Senin, Februari 05, 2018

family business bisnis keluarga



Mendiskusikan family business atau bisnis keluarga adalah suatu hal yang tidak ada habisnya dan tetap saja menarik. Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita bahas dulu perspektif family business dalam konteks pembahasan berikut ini.

Suatu perusahaan dikatakan bisnis keluarga bila sebuah perusahaan bisnis yang apabila mayoritas suara atau pengendalian berada dibawah pengendalian keluarga (pasangan, orang tua, anak atau masih kerabat sang pemilik),
Dalam arti luas yang lebih luas, sebuah perusahan public (Tbk) bila pendiri memiliki 25% hak atas perusahaan melalui penanaman modal atau memiliki satu orang atau lebih anggota keluarga dalam management board dalam perusahaan tersebut juga dikategorikan sebagai perusahaan keluarga.  

Ada hal kursial mengapa isu family business (bisnis keluarga) menjadi perhatian terutama bagi pemerintah karena fakta menunjukkan 95% bisnis di Indonesia merupakan bisnis keluarga. Hasil laporan riset dari PwC (Pricewaterhouse Coopers) ditahun 2014 mengungkapkan bahwa bisnis keluarga berkontribusi 25% PDB kita dengan total kekayaan Rp 134 trilyun. Selain itu PwC menyebutkan bahwa 40.000 orang yang kategori kaya datang dari golongan bisnis keluarga atau 0,2% dari total penduduk kita.

Tidak berlebihan kalau penulis mengatakan bahwa bisnis keluarga merupakan salah satu pilar kemajuan suatu perekonomian negara.

Ditingkatan regional misalnya di daerah Sulawesi Selatan, walaupun tidak berdasarkan suatu riset, penulis berpendapatan bisnis keluarga berperan terhadap pembukaan lapangan pekerjaan, dan kontribusi terhadap pajak daerah, serta ikut membantu pemerintah dalam memperluas basis ekonomi dan penyediaan jasa didaerah selama ini.

Kita mengenal perusahaan keluarga milik Haji Kalla, Aksa Mahmud (Bosowa Group), perusahaan keluarga milik Alwi Hamu (Fajar Group), Galesong Group, CV Rahmat dan masih banyak lagi bisnis keluarga yang berbasis di kota kita (Makassar-red). Keberadaan perusahaan tersebut telah memberi konstribusi yang tidak sedikit bagi pengembangan ekonomi serta sosial kemasyarakatan  bagi daerah kita. 

Bagaimana memberdayakan potensi yang di miliki oleh para pemilik bisnis keluarga di daerah ini agar tetap menjadi pilar pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan? 

Berkelanjutan dalam hal ini keberlangsungan proses bisnis dan usaha mereka, yang berdampak pada penyerapan lapangan tenaga kerja yang lebih banyak, sebagai agen-agen masuknya investasi asing, dan juga sebaliknya menjadi agen investasi dan ekspansi usaha ke pasar luar  negeri. Suatu hal yang perlu mendapat perhatian lebih mendalam.

Isu-isu atau permasalah umum yang sering kali juga mencuat dalam suatu bisnis keluarga adalah masalah perekrutan karyawan, pengembangan bisnis dan produk usaha, suksesi perusahaan kegenerasi selanjutnya, re-organisasi perusahaan, ketersediaan keuangan, teknologi dan inovasi serta pengendalian arus kas dan biaya. Semua aspek tersebut menjadi faktor internal yang dihadapi oleh pelaku bisnis keluarga saat ini.

Kembali mengutip laporan PwC 2014, bahwa untuk tantangan ekternal perusahaan keluarga harus menghadapi faktor-faktor seperti semakin ketatnya persaingan, apalagi dengan berlakunya MEA tentu perusahaan keluarga yang ada di daerah ini harus siap dengan masuknya pemain-pemain dari negara ASEAN. Selain itu kondisi pasar khususnya perekonomian secara global yang masih tidak pasti dan masih melemah, nilai tukar kurs, infrastruktur yang masih minim sehingga menimbulkan biaya tambahan, serta kebijakan pemerintah yang cenderung berubah-ubah merupakan kondisi yang harus dihadapi oleh mereka.

Melihat tantangan yang semakin komplek di masa depan mau tidak mau bisnis keluarga harus berkonsilidasi dalam mengelola manajemen bisnis keluarga lebih modern dan beradaptasi dengan pasar yang saat ini sangat dinamis dan penuh ketidak pastian.

Kunci dari keberlangsungan dari bisnis keluarga adalah keberhasilan mereka melakukan suksesi kepemimpinan bisnis dari generasi kegenerasi selanjutnya. Perusahaan keluarga dituntut untuk mencapai tujuan jangka perusahaan dengan pengelolaan lebih professional, menjadi semakin inovatif dalam hal manajemen dan produksi dan terpenting mereka mampu menarik tenaga kerja yang terampil dan berkualitas kedalam perusahaannya.