KOMPAS.com

Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, Juli 13, 2008

Best Life ala mistikus korporasi Indonesia


Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis resensi dari buku ini. Buku refleksi kehidupan kaum top executive kalo bisa saya memberi label kedua buku ini. Buku yang berjudul The secret of better life dan Best Life yang ditulis oleh Ir. Stefanus Indrayana, MBA dan Ir.Goenardjoadi Goenawan, MM.


Selintas mengeni kedua penulis, Stefanus Indrayana saat ini adalah Direktur Pemasaran PT Samsung Electronic Indonesia (SEIN) yang bertanggung jawab atas strategi pemasaran produk-produk Consumer Electronic dan Information Technology dan Corporate Markeitng Samsung di Indonesia. Pengalaman bekerja dibidang pemasaran diawali ditahun 1987 sebagai marketing manajer Consumer Goods pada Tempo Group, kemudian beralih di ke Toshiba kemudian di Philips dengan posisi General Manager.


Sedangkan Rekannya yang bersama menulis buku Ir.Goenarjoadi Goenawan, MM. adalah pelaku bisnis Franchisor rekaman Talent Box yang sudah tersebar dikota-kota besar di Indonesia. Pengalaman marketingnya pun sudah teruji pernah bekerja diperusahaan multinasional dan lokal. Perusahaan tersebut adalah Colgate Palmolive, Gillette Asia Pasific, Wings Group, Tjiwi Kimia, dan jabatan terakhir sebagai Business Development Manager Consumer Product pada Hewlett Packard Indonesia.


Saya berkenalan dengan pak Stefanus Indrayan sewaktu menggelar seminar di Makassar berjudul Marketing Outlook, Geeting out of price war yang diselenggarkan oleh Indonesian Marketing Association (IMA) chapter Sulsel, bersama Yuswohady dari Markplus pada tangal 8 Februari 2008 lalu di Hotel Horizon Makassar.


Sewaktu perjalan mengantar beliau pulang ke bandara Hasanuddin, tercipta percakapan ringan yang saya merasa banyak mutiara kehidupan yang berguna bagi saya dari beliau. Sebagai seorang yang berkecimpung dibidang pemasaran, dan pengalaman memimpin korporasi menulis buku tentu butuh suatu energi tersendiri, disamping kesibukannya sehari-hari dikantor.


Stefanus dan sobatnya Goenardjoadi membuat buku yang berjudul The Secret of better life dan Best Life (Elex MediaKomputindo, 2007) sebenarnya memiliki tujuan adalah mengajak para kaum professional dan eksekutif yang sehari-hari sibuk bergelut dengan pekerjaannya dikantor untuk sejenak melakukan refleksi dengan pertanyaan-pertayaan Apakah hidup kita ini telah menemukan makna dan bahagia? Mengajak kita berpikir kembali, Apa misi kita hidup didunia? Untuk apa kita diciptakan dan dilahirkan di buim ini? Apa yang telah kita kerjakan selama ini bagi kemasyahlatan orang banyak. Apakah kita sudah berada dijalan yang benar?


Pertanyaan-pertanyaan sepele, bahwa kalau bisa saya bilang sudah sering kita dengar dan baca, tapi apakah kita betul-betul memahami?

Nah buku-buku ini dapat juga dijadikan buku exercise, Mengapa? Cobalah ambil waktu satu-dia jam dihari libur Anda. Cari tempat yang nyaman dan tenang, matikan handpone dan jauhi segala macam benda-benda yang berkaitan dengan tugas-tugas harian Anda. Kemudian baca buku best life dan the secret of better life, ikuti saja alur bukunya. Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di buku, dan simak kisah-kisah dalam buku (story box). Semuanya akan membawa kita kedalam refleksi pribadi masing-masing.


Buku-buku refleksi ini lahir sebagai suatu hasrat untuk berbagi kisah. Pengalaman bekerja puluhan tahun diperusahaan multinasional khususnya perusahaan Korea seperti Samsung. Berbagi nila-nilai kehidupan yang universal, lintas agama, dan yang paling penting adalah jujur akan kehidupan yang kita jalani dalam menemukan kebahagian jiwa.


Dalam buku The secret of better life diuraikan bagaimana seseorang untuk mengenal jiwa yang bahagia, itu dimulai dengan;1)pengenalan jiwa dengan memenuhi kebutuhan didengar, 2) mendapatkan jiwa dengan mengalahkan ego yaitu terbebas dari ambisi, 3) memberi makan jiwa dengan menolong/memberi atau berbuta kebaikan, 4) mengembangkan kebijaksanaan dengan mengerti kebenaran. 5) menguatkan identities sosok jiwa kita dengan mencari jati diri, 7) mencapai kesempurnaan jiwa dengan mencapai kemuliaan.


Kita kadang kurang sadar, bahwa selama ini hidup kita, rutinitas kita malah membuat kita tidak enjoy dalam hidup. Banyak hal yang kadang kita lupakan dalam hidup. Kita lupa mendengar kata hati kita, dan juga jarang mendengar kata hati pasangan hidup kita, orang-orang yang kita cintai, anak kita, sanak saudara kita, rekan kerja kita.


Penulis mengajak kita untuk bertanya dan menggali lagi makna hidup. Teori Hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow menjadi landasan dari kedua buku ini. Kebutuhan Maslow paling dasar dimulai dari kebuthan fsiologi makan dan minum, selanjutnya kebutuhan akan rasa aman, rasa cinta dan dimiliki. Kemudian kebutuhan akan pengakuan dan kebutuhan terakhir adalah mencapai aktualisasi diri atau mencari jati diri. Begitulah kira-kira.

Kalau anda sering membaca buku-buku karya Emha Ainun Nadjib trus ada lagi buku refleksi Komaruddin Hidayat yang sifatnya mengarah nilai-nilai Islam, nah buku karya Stefanus Indrayan dan Goenarjoadi Gonawan boleh disebut buku refleksi dari kaum korporasi atau eksekutif dilevel korporat dengan nilai-nilai yang universal.

Saya jadi ingat buku The Corporate Mystic karya Gay Hendricks dan Kate Ludeman (2002) yang saya pernah tulis resensinya diblog saya juga. Dalam buku itu diceritakan bahwa penulis melakulan riset mewawancara kurang lebih 1000 orang eksekutif puncak pada perusahaan korporasi. Disimpulkan para pebisnis memiliki sifat sifat yang biasanya dimiliki oleh para mistikus. Mereka sangat menjaga etika dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual. Mereka melihat perusahaan sebagai perwujudan kolektif roh, mengandalkaan intiusinya dan tahu bagaimana cara menggunakan pada saat yang diperlukan. Mereka menghadirkan bukan hanya dompet melainkan juga hati dan jiwa mereka dalam bekerja yang disebut oleh penulis buku sebagai Mistikus Korporat.


Dalam buku-buku yang saya bicarakan tadi terdapat nilai-nilai seorang mistikus korporat. Dimana bekerja tidak hanya untuk hidup, tetapi bagaiman bekerja itu memiliki makna bagi orang lain dan orang-orang yang kita cinta. Buku-buku tersebut layak dibaca bagi para eksekutif perusahaan diwaktu senggang untuk menemukan value baru dan melakukan refleksi kehidupan.

Wassalam…

Andi M Nur Bau Massepe

Makassar

Membership of Director IMA Chapter Sulsel

Minggu, Februari 24, 2008

Bersama Thomas S Khun

Membicarakan filsafat ilmu atau philosophy of science atau filsafat sains tidak bisa lepas dari ketokohan pemikiran dari Thomas Samuel Kunt. Ilmuwan yang lahir tanggal 18 juli 1922 di Cincinnati, Ohio, United States.

Sebagai pemikir yang intens dalam kajian filsafat ilmu, pemikiran yang terkenal dari beliau adalah masalah philosophy of science dan history of sciences yang mana konsep dari pemikiran tersebut akan dibahas dibawah ini.

Masa hidupnya banyak diabdikan di kampus dimana dia mengajar yakni Hardvard Univeristy sekaligus menerima gelar PhD. Ditahun 1949 untuk kategori general education dan history of science. Di Harvard beliau mengajar dari tahun 1949 sampai 1956 untuk bidang sejarah ilmu pengetahuan setelah itu dia pindah ke Universitas California, Berkeley untuk bidang yang sama. Prestasi yang luar biasa di raihnya ditahun 1962 di Universitas California itu dia mendapat gelar Profesor setelah menerbitkan karya fenomenal dibidang filsafat sain dengan judul The Structure of Scientific Revolutions diterbitkan oleh University of Chicago press (1962).

Kunt dua kali menikah pertama ke Kathryn Muhs (mempunyai tiga anak-anak) dan kemudiannya untuk kedua kalinya dengan istri yang bernama ke Jehane Barton ( Jahane R. Kuhn). Beliau meninggal ditahun 1996 setelah didiagnosa mengidap peyakit kanker.

Kajian yang intensif mengenai masalah falsafat sains dapat ditelusuri dari abstraksi pengetahuan Beliau. Dalam pemikiran beliau, filsafat sains adalah bidang ilmu yang mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari sains, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat sains sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi.

Filsafat sains berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana sains dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

Secara ringkas dapat juga di simpulkan dalam pemahaman seorang Thomas Khun, ilmu dari waktu ke waktu mengalami revolusi dimulai dengan perubahan dalam paradigma yang digunakan.

Sains berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimana alam sebenarnya dan bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di alam. Untuk tujuan ini, sains menggunakan bukti dari eksperimen, deduksi logis serta pemikiran rasional untuk mengamati alam dan individual di dalam suatu masyarakat.

Dari pemikiran seorang Thomas S Kunt dapat disimpulkan bahwa ilmu senantiasa berubah (the changing of science). Ilmu berusaha mencari dan mengungkap kebenaran, tetapi pada waktu yang sama menyadaari keterbatasannya. Ilmu tidak dapat berpretensi (telah) menemukan kebenaran absolut. Ilmu senatiasa merupakan proses pencarian terhadap kebenaaran. Berangkat dari uraian di atas, maka tidaklah mengherankan bahwa garis depan ilmu selalu berubah-ubah dan bergeser. Kebenaran Kebernaran ilmiah tidaklah bersifat mutlak (absolut), berubah-ubah dan tidak abadi. Ia bersifat nisbi, sementara dan kira-kira. Namun kebanyakan ilmuwan mengakui adanya kebenaran mutlak yang merupakan otoritas dari Tuhan. Kebenaran mutlak merupakan kebenaran tunggal yang sering disebut sebagai kebenaran hakiki yang substanstif dan esensial, yang tampil dalam bentuk keteraturan alam semesta.

Kebenaran hasil olah pikir manusia bersifat relatif, namun dimungkinkan manusia dapat mejangkau lebih luas lagi samudra kebenaran yang dibentangkan melalui kekuasaan Allah baik yang tersurat dalam Al-kitab dan ciptaan-Nya yang tergelar di alam semesta maupun yang melalui kreasi potensi manusia, berupa akal, budi dan indera. Dimungkinkan manusia akan mampu meraih kebenaran yang lebih tinggi dalam wujud kebenaran transendental yang vertikal.

Referensi.
1)
situs wikipedia

a. http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Samuel_Kuhn

b. http://en.wikipedia.org/wiki/The_Structure_of_Scientific_Revolutions

c. http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_sains

2) Filsafat Ilmu, Tim Dosen Filsafat Ilmu Univeristas Gadjah Mada, Liberty Yogyakarta 2003. hal17-20 dan hal63.

Rabu, Oktober 17, 2007

minal aidin walfaidzin