Senin, November 13, 2017

Keunggulan kompetitif berbasi model bisnis



Oliver Gassmann (2015) seorang Profesor dari Universtas St.Gallen, Swiss menekankan bahwa kesuksesan perusahaan untuk bersaing dalam jangka panjang bergantung pada kemampuannya menciptakan model bisnis yang inovatif.

Sebut saja Bosowa Taksi, Bluebird, dan taksi lainnya kini kelabakan dengan hadirnya inovasi model bisnis yang dilakukan perusahaan UMKM (Usaha Mikro dan Kecil Menengah) atau disebut Start up seperti Gojek dan Grabcar.

Mereka lahir karena hasil pemikiran inovasi model bisnis canvas (BMC) yang menjawab masalah-masalah tranportasi yang tidak ditawarkan oleh si pemodal besar yang dibutuhkan oleh masyarakat (konsumen).

Tidak butuh investasi besar untuk pengadaan armada yang banyak, tidak butuh gedung dan lahan parkir luas, dan bagi konsumen akan mendapatkan harga yang pasti, tidak tidak perlu takut mekanisme argo,  pembayaran tidak ribet, dan tanpa perlu takut di bohongi rute panjang oleh sopir.

BIRD atau PT Blue Brid  Tbk diakhir kuartal III tahun 2016 mencatat penurunan laba 40% selama setahun dari Rp 12,11 milyar menjadi Rp 7,2 Milyar. Laba ini tergerus akibatnya maraknya layanan taksi online.

Jelas bahwa blue bird atau bosowa taksi saat ini kehilangan keunggulan kompetitifnya karena kehadiran model bisnis yang buat oleh taksi berbasis online yang mendapat respon positif oleh masyarakat. Untuk kembali jadi pemenang butuh perubahan model bisnis yang baru.

Oliver Gassmann dalam bukunya Business Model Navigator (2016) menekankan bahwa keunggulan kompetitif perusahaan dimasa depan tidak lagi ditentukan oleh produk atau proses yang inovatif tetapi oleh model bisnis yang inovatif.

Rhenald Kasali (guru besar Universitas Indonesia) menjelaskan fenomena ini dengan istilah sharing economy yang melahirkan kompetisi baru yang lawan-lawannya tidak kelihatan, tiba-tiba saja para incumbent kehilangan pangsa pasar, penerimaan laba berkurang tanpa kelihatan perusahaan seperti apakah itu.

Tapi fenomena itu sudah dijelaskan oleh Clayton M. Christensen seorang Profesor Bisnis dari Harvard Business School dengan istilah disruptive innovation ditahun 2000an, sehingga dia pun dinobatkan sebagai sebagai salah satu pemikir manajemen yang paling berpengaruh di dunia oleh Majalah Forbes tahun 2011.

Kata kuncinya adalah model bisnis yang inovatif, bukan lagi sekedar produk atau proses yang inovatif untuk eksis didunia bisnis ini.

Apa yang harus dilakukan ? Pengusaha harus memikirkan kembali bisnis model bila mau bertahan dalam jangka panjang sebelum perusahaan pesaing melibas kita.

Pengusaha tidak lagi menjalankan bisnis dengan berbekal pengalaman masa lalu. Buka usaha tidak lagi mengandalkan pengalaman bisnis dan kesuksesan pendahulunya atau orang tuanya. Pengetahuan bisnis mereka boleh saya katakan telah usang.

Pasar sepuluh tahun lalu sudah sangat berubah. Karakter konsumen saat ini sudah sangat berbeda. Kehadiran teknologi seperti internet, hadirnya perusahaan inovatif, mengubah peta strategi kompetisi yang ada.

Lalu bagaimana membangun perusahaan dengan model bisnis yang inovatif itu?

Para bisnis owner dituntut untuk mengemas bisnis mereka diluar main stream yang sudah ada. Konsep blue ocean strategy oleh Kim dan Mauborgne (2005) mengajarkan untuk itu. Intinya adalah jika usaha kita memiliki inovasi bisnis yang kuat, kita harus memiliki bisnis yang berkubang di samudera biru, bukan di samudera merah.

Samudera merah mewakili kondisi pasar yang sarat dengan persaingan, perang harga, produk kita terperangkap sebagai produk komoditas, margin yang tipis malah cenderung minus.

Berbeda dengan samudera biru dimana produk kita keluar dari persaingan, memiliki pasar baru, persaingan cenderung tidak relevan lagi, kita sebagai market leader, dan kondisi ini tentu saja menghasilkan laba yang besar.

Untuk itu semua harus lahir dari pola pikir yang out the box, berpikir diluar logika dominan dari bidang usaha yang telah ada. Artinya usaha kita harus memiliki keunikan yang luar biasa.

Produk yang kita miliki harus memberi solusi yang tidak ditawarkan pesaing. Produk kita memiliki nilai unggul atau value proposition yang berbeda dari pesaing.

Tetapi hal itu tidak lah cukup, tahap selanjutnya adalah membangun pola-pola rantai nilai yang efisein. Proses dan aktifitas bisnis yang jauh dari ribet dan biaya yang tinggi.

Kemampuan kita mengkordinasikan sumber daya perusahaan yang ada untuk memiliki kekuatan internal yang tidak dimiliki pesaing. Konsep resource based value harus menopang perusahaan kita.

Dan terakhir adalah mekanis laba yang jelas. Bisnis harus untung dan menghasilkan cash. Struktur biaya dan mekanisme penghasilan didesain sehingga model bisnis yang baru ini memang memiliki profit yang bisa dihandalkan perusahaan.

Perusahaan tidak dibangun dengan utang bank yang tidak jelas return on investment (ROI) nya, tidak dibangun dengan utang diatas utang dari kemudahan kredit yang ditawarkan perbankan saat ini.

Selamat berkompetisi di era gelombang inovasi ekonomi.

A.M.Nur Bau Massepe
Lecturer, Research, & Counsulting


Makassar, Agustus 2017

Tidak ada komentar: