirnya tentu saja sebagai “kurator aset intelektual” yang berada di dalam aset SDM. Bagaimana? Menjaga kebahagiaan dan ketenangan dengan positivitas.
Seorang pemimpin yang baik memiliki cukup karisma untuk didengarkan dan kesabaran untuk mendengarkan. Ini kedengarannya klise, namun cukup sulit untuk dijalankan. Anda perlu mengenal anggota tim sehingga mempunyai informasi latar belakang yang cukup untuk memprediksi kapasitas mereka.
Selain komunikasi positif, Anda perlu mengenali kapasitas individu di dalam tim, baik tim kecil maupun keseluruhan perusahaan yang dipandang sebagai “tim besar.” Beberapa indikator yang bisa dipakai. Pertama, apakah ia fokus akan gol atau aktivitas? Kedua, apakah ia lebih banyak memberikan masukan ketika proses berlangsung atau setelah selesai?
Ketiga, apakah ia lebih sering mengambil keputusan sendiri atau menunggu instruksi? Empat, apakah ia mengikuti instruksi secara penuh atau berimprovisasi dengan cara-cara sendiri? Kelima, apakah ia lebih mendengarkan opini orang lain atau mencari fakta dan informasi instruksional yang netral? Keenam, apakah ia berorientasi di masa lalu, kini atau masa depan?
Setiap individu mempunyai fokus yang berbeda. Atau bahkan tanpa fokus sama sekali. Apabila anggota tim Anda tampak tidak berkonsentrasi saat menjalankan tugas tertentu, atau saat mengerjakan beberapa hal sekaligus, lalu tampak gelisah, bisa jadi malah ia adalah seseorang yang mempunyai kesulitan klinis untuk fokus alias mempunyai kondisi ADD atau ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder).
Idealnya, setiap anggota tim bisa untuk berfokus pada tujuan yang sama dengan kualitas fokus yang sama-sama excellent. Dengan input SDM alias kualitas intelektual dan kualitas ketenangan dan kebahagiaan diri yang kurang lebih setara, maka output kerja mestinya sangat memuaskan.
Kesimpulannya adalah knowledge economy membutuhkan knowledge worker berkualitas tinggi yang dibina dalam lingkungan positif dan kondusif untuk peningkatan kapasitas individu. Bagaimana dengan kualitas individu di tim Anda?
sumber: kontan.co.id

Kamis, Juli 16, 2015

Dibawah bayang-bayang resesi ekonomi


oleh: A.M.Nur Bau Massepe 

Memasuki hari lebaran ditahun 2015 atau memasuki semeseter ke dua kondisi perekonomian Indonesia kembali menghadapi beberapa tantangan. Tantangan berupa adanya perlambatan ekonomi global dengan salah satu pemicunya terjadinya gagal bayar pemerintahan Yunani terhadap utang-utangnya (krisis ekonomi yunani). Nilai tukar rupiah yang terus menerus melemah serta inflasi yang semakin tinggi, IHSG Indeks Harga Saham Gabungan) yang melorot tajam dipicu aksi jual yang agresif oleh investor asing, dan menarik dananya dipasar modal kita.  Faktor-faktor tersebut akan memberi dampak buruk pada kondisi perekonomian kita dan tentunya akan membuat kondisi bisnis (usaha) kita tidak akan lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ancaman ekonomi Indonesia untuk tertimpa atau dibayang-bayangi krisis ekonomi mulai sering diperbincangkan. Para pakar dan  pengamat ekonomi mulai memberi peringatan akan kondisi yang kurang baik ini. Pelaku bisnis berhati-hati dan mewaspadai gejala ini dengan segera mengambil langkah-langkah strategis terhadap faktor-faktor manajemen operasional, keuangan dan pemasaran kedepan agar masa depan usaha tetap bertahan.
Krisis ekonomi global
Berdasarkan data badan pengelolaan utang Yunani yang banyak dilansir media cetak tanah air menyebutkan bahwa pada Maret tahun ini saja beban utang negara itu mencapai 312,7 miliar euro atau sekitar Rp 4.600 triliun alias 174,7 persen di atas GDP. Walaupun Yunani adalah negara yang kecil konstribusinya 1-2% terhadap terhadap ekonomi Eropa, dan hampir sama sekali tidak ada nilai perdagangan negara kita dengan Yunani,  namun mempertimbangkan sejarah krisis tahun 2008 dampak dari krisis tersebut terhadap perekonomian bagi negara-negara Eropa tentu akan berdampak pula pada negara kita walaupun itu tidak secara langsung nantinya.
Perspektif ekonomi internasonal mengatakan per­dagangan antar satu negara dengan negara lain saling berkaitan, misalnya melalui aliran barang dan jasa. Kita ketahui bahwa im­por suatu negara merupakan ekspor bagi negara lain. Ini juga dapat berarti re­sesi di satu negara akan menular dan mempengaruhi secara global, begitu juga penurunan impor di satu negara menyebabkan tertekannya ekspor di negara lain.
Saat ini hampir semua negara-negara di dunia men­ganut sistem pasar bebas sehingga terkait satu sama lain. Aliran dana bebas keluar masuk dari satu negara ke negara lain dengan regulasi moneter tiap negara yang beragam. Akibatnya setiap negara memiliki risiko terkena dampak krisis bila di negara asing sana atau tetangganya sedang mengalami masalah. Begitu juga bagi Indonesia yang sangat terpengaruh dengan kondisi perekonomian global khususnya apa yang tejadi di Eropa sana.
IHSG dan pasar modal.
IHSG walaupun awal tahun 2015 sempat menyentuh harga tertinggi dalam sejarahnya yakni 5500 dibulan april, namun saat ini IHSG melorot dikisaran 4.800 ini berarti dalam tiga bulan terakhir terjadi penurunan sekitar  12-13%. Penurunan ini di picu antara lain kekecewaaan investor terhadap hasil kinerja laporan keuangan perusahaan-perusahaan di Indonesia yang negatif pada kuartal 1 ditahun 2015, sehingga investor terutama asing mulai melakukan aksi jual yang cukup besar. Sektor perbankan dan sector komsumsi yang memberi efek negatif terbesar terhadap penurunan IHSG, karena hampir seluruh laporan emiten pada sektor itu adalah merah alias mengalami penurunan kinerja usaha. Kinerja pemerintahan Joko widodo dan Jusuf Kalla yang pada awal mulanya mendapat sentiment positif, tetapi memasuki triwulan ke dua ini mulai mendapat catatan negatif dan cenderung skeptis, karena tidak ada teroboson yang berarti pada sector ekonomi dan usaha, malah sebaliknya.  Dari data bursa efek Indonesia, tahun lalu sekitar Rp 48 Trilyun dana asing yang masuk di pasar modal, namun tahun ini telah mengalami penciutan sekitar Rp 14 trilyun sepanjang tahun ini. Penurunan modal asing ini juga disebabkan ada efek atas bankrutnya pemerintahan Yunani dan bursa regional Asia (Tiongkok) yang cenderung melemah. Melihat indikasi ini menjadikan pasar modal Indonesia tidak seksi lagi dimana investor terutama asing. Kondisi ini juga bisa menahan niat investasi asing untuk berekspansi dipasar kita.
Inflasi dan nilai tukar rupiah
Saat ini nilai tukar rupiah terhadap US dollar telah menembus angka Rp.13.300 per dollar. Ini berarti telah terjadi kenaikan  sekitar 15-20% bila mengacu kurs dollar terhadap rupiah pada satu tahun kebelakang (Juni 2014). Hal ini memberi informasi bahwa satu tahun ini terjadi kenaikan biaya operasional dan produksi perusahaan sekitar 15-20% bagi sektor-sektor industri yang basis usahanya menggunakan komponen-komponen impor dan penggunaan transaksi keuangan berdasarkan kurs dollar. Laba perusahaan akan tergerus dengan kestidak stabilan nilai tukar ini.
Begitu pula inflasi secara nasional pada bulan juni tahun ini adalah 0,66% sebagaimana dilansir oleh Bank Indonesia. Inflasi  dari bulan juni 2014 sampai juni 2015 tercatat diatas 7 %, hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kenaikan harga barang rata-rata tujuh persen setahun ini. Inflasi akan melemahkan daya beli konsumen yang berarti juga akan mengurangi penjualan usaha kita.
Faktor inflasi dan kenaikan kurs rupiah terhadap dollar merupakan dua hal yang selalu akan mengakibatkan terciptanya kondisi ekonomi tinggi bagi pelaku usaha. Indikatornya berupa naiknya biaya produksi dan melemahnya daya beli konsumen/masyarakat. Biaya produksi yang semakin tinggi dan melemahnya daya beli konsumen (masyarakat) menjadi faktor-faktor yang harus di respon oleh pelaku usaha saat ini.
Sedia paying sebelum hujan
Sebagai pengambil kebijakan perusahaan ataukah sebagai pemilik bisnis tentu kita tidak ingin faktor-faktor eksternal tadi dan adanya potensi krisis ekonomi kedatangannya tentu akan menjadi ancaman bisnis kita. Lebih baik kita segera bersiap-siap dan melakukan antisipasi sebaik mungkin. Sedia payung sebelum hujan begitu kata pepatah.
Apa yang harus kita persiapkan? Bagaimana perusahaan kita menghadapi semua ini? Ada tiga fungsi manajemen yang perlu mendapat penekanan bagi pelaku usaha dalam kondisi saat ini. Hal itu adalah manajemen keuangan, pemasaran dan operasional.
Melihat kondisi ekonomi yang masih menunggu dan cenderung melambat, perhatian terhadap pengelolaan keuangan dan portofolionya perlu serius diperhatikan. Menjaga likuiditas perusahaan serta menjaga profitabilistas adalah tujuan utama manajemen keuangan perusahaan yang harus dicapai secara optimal.  Likuditas yang baik menjamin masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang harus dipenuhi. Aspek profitabilitas berkaitan dengan kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Ketidak mampuan menjaga likuiditas dan profitabilitas usaha dalam jangka panjang akan memberi kinerja yang buruk bagi perusahaan.
Pelaku usaha perlu berhati-hati dalam pengambilan keputusan investasi  dan tidak melakukan investasi dalam bentuk diversifikasi usaha yang sifatnya masih coba-coba dan kurang ditinjau dengan feasibility study yang akurat. Perusahaan tidak perlu tergiur dengan fasilitas kredit yang terus menerus ditawarkan oleh bank. Pelaku usaha perlu  melakukan take over kredit usaha untuk mencapai biaya bunga usaha yang lebih rendah dan fasilitas kredit yang lebih fleksibel. Adanya sumber-sumber pendanaan alternative yang fleksibel perlu segera dipertimbangkan.
Dalam perspektif manajemen pemasaran, harga produksi naik namun harga harus tetap kompetitif menjadi pemikiran utama bagi pelaku usaha saat ini.  Modifikasi produk tanpa menghilangkan atribut produk yang telah kita miliki seperti modifikasi kemasan yang rendah biaya produksinya dapat menjadi solusi. Strategi diferensiasi dengan membuat produk kita unik di mata konsumen, dan memiliki perbedaan dengan pesaing harus tetap kita lakukan dengan tetap berfokus produksi biaya murah. Lini produk kita  yang selama ini begitu banyak, harusnya dievaluasi kembali untuk menghadirkan varian produk yang betul-betul memberi keuntungan.
Strategi produk yang kita terapkan haruslah mendukung kebijakan efisensi operasional perusahaan. Naiknya biaya-biaya dari faktor produksi lainnya seperti biaya tenaga kerja dengan naiknya UMR (Upah Minimum Regional) harga BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang berasal dari kebijakan pemerintah mau tidak mau kita hadapi sebagai kenaikan biaya produksi yang akan mengancam pasar potensial kita bila harga produk/jasa kita naik.
Dalam bidang manajemen operasional isu utama adalah naiknya biaya produksi akan menaikkan pula anggaran produksi perusahaan. Pengusaha hendaknya mencari cara agar efisiensi perusahaan tetap terjaga. Faktor tenaga kerja merupakan salah satu biaya terbesar, perlu dipertimbangkan kembali untuk merekrut karyawan baru, atau dianggap perlu melakukan lay-off  karyawaan untuk mencapai efisiensi jangka panjang. Intinya tidak perlu ragu melakukan efisiensi perusahaan baik berbentuk penghematan biaya tenaga kerja,  anggaran pemasaran, biaya overhead, dan biaya-biaya lainnya yang dianggap bisa ditiadakan untuk penghematan perusahaan (penurunan biaya produksi).
Kebijakan perusahaan agar selalu efisien dengan memangkas biaya-biaya operasional, melakukan diferensiasi produk,  memperhatikan kembali sikap konsumen terhadap produk/jasa yang  ditawarkan karena perubahaan daya beli, serta menjaga kesehatan keuangan perusahaan merupakan faktor penting dalam menghadapi kelesuan ekonomi saat ini.


Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis UNHAS.

massepe@gmail.com

Sabtu, Mei 09, 2015

Kuliner Tradisional : Apa Masih Menjadi Identitas Masyarakat Atau Sudah Mengalami Pergeseran Makna


by Indra Ketaren

PENDAHULUAN :
Kuliner etnik atau kuliner rakyat atau kuliner tradisional, merupakan salah satu hasil dari aktifitas kebudayaan dari suatu masyarakat. Sehingga antara kuliner dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Mereka menyatu dalam satu struktur kebudayaan yang secara sadar digerakkan oleh masyarakat tersebut.

Dengan menyesuaikan kondisi geografik masyarakat menyusun dan mengolah masakan dengan kebiasaan yang mereka ciptakan sendiri. Struktur kebudayaan yang telah bergerak mengandung satu manifestasi / ide / gagasan kebudayaan yang wajib untuk ditafsirkan. Dengan kata lain, mengandung satu makna filosofis bagi masyarakat setempat. Pemasukan gagasan kebudayaan tersebut ditujukan untuk memberikan nilai yang kemudian akan diturunkan ke generasi berikutnya.

Dalam kuliner etnik, biasanya makna filosofis yang terkandung didalamnya dapat ditandai dengan penggunaan bahan masakan. Artinya setiap bahan dasar masakan memiliki fungsi maknanya sendiri, bukan hanya sekadar hasil akhir yakni “dimakan” melainkan kuliner tersebut membawai satu makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat setempat.

Hal ini dikarenakan masakan merupakan agen vital bagi pertumbuhan tubuh. Lebih dari itu, masakan berasal dari alam dan akan semuanya itu dikembalikan lagi ke alam. Dengan kata lain alam dan tubuh berada dalam satu lingkaran siklus, yang mana siklus ini akan selalu berputar ketika pewarisan ide/gagasan masih berjalan dengan baik.

Penggunaan masakan sebagai representasi filosofis masyarakat bukan tanpa sebab,  sejak zaman dulu manusia telah mengenal kebiasaan untuk mempersembahkan sesaji. Seperti yang terjadi di zaman pagan (agama penyembah alam) dimana dalam masyarakat pagan mereka menggunakan daging binatang buruan sebagai sesaji. Dan daging tersebut dibakar karena pada saat itu kebiasaan memasak dengan cara digoreng belum dikenal oleh masyarakat tersebut.

Hal yang terjadi menyatakan, suatu kebudayaan akan menciptakan cara tersendiri untuk merepresentasikan makna filosofis yang dipercayai oleh tiap pelaku kebudayaan dalam bentuk kuliner. Makanan rakyat atau kuliner tradisional mengandung satu manifestasi kreatifitas kebudayaan yang berlangsung di dalam satu masyarakat setempat, dimana manifestasi ini berupa nilai yang kemudian akan diturunkan pada generasi berikutnya.

MAKANAN:
Proses kehidupan manusia baik sejak dalam kandungan hingga akhir hayatnya, tak dapat melepaskan dirinya dari makan dan minum. Karena sangat pentingnya makanan bagi sebuah suku bangsa, maka terdapat keyakinan tertentu bahwa sumber makanan secara simbolik disamakan  dengan dewa-dewi suci.

Budaya Jawa memandang tanaman pangan dan tanaman obat sebagai bagian dari kearifan lokal yang berbasis pada sistem kepercayaan. Sebagai contoh, masih adanya keyakinan Dewi Sri merupakan simbol kesuburan dan kesejahteraan boga. Sedangkan masyarakat pesisisir di Jawa Timur menjauhi ikan tertentu karena diyakini sebagai hewan jelmaan dari Dewa yang telah menyelamatkan para nelayan di laut lepas. Meskipun adat budaya Jawa mengalami perubahan sosial yang sangat luar biasa, namun tradisi atas boga dan husada sampai sekarang masih melekat pada masyarakat setempat.

Dalam adat Jawa, hal yang berkaitan dengan bahan makanan dan pengobatan tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan dan sistem sosial budaya. Seperti juga masyarakat Bali, melalui konsep budaya Tri Hita Karana, memandang tanaman merupakan suatu yang bermakna religius yang mewakili kearifan lokal adat masyarakat setempat. Banyak lontar suku Bali menuliskan berbagai khasiat dan manfaat tanaman untuk upacara keagamaan, obat dan makanan yang semuanya bernilai religi dan punya pesan moral untuk pengolahan maupun pengadaannya.

Dalam kehidupan modern, ada hal-hal yang secara tradisi belum tentu usang atau kuno, bahkan yang telah mengalami perubahan makna menjadi lebih eksotis, yaitu ciri khas yang bernilai ekonomi, sosial, dan budaya. Akibat dari transformasi budaya, banyak kalangan merindukan masa lalu untuk hadir kembali ke masa kini dalam balutan modern. Secara global terdapat pergeseran nilai untuk kembali kepada alam (back to nature); seperti dalam upaya mempopulerkan kembali minuman air putih , pemanfaatan tanam-tanaman obat secara alamiah untuk penyembuhan penyakit, kosmetika dan stamina kesehatan.

Hal ini lumrah terjadi karena dalam perspektif pos-modern, konsep-konsep “the past in the present” merupakan fenomena budaya yang berimplikasi pada peningkatan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Kesemua itu pada akhirnya bermuara pada konsep penguatan identitas budaya sebagai bagian dari sistem ketahanan sosial budaya masyarakat setempat yang dalam aplikasinya memberi nilai positif terhadap kehidupan ekonomi mereka. Sebagai contoh seperti tumbuhnya rumah makan yang menyajikan menu tradisional dan kuliner maupun obat-obatan yang mampu memperkuat identitas budaya yang dapat dijadikan kekuatan ekonomi dan ketahanan nasional.

KULINER RAKYAT :
Secara sederhana, identifikasi kuliner dapat di-klasifikasi berupa makanan, minuman, dan makanan ringan atau jajanan. Sedangkan klasifikasi makanan dapat dibedakan antara makanan harian dan makanan adat tradisi yang berkaitan dengan peringatan daur hidup dan makanan untuk sesaji upacara ritual. Klasifikasi minuman terdiri dari minuman ringan dalam kegiatan sehari-hari maupun untuk upacara adat dan resepsi. Terdapat pula minuman jamu untuk terapi kesehatan yang dikonsumsi sebagai minuman segar. Klasifikasi tersebut merupakan identifikasi atas bahan, manfaat dan nilai, karena kuliner merupakan bagian dari kehidupan manusia, kebudayaan dan lingkungannya.

Dalam perspektif budaya, kuliner menggambarkan sebuah identitas lokal yang mencirikan lingkungan dan kebiasaan. Kuliner juga menggambarkan representasi, regulasi, konsumsi dan produksi dari kebudayaan yang berkembang di suatu masyarakat. Pola makan dan jenis makanan masyarakat dapat menggambarkan perilaku gaya hidup seperti kesehatan, lingkungan dan sistem-sistem sosial masyarakat pendukungnya.

Kuliner adalah proses hasil suatu sikap dan produk perilaku sosial dari suatu masyarakat dengan berbagai macam makna-nya maupun dapat menunjukkan latar belakang sosial, ekonomi dan penggolongan masyarakat bersangkutan. Oleh sebab itu dalam tata boga suatu masyarakat, kuliner ada kalanya dikelola dengan regulasi adat yang berisi anjuran, pantangan dan etika tata-cara pemanfaatannya.

Berdasarkan pemahaman di atas, secara umum dapat dikatakan bahwa kuliner tradisional merupakan spiritulitas non-verbal folklore dari identitas sosial budaya suatu masyarakat setempat. Disini yang dimaksud dengan folklore adalah suatu keyakinan tradisional, adat istiadat, dan cerita / dongeng dari masyarakat, melewati garis kehidupan generasi ke generasi dari mulut ke mulut.

Kuliner tradisional dipahami sebagai gambaran kompleksitas antara pola hidup masyarakat yang mampu menghadirkan identitas kolektivitas dan representasi sosial budaya berbasis tata boga. Baik itu dalam mengkonsepkan makanan, fungsi sosial makanan, cara memperoleh makanan, cara mengolah makanan dan cara menyajikan makanan. Dengan demikian ada keterkaitan antara identitas sosial dengan representasi budaya, pola konsumsi dan produksi makanan yang melatar belakangi aturan dalam menyepakati produk budaya berupa kuliner tradisional.

Sebagai non-verbal folklore, makanan tradisional menyimpan informasi mengenai pola hidup masyarakat berdasarkan bahan-bahan makanan dan cara pengolahan makanan. Memahami karakter makanan rakyat (kuliner tradisional) dapat berimplikasi terhadap aspek sosial, ekonomi dan kesehatan. Oleh sebab dapat dikatakan ada kaitan erat antara kebiasaan tata-kelola kuliner tradisional dengan tata-kelola taraf hidup sosial budaya masyarakat, karena pola makan punya hubungan dengan ketersediaan sumber pangan berbasis kekuatan dan produktivitas ekonomi.

Selain itu, ke-aneka-ragaman olah makanan rakyat melalui tradisi kuliner masyarakat menunjukkan pola-pola kesamaan hidup dalam interaksi sosial, sehingga secara "local indigenous" (adat penduduk asli lokal setempat) menggambarkan kearifan lokal pangan yang menginformasikan keadaan taraf atau tingkat tata kehidupan sehat, sosial, religi, dan inisiatif-inisiatif lokal.

Hal yang paling penting dalam menentukan apakah sumber-daya alam, sosial, lingkungan dan budaya memberikan sumbangan yang berkesinambungan pada masyarakat adalah dengan mengetahui informasi bagaimana masyarakat memiliki ases sumber-daya hayati, menjadikannya sebagi identitas, mengembangkannya sebagai fungsi-fungsi sosial yang positif dan mengkreasikannya dalam tata makanan rakyat (kuliner tradisional) sebagai representasi kekuatan sosial. Berdasarkan inventarisasi makanan, bahan makanan, pengolahan dan penyajiannya dapat diketahui representasi sosial dan taraf pola hidup sehat berdasarkan pemanfaatan sumber-sumber hayati.

Seperti halnya kajian terhadap bumbu-bumbu makanan dapat menginformasikan kepada kita mengenai tingkat pangan dan gizi keluarga yang berbasis herbarial medicine. Oleh karena itu budaya kuliner tradisional dapat dijadikan indikator analisa terhadap identitas, representasi dan kebiasaan konsumsi masyarakat setempat. Selain itu, produksi dan regulasi makanan tradisional dipandang sebagai informasi sumber kekayaan budaya suatu budaya masyarakat setempat.

PERGESERAN MAKNA :
Seiring dengan perkembangan zaman, spiritulitas kuliner tradisional tidak lagi mendapatkan tempat bagi masyarakat Indonesia sehingga identitasnya mengalami pergeseran makna. Faktor globalisasi dan dampak pasar bebas yang menyebar dalam kehidupan kita selama ini menyebabkan beberapa perubahan yang secara sadar diubah oleh masyarakat itu sendiri.

Dalam penyebarannya, walaupun telah dicoba untuk menyesuaikan dengan kebudayaan lokal setempat, yang kemudian mendapatkan persetujuan dari masyarakat, adalah hanya berupa pengakuan bahwa kuliner tradisional itu masih ada (exist). Yang terjadi sekarang, kuliner etnik atau kuliner rakyat atau kuliner tradisional telah mengalami pergeseran makna. Yang awal mulanya digunakan sebagai pengingat untuk menjaga keseimbangan alam, kini kehadirannya semata hanya sebagai bukti fisik sejarah tanpa makna nilai filosofis, ritual dan pesan folklore dari para leluhur.

Pembaharuan ide / gagasan yang mendiami satu kuliner etnik merupakan hal yang memang semestinya terjadi. Zaman semakin berubah dan hal-hal yang baru akan selalu ada, sehingga kuliner rakyat mampu bertahan seiring dengan zaman dan seyogyanya harus ada bagian-bagian tertentu yang diubah. Misalkan dengan pergeseran maknanya. Meskipun hal ini tidak dilakukan dengan sengaja, namun benturan antara manifestasi kebudayaan lama dengan kebudayaan baru akan selalu menghasilkan satu perpaduan, yang jika dicermati masih mengandung ide –ide lama dan ada bagian sendiri bagi ide-ide baru.

KATA PENUTUP :
Kuliner tradisional merupakan salah satu kekayaan budaya yang sepatutnya harus digali kembali popularitasnya. Sebagai salah satu aset budaya, upaya itu dapat dilakukan melalui revitalisasi dan proses transformasi melalui konsep invented tradition yang bernilai ekonomis dan daya jual promotif untuk pariwisata dan budaya. Upaya ini perlu dilakukan untuk mengimbangi serbuan kuliner asing dan model franchise kuliner akibat dampak pasar bebas dan globalisasi. Kuliner tradisional di Indonesia semakin tidak popular dan kalah dengan Thailand, Jepang dan China. Kuliner sebagai bagian dari folklore, sudah semestinya diusahakan untuk dipopulerkan kembali, baik oleh Pemerintah, pelaku usaha maupun masyarakat secara luas.

Apabila ada anggapan bahwa kurang populernya kuliner tradisional Indonesia disebabkan terlalu banyak varian dan cara masak yang terlalu lama, sudah tentu bukan suatu penilaian yang benar sama sekali. Ada keterkaitan antara sumber perolehan bahan makanan, kebudayaan, tradisi dan tata kebiasaan masyarakat. Oleh sebab itu makanan tradisional bagi masyarakat pemilik kebudayaan merupakan sumber pangan, obat-obatan dan sekaligus sebagai sarana pelaksanaan adat, tradisi dan sistem kepercayaan. Kuliner juga dapat dipandang sebagai modal ekonomi, karena dengan basis pariwisata dapat meningkatkan devisa negara sebagaimana telah berhasil diterapan di Thailand.

Untuk tujuan pemberdayaan, perlindungan dan kelestarian lingkungan, dengan melihat keanekaragaman kuliner tradisional rakyat, dapat dibuat rencana yang berkaitan dengan penguatan dan pemberdayaan ekonomi, sosial dan budaya rakyat. Informasi mengenai makanan rakyat dan tata-kelolanya perlu didukung oleh etnobotani, etnologi dan etnonomics sebagai bagian dari ilmu yang mencoba memahami masyarakat secara partisipatif dan seluruh kearifan lokal yang ada. Oleh sebab itu, kuliner tradisional bukan saja sebagai ilmu tata boga tradisional melainkan dapat juga menjadi ruang pengetahuan dan kearifan lokal.

Sumber referensi artikel:
George, Susan. (terj. Sandria Komalasari). 2007. Pangan dari Penindasan dampai ke Ketahanan Pangan. Yogyakarta: Insist.
J. Daeng , Hans. 2000. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan Tinjauan Antropologis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Wahono, Francis, dkk. 2004. Pangan Kearifan Lokal dan Keanekaragaman Hayati. Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas.

Jumat, Mei 08, 2015

BANCAKAN - KEARIFAN LOKAL WONG JAWA YANG SERINGKALI DISALAH ARTIKAN

Klub Magosi
oleh Indra Ketaren


Masyarakat Jawa dikenal memiliki kepercayaan terhadap kekuatan magis dan pemujaan terhadap ruh-ruh leluhur dalam kehidupan mereka. Hal ini berlangsung sebelum datangnya beberapa agama bahkan bagi yang sudah memeluk agama tertentu. Pemahaman akan adanya energi / kekuatan magis (ghaib) dan adanya kehidupan setelah kematian menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Jawa mempunyai dasar-dasar nilai spiritualitas dalam kehidupannya. Disamping itu, masyarakat Jawa dikenal juga pada dasarnya merupakan Homo Simbolis yang suka menjelaskan sesuatu melalui penggambaran dalam bentuk simbol  ataupun pralambang.

Pertemuan antara nilai-nilai spiritualitas dan simbol/pralambang inilah yang membentuk budaya jawa menjadi budaya yang sangat luhur dan mempunyai makna filosofi yang tinggi. Hal inilah yang dimaksud dengan "wohing budi lan daya". Jadi untuk memahaminya perlu menggunakan rasa (rah sa) dan budi agar kita bisa menggali makna-maknanya. 

Tentu ini tidak mudah, diperlukan latihan olah rasa dan kedewasaan spiritual, sehingga mampu mengungkap tabir yang ada. Namun hal ini akan dimaknai berbeda, ketika hasil budaya tersebut dipahami seperti apa yang dilihat tanpa dikaji dan digali maknanya. Maka tidak heran jika sebagian orang menilai jika budaya jawa itu lekat dengan hal-hal yang berbau mistis, irrasional dan klenik.

Pada kesempatan ini akan dicoba memaparkan salah satu contoh kearifan lokal itu dengan mengangkat kuliner wong Jawa yang ada. Kuliner ini sering disalah-artikan sebagai hal yang sifatnya mistis / klenik oleh beberapa orang yang antipati terhadap budaya maupun bagi orang-orang Jawa itu sendiri. Contoh kearifan lokal kuliner masyarakat Jawa itu adalah acara Bancakan.

Bancakan atau dikenal dengan slametan biasanya diwujudkan dalam bentuk  nasi tumpeng yang berbentuk kerucut. Biasanya nasi gurih (nasi uduk) dengan aneka lauk, atau dikenal juga dengan istilah kembul bujana. Bancakan / slametan biasanya dilakukan setelah terwujudnya suatu keinginan yang diinginkan, yang bermaksud untuk mensyukuri atas karunia yang telah diterima.

Bancakan / slametan dipandang sebagai suatu hal yang klenik, dikarenakan dianggap sebagai sajen / sesaji kepada danyang atau terhadap suatu kekuatan lainnya selain Allah. Padahal dalam bancakan sendiri sebetulnya terdapat beberapa makna sebagai berikut:

a. Mensyukuri atas nikmat / karunia dari Allah, atas terwujudnya suatu hajat / keinginan sehingga diwujudkan dalam bentuk shodaqoh (sedekah), dengan mengeluarkan sebagian rejekinya untuk berbagi terhadap sesama.
b. Nasi uduk, berasal dari kata wudhu yang berarti suci / bersih. Dikarenakan berasal dari nasi gurih, dilambangkan sebagai makanan yang harum. Diharapkan orang yang selalu makan makanan yang harum dan bersih, darah dagingnya akan memancarkan bau harum dengan sendirinya.
c. Tumpeng buceng, bentuk kerucut,  tumpeng dalam istilah Jawa dikenal dengan buceng. Mbujung =  buceng = mengejar untuk mencapai tingkatan yang paling tinggi di dalam hidup yaitu tingkat kehidupan ke-illahian, dengan berbekal segala potensi hidup (potensi alami) yang dilambangkan dengan uborampe makan yang berupa tumbuh-tumbuhan dikenal dengan gudangan.

Tentu masih banyak lagi kearifan lokal wong Jawa yang belum diungkap. Contoh diatas hanyalah sebagian kecil dari kearifan lokal wong Jawa yang sering disalah artikan, sehingga menimbulkan kesan klenik / mistis dan irrasional. Bancakan merupakan salah satu rujukan bagi budaya yang dihasilkan oleh para leluhur negeri ini dimana nilai-nilai prosesi yang dihasilkannya penuh makna (intangible heritage).

Penjelasan di atas  bertujuan agar tidak terjadi salah pemahaman dalam memaknai kegiatan budaya serta menepis anggapan warisan peninggalan para leluhur itu merupakan hal yang tidak bermakna dan cenderung menyimpang dari agama maupun logika manusia. 

Salam Gastronomi

Rabu, Maret 04, 2015

Patung sang Kakek, Andi Abdullah Bau Massepe,

Gubernur Resmikan Monumen Andi Abdullah Bau MassepeRabu,

4 Maret 2015 17:32 WIB Nurhaya Gubernur Resmikan Monumen Andi Abdullah Bau Massepe Monumen Patung Pahlawan Nasional Letnan Jenderal TRI Andi Abdullah Bau Massepe (FOTO/Dok)
"Andi Abdullah Bau Massepe adalah putra terbaik yang dimiliki Sulawesi Selatan yang berjuang di kota ini.


Makassar (ANTARA Sulsel) - Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo meresmikan Monumen Patung Pahlawan Nasional Letnan Jenderal TRI Andi Abdullah Bau Massepe pada rangkaian HUT ke 55 Kota Pare-pare, di Pare-pare, Rabu. "Andi Abdullah Bau Massepe adalah putra terbaik yang dimiliki Sulawesi Selatan yang berjuang di kota ini, Beliau telah mengorbankan jiwa raga, darah dan air mata, serta keluarga demi mewujudkan kemerdekaan bangsa ini, dan hasilnya kita nikmati sekarang," kata gubernur dalam sambutannya di hadapan para tamu undangan yang terdiri dari Muspida, tokoh masyarakat, ormas dan rumpun keluarga besar Andi Abdullah Bau Massepe, yang berjumlah sekitar 300 tamu undangan. Sementara, mewakili pihak keluarga besar Andi Abdullah Bau Massepe, H.A.Pamadengrukka Mappanyompa mengharapkan bahwa adanya patung monumen pahlawan nasional ini bisa menjadi pemahaman sejarah perjuangan bagi generasi muda serta pembelajaranagar kaum muda memiliki semangat juang yang sama seperti para pejuang terdahulu dalam memajukan pembangunan daerah ini kedepannya. "Andi Abdullah Bau Massepe bukanlah milik keluarga besar saja, bukan milik warga kota Parepare, dan juga Sulawesi Selatan saja namun miliki bangsa dan negara Republik Indonesia," ujar Pamadengrukka yang juga mantan Bupati Barru tersebut. Patung Pahlawan Nasional Mahaputra Adipradana Letjen TRI Andi Abdullah Bau Massepe ini, berdiri tegak dan gagah di jantung Kota Pare-pare, tepatnya Jl.Bau Massepe, Kecamatan Bacukiki Barat. Ide pembangunan patung pahlawan nasional A. Abdullah Bau Massepe ini sudah sejak lama diinisiasi oleh Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Pare-pare dan didukung penuh oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LVRI Provinsi Sulsel dan Sulawesi Barat (Sulbar) yakni Almarhum Brigjen TNI (Purn) H.A.Oddang Makka. Pada tahun 2005 bulan November bertepatan dengan hari pahlawan nasional dan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional oleh presiden RI kala itu Susilo Bambang Yudhoyono, beberapa tokoh masyarakat dan pengurus LVRI Kota Pare-pare dan Provinsi Sulselbar mengusulkan kepada pemerintah Walikota Pare-Pare pada masa itu H.Zain Katoe untuk mendirikan monumen patung pahlawan nasional Andi Abdullah Bau Massepe. Para inisiator ini melakukannya dengan tujuan agar generasi muda tidak melupakan sejarah perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang khususnya perjuangan mereka di Sulawesi Selatan. Monumen Patung ini dibuat oleh seniman patung nasional dari Yogkarta kelahiran Makassar, yakni Dicky Tjandra yang. Hadirnya monumen ini diharapkan menjadi ikon baru Kota Pare-pare dengan maksud untuk melestarikan nilai-nilai kejuangan yang telah dirintis oleh para pejuang terdahulu bangsa ini dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Dalam peresmian monumen ini, nampak hadir pada acara tersebut adalah Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, H.M.Roem, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM A.M.Yamin, Ketua DPD LVRI Sulselbar H.Bactiar, Danrem, dan Kapolsek serta jajaran Muspida Kota Pare-pare. Selaku tuan rumah sendiri adalah Wali Kota Pare-pare Taufan Pawe, SH dan Wakil Wali Kota Pare-pare Ir.Faisal A.Sapada,MM. Agus Setiawan Editor: Daniel COPYRIGHT © 2015

Minggu, Januari 11, 2015

Mengajak UMKM menerapan strategi pemasaran berbasis digital

Mengajak UMKM menerapan strategi pemasaran berbasis digital



Berawal dari keprihatinan saya bahwa masih sedikit pelaku UMKM di Sulawesi Selatan dalam menggunakan internet dalam aktifitas pemasaran mereka. Tercetuslah niat saya mengadakan seminar tentang bagaiaman pelau UMKM dapat memanfaatkan internet khususnya social media dalam aktifitas pemasarannya.  Biar lebih sedikit kesannyha serius saya beri nama UMKM Marketing dan Innovation Centre. Mudah-mudahan kelak akan menjadi lembaga yang profesional dengan visi menjadikan pelaku UMKM aware dalam penggunaan social media sebagai salah satu strategi pemasarannya.
Terbiasa sebagai seorang aktifis semasa kuliah di jogja. Terutama di STIE YKPN dan MMUGM saya pun melakukan take action, sehingga terselenggaralah seminar dengan tema Strategi pemasaran UMKM berbasis Internet (social media dan PR aprroach). Pada tanggal 10 Januari 2015, bertempat di Aula Polinas LP3I di Makasasr.
Pesertanya lumayan ada sekitar 100 peserta terdiri dari pelaku UMKM dan beberapa mahasiswa ku padahal saya hanya butuh kurtang lebih 10 hari persiapan mulai ide itu dikembangkan sampai dilaksanakan.
Saya pun di support oleh kepala dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Selatan, Bapak A.M.Yamin. Dimana dua hari sebelum acara pelaksanaan saya audiensi dengan Beliau. Salah satu bentuk dukungan adalah mengirimkan peserta UMKM binaanya untuk ikut semiinar tersebut.

bersama Kepala Dinas Koperasi dan
UMKM Prov Sulsel
Salah satu yang menjadi poin penting dari seminar ini saya menghadirkan pelaku yang berkecimpung didunia social media. Mansur Rahim, seorang penggiat social media dan blogger. Saya meminta untuk berbicara tentang social media khususnya twiteer dan facebook dijadikan senjata ampuh untuk aktifitas pemasaran.
Nah biar tambah keren lagi, saya minta saudara Tedi Hendratno, seorang anak muda yang aktifitas sehariannya adalah Even Organizer dan Public Relation Agency. Ilmu yang diajarkannya adalah bagiamana aktifitas Public Relation itu diterapkan bagi UMKM dengan pemanfaat Social Media.

Bagi pelaku UMKM sebenarnya dua hal tersebut adalah tidak memerlukan banyak biaya. Pemanfaatan social media dan PR adalah aktifitas yang sekarang digunakan perusahan besar dalam promosi produk dan peningkatan strategy Brand, yang istilah orang pemasarn “low cost Hight Impact”.

Salah satu strategi pemasaran adalah pelaku UMKM dapat membuat akun twiter sebagai chanel promosi dan distribusi produknya. Selain itu dengan twiteer juga dapat dimanfaatkan UMKM untuk mengelola relatiionship dengan costumer, dan sarana komunikasi interaktif dengan pasar. Hal itu sangat efektif karena tidak perlu mengeluarkan budget khusus dan besar.

Saya juga ingin berbagi, bila tertarik dengan materi yang saya bawakan dapat menguduhnya disini. Saya menggunakan slide share.

Saya berharap kedepan, banyak pelaku UMKM yang menggunakan social media untuk aktifitas pemasarannya. Saya juga lagi mengembangak riset tentang seberapa besar pelaku UMKM khususnya di Sulawesi Selatan memanfaatkan social media untuk aktifitas pemasarannya. Dan Apakah ini memebri konstribusi yang positif terhadap penjualan (Sales), Brand Awarness, dan loyalitas sotumer mereka.

Sekian dulu. 

Salam marketing.