Sabtu, Desember 24, 2011

Mahasiswa yang berwirausaha

Pengangguran terdidik bukanlah sebuah fenomena yang baru di negara kita. Hal ini merupakan sebuah paradoks yang menyedihkan. Mengatasinya bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah. Kalau kita terus menunggu dan mengharapkan sistem menjadi sempurna tentu kita sudah ketinggalan kereta. Etos kemandirian harus kita kembangkan sedini mungkin. Salah satu semangat yang harus kita tanamkan adalah semangat enterpreneurship atau kewirausahaan.
Kritikan yang paling banyak ditujukan terhadap lembaga pendidikan kita karena tidak mampu mencetak sarjana-sarjana yang berkualitas untuk bersaing. Bila dibedah lebih lanjut, variabel-variabel lainnya seperti kurikulum yang begitu berbelit-belit dan terlalu dipaksakan, jauh dari kebutuhan dunia kerja, kualitas para dosen serta infrastruktur yang serba jauh ketinggalan bila dibandingkan di negara-negara tetangga.
Di sisi lainnya adalah pemerintah, yang tidak mampu mengatasi permasalahan pengangguran. Pemerintah tidak dapat menyediakan pekerjaan yang layak bagi masyarakat. Lihat saja angka pengangguran sampai saat ini makin meningkat, ditambah lagi dengan adanya krisis ekonomi tahun 1997 yang banyak menimbulkan PHK, otomatis para penganggur makin banyak. Sampai tahun 2000 lalu, data dari Depnaker menyebutkan bahwa pengangguran di Indonesia ada sekitar 36 juta orang. Pengangguran di sini didefenisikan bahwa orang yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu.
Lulusan strata-1 yang menjadi pengangguran sekitar 300 ribu orang (Kedaulatan Rakyat, November 2000). Tentu ini sebuah angka yang cukup besar bagi negara yang berpenduduk sekitar 200 juta jiwa ini. Tidak tersediannya lapangan kerja yang cukup bagi masyarakat malah menimbulkan masalah-masalah sosial. Lihatlah menjelang krisis ekonomi negra kita (pasca tumbangnya orde baru) tindakan kriminalitas meningkat, kerusuhan-kerusahan sosial terjadi di mana-mana yang salah satu variabel penyebabnya adalah tidak adanya pemerataan kesempatan kerja terutama antar desa dan kota, pusat dan daerah-daerah lainnya.
Memikirkan kemudian menyesali semua kebobrokan tersebut bagi kita, kaum mahasiswa bukan jalan yang terbaik. Hanya timbul sikap saling menyalahkan, dan hanya berjalan di tempat saja. Semuanya itu tidak bisa memperbaiki nasib kita. Sudah saatnya memikirkan diri kita sendiri, nasib kita tidak tergantung dengan segala sistem yang ada tetapi ada di tangan kita. Kalau terus menunggu dan mengharapkan sistem menjadi sempurna tentu kita sudah ketinggalan kereta. Etos kemandirian harus telah kita kembangkan sedini mungkin. Salah satu semangat yang harus kita tanamkan adalah semangat enterpreneurship atau kewirausahaan.
Mengenal Enterpreneurship
Bagaimana dan apakah semangat kewirausahaan itu? Sebelumnya kita harus mengerti dulu terminologi dari enterpreneurship itu sendiri. Menurut pakar kewirausahaan, John Kao, kewirausahaan adalah suatu upaya menciptakan nilai melalui pengenalan pasar, peluang bisnis, manajemen pengambilan resiko yang sesuai dengan peluang dan komunikasi yang terampil serta manajemen untuk memobilisasi sumber daya manusisa, keuangan dan material yang di perlukan agar suatu proyek sukses.
Perlu direnungkan bahwa wirausaha selalu mengacu pada sifat keberanian dan kehandalan mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan diri sendiri. Unsur penekanan untuk berdiri sendiri, selalu mencari peluang kemudian meresponnya dan menjadikannya sebagai peluang merupakan kunci utama. Peter Drucker (1986) mengemukakan hakekat wirausahawan adalah mereka yang selalu mencari perubahan, meresponnya, dan menjadikannya sebagai peluang.
Untuk menjadi wirausahawan perlu memiliki sikap-sikap pertama, inovatif, yakni selalu melihat kekurangan yang ada dan berupa menambahkan kekurangan tersebut sehingga lebih bernilai. Salah satu contoh seorang wirausahawan yang inovatif dimiliki negara ini adalah pendiri PT Aqua Golden Missisipi. Pak Tirta, yang memberi nilai tambah dari air minum untuk sehari-hari dikemas dalam suatu kemasan sehingga lebih memiliki nilai tambah.
Kedua, berani mengambil resiko. Resiko adalah sesuatu yang harus di hadapi dan takut adalah sesuatu yang harus disingkirkan. Kalau kita takut untuk memulai kita tidak akan bisa menuai hasilnya. Bob Sadino adalah contoh dalam hal berani mengambil resiko. Pemilik Kem Chick's pada saat mengawali karirnya tidak takut pada resiko, ia menjual telur ayam dari peternakannya padahal pengetahuan tentang ayam yang dia punyai nol. Lihatlah sekarang usahanya telah menjadi perusahaan besar di bidang industri pengadaan makanan dari daging segar, sampai sosis, telur, samapai rempah-rempah.
Ketiga adalah tanggap terhadap perubahan dan mencari peluang. Seorang wirausahawan bereaksi secara positif terhadap perubahan. Memandang perubahan sebagai potensial opportunity, sebagai inspirasi untuk tujuan dan sasaran barunya. Keempat adalah bekerja dengan cerdas. Melakukan kegiatannya tidak seperti pekerja kerah biru, mampu bekerja secara efisien dengan hasil yang maksimal.
Nah bagaimana tanggapan Anda sebagai mahasiswa saat ini? Apakah memiliki keberanian untuk terjun sebagai pengusaha bila kelak lulus nanti?


Andi Nur Bau Massepe, Yogyakrta 2001

* pernah dimuat di edisi di situs detik.com/kampusonline. (edisi Jumat, 27/04/2001)
* Penulis adalah wartawan freelance detik.com kanal kampus online dan juga Pemred Majalah Motivator, yogyakarta
* Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan manajemen STIE YKPN Yogykarta

Rabu, Maret 23, 2011

Berpikir Sederhana


Ada yang menyarankan agar saya membaca buku Who Moved My Cheese?, karya Dr. Spencer Johnson. Karena isinya sangat menarik dan relevan dalam menyikapi perubahan dewasa ini, dalam tempo singkat buku itu langsung saya lahap. Buku ini bercerita tentang empat "karakter" dalam menyikapi perubahan.

Dalam kehidupan, kata Ken Blanchard--kolega Johnson yang memberi kata pengantar dalam buku ini--kita memang memburu sesuatu. Sesuatu yang kita cari dalam hidup ini amat bervariasi: pekerjaan, kasih sayang, kesehatan, cinta, kebebasan, kemerdekaan, kedamaian, pengakuan, atau uang, rumah besar, mobil, untung dalam berusaha. Semua yang dicari manusia dalam kehidupan itu dimetaforakan dengan begitu indah oleh Johnson sebagai keju (cheese).

Tapi, tentu saja apa yang kita cari itu tidak selalu ada begitu saja. Kita harus bekerja untuk mendapatkannya. Setelah didapat, ternyata keju pun tak selalu ada di sana. Si keju bisa berkurang, berpindah. Persoalannya, bagaimana kita tahu apa yang kita cari itu bisa berubah dari waktu ke waktu, atau bagaimana menghadapi perubahan-perubahan itu agar kita bisa mendapatkannya kembali?

Empat karakter yang dilukiskan Johnson terdiri dari dua ekor tikus bernama "Sniff" dan "Scurry" dan dua manusia kecil bernama "Hem" dan "Haw". Keempatnya bergerak menjelajahi sebuah maze, jalan berliku yang banyak pilihan, namun beberapa di antaranya buntu sehingga mereka harus kembali lagi mencari jalan yang benar. Kalau ketemu, mereka akan bermuara pada beberapa stasiun. Keju kehidupan atau kebahagiaan yang diceritakan dalam buku ini ada pada beberapa stasiun tersebut. Tentu saja keempat karakter itu harus bergerak, mencari keju yang dimaksud.

Sniff dan Scurry, sesuai dengan namanya, adalah karakter yang selalu bergegas, bergerak menggunakan naluri dan penciumannya. Adapun Hem dan Haw adalah kiasan tentang karakter yang ragu-ragu dalam bertindak. Meski karakternya antagonis, akhirnya keempat karakter tersebut berhasil menemui keju mereka masing-masing di stasiun yang berbeda. Tapi, seperti biasa, esoknya mereka kembali ke tempat yang sama untuk menikmati keju tersebut. Demikian seterusnya dari hari ke hari, seperti manusia berangkat dan pulang bekerja menuju tempat yang sama.

Kisah ini menjadi menarik ketika Hem dan Haw tiba-tiba protes karena keju yang mereka cari tidak lagi berada di tempatnya. Mulanya mereka marah dan berteriak. Mereka tidak mencarinya di tempat lain, tapi lebih banyak berdiskusi. Mereka percaya, keju itu cuma pergi sebentar dan nanti akan ada lagi seperti semula. Yang tidak mereka sadari, perubahan sudah terjadi perlahan-lahan. Keju itu sudah mulai berkurang dari waktu ke waktu sampai akhirnya hilang. Setelah lama tidak kembali, akhirnya mereka mengalami keletihan. Pada saat itulah mereka mulai menduga jangan-jangan keju itu telah pindah ke stasiun lain. Mereka lalu mengambil palu, menjebol dinding sebelah, tapi sayang keju itu tak ada di sana.

Itulah manusia yang berpikir kompleks, yang terikat dengan pikiran-pikiran dan pengalaman-pengalaman masa lalunya. Mereka bekerja dengan menggunakan metode yang kompleks, jelimet, terlalu menggantungkan pada kemampuan otaknya, yang kadang diwarnai sudut pandang yang dianutnya.

Adapun Sniff dan Scurry adalah karakter manusia "tikus" yang berpikir sederhana. Begitu sederhananya, sehingga intuisi lebih banyak berperan. Tanpa pengetahuan, manusia akan bergerak tidak efisien, metodenya trial and error. Ia lebih banyak menggunakan penciumannya ketimbang otak atau pengetahuannya. Maka, ketika keju itu berkurang, nalurinya segera memerintahkan untuk melakukan sesuatu. Demikian pula ketika keju itu hilang, mereka tidak berpikir atau berdiskusi lebih dulu, tapi langsung mencari ke sana-ke sini.
Menariknya, mereka yang berpikir sederhana inilah yang akhirnya selamat dalam perubahan. Mereka capek, tidak efisien, tapi tidak pernah putus asa sampai akhirnya menemukan stasiun lain yang masih ada kejunya.

Pembaca, ketika rupiah kembali melemah dan menembus batas psikologis Rp 10.000 per dolar AS, tentu saja banyak pihak yang panik. Saya percaya sedikit sekali di antara kita yang bisa lolos dari persoalan ini. Keju kehidupan yang lama kita nikmati bisa menghilang tiba-tiba. Tapi, tentu saja di antara Saudara ada yang mempunyai "karakter tikus". Manusia "Hem dan Haw" sebaliknya akan menghadapi perubahan ini dengan keragu-raguan, tapi mereka tetaplah manusia.

Berpikir kompleks dan berpikir sederhana tentu saja ada di mana-mana. Tinggal Saudara mengatur berapa besar kadarnya untuk menciptakan keseimbangan dalam hidup. Kata Albert Einstein, "Everything should be made as simple as possible, but not simpler." Saya sudah lama menganut falsafah itu, sehingga dalam berceramah atau menulis, memberi pelatihan atau mengajar, saya selalu percaya bahwa topik berat harus bisa disajikan dengan sesederhana mungkin agar bisa digunakan untuk kehidupan.
 
Oleh Rhenald Kasali